Download versi cetak: 1239_KebaktianPagi_2025-23-Nov

Jangan Terlalu Saleh, Jangan Terlalu Fasik

Pengkhotbah 7:17-29

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Sebelum membaca firman, kita diingatkan kembali apa yang dibahas minggu lalu. Pengkhotbah menggambarkan hidup di bawah matahari sebagai hidup yang sering kali tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan rencana kita. Namun, Allah yang menetapkan setiap hari manusia, baik hari mujur maupun hari malang, dan karena itu kita tidak bisa berdebat dengan-Nya. Saat hari mujur datang, kita belajar bersyukur dan menikmati pemberian Tuhan; ketika hari malang tiba, kita diajar untuk bersikap bijaksana, melihat bahwa di balik kemalangan pun ada hal baik yang Tuhan ingin kita pelajari. Kita perlu menanti dengan sabar dan tidak tergesa-gesa mencari jalan pintas yang membuat kita berkompromi dengan dosa, tidak membiarkan emosi menguasai atau menimbun amarah, dan tidak terjebak dalam nostalgia yang membuat masa lalu tampak lebih baik dari sekarang. Kita diajak untuk datang kepada Allah yang memberi baik hari yang menyenangkan maupun hari yang sulit, dengan hati yang gentar namun tetap percaya. Ada kalanya kita menanggung konsekuensi dari kesalahan masa lalu, penyesalan karena dulu malas belajar sehingga kini hidup lebih berat, atau karena ketidaksetiaan yang membuat relasi sulit dipulihkan. Banyak penyesalan itu membuat kita berkata, “Seandainya saja saya tidak melakukan hal tersebut,” namun semuanya menjadi bagian dari perjalanan hidup yang perlu kita hadapi di hadapan Tuhan.

Ketika kita jatuh dalam kesalahan, wajar bila kita menyesal. Namun bagi orang yang percaya bahwa Allah berdaulat atas hidupnya, penyesalan itu tidak perlu menjadi penyesalan tanpa harapan. Kita mengakui bahwa kita berdosa dan bersalah, tetapi kita juga percaya bahwa Allah memegang keadaan kita saat ini dan masa depan kita. Karena itu kita tidak menghadapi hari-hari mendatang seorang diri. Yang dapat kita lakukan ialah datang kepada-Nya dengan takut dan gentar, tetap setia menjalankan kehendak-Nya, dan berpegang pada firman-Nya yang tidak pernah salah. Allah menjadikan segala sesuatu itu demi mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Dan apa pun yang terjadi, segala macam kesulitan yang terjadi, tidak ada yang bisa memisahkan orang percaya dari kasih Kristus. Dengan keyakinan inilah kita belajar menjalani hidup dengan baik ketika dunia tidak berjalan sesuai harapan.

Bagian yang akan dibaca hari ini, yaitu Pengkhotbah 7:15–29, sejak awal sangat menggoda untuk dilewati. Banyak buku, seri khotbah, dan tafsiran tentang Pengkhotbah justru menggabungkan pasal 7 hingga 9 dalam satu pembahasan karena bagian ini dianggap membingungkan, baik dari segi struktur maupun maknanya. Akibatnya, banyak pengajar memilih fokus pada tema-tema besar kitab ini daripada mengupas bagian tersebut secara khusus. Namun, jika bagian ini dilewati, bagian lain pun tidak kalah rumit. Karena itu, dengan pertolongan Tuhan dan perenungan panjang hingga menjelang subuh, bersyukur ada hal-hal menarik yang bisa dipelajari dari teks ini.


Kita mulai baca dari ayat 15 terlebih dahulu, Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini: ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya. Inilah pertanyaan besar banyak orang: mengapa hal buruk menimpa orang baik, dan mengapa orang jahat tampak hidup enak? Jika sebelumnya kitab ini menekankan bahwa hidup membingungkan karena tidak selalu sesuai rencana, baik rajin maupun malas, bijaksana maupun bodoh, semuanya tetap berakhir mati, bagian ini menunjukkan absurditas yang lebih besar lagi. Terkadang, orang yang hidup benar justru mengalami nasib yang lebih buruk daripada mereka yang licik atau jahat. Alkitab bagian lain juga menyinggung pergumulan ini, seperti dalam Mazmur 73 ketika Asaf melihat kemujuran orang fasik dan merasa sia-sia mempertahankan hidup yang bersih sementara ia sendiri terus mengalami kesusahan. Pergumulan inilah yang diangkat oleh Kohelet ketika ia berusaha memahami ketidakadilan hidup. Lalu pada ayat 16 dan 17 ia memberikan dua peringatan, dan dalam ayat 18 ia menambahkan satu nasihat.

Ayat 16 menimbulkan banyak kebingungan karena tampak seperti nasihat yang keliru: “jangan terlalu saleh” dan “jangan terlalu berhikmat.” Secara sepintas, seolah-olah Kohelet menganjurkan hidup yang duniawi sekali, padahal Yesus sendiri berkata bahwa orang percaya harus lapar dan haus akan kebenaran. Juga Perjanjian Lama menegaskan bahwa umat Allah harus kudus seperti Allah yang kudus. Perintah “jangan terlalu fasik” juga terdengar seolah kefasikan sedikit saja boleh dilakukan. Bahkan ayat 18 menambah kebingungan karena mengatakan untuk memegang keduanya, yang dapat ditafsirkan sebagai memegang sedikit kesalehan dan sedikit kejahatan. Ada pula perkataan bahwa orang yang takut Allah akan “luput dari keduanya” maupun ada terjemahan yang berkata “memperoleh keduanya.” Ini sulit diterjemahkan. Tetapi apakah sedikit saleh dan sedikit fasik itu cocok disebut takut akan Allah? Kita akan merenungkannya lebih dalam. Apa yang dikatakan di ayat 16 akan jangan terlalu saleh akan dijelaskan lebih lanjut di dalam ayat 19 sampai 24.

Ayat 19–24 dijelaskan sebagai penjabaran Kohelet tentang maksud dari nasihat “jangan terlalu saleh.” Di sini menjadi saleh dan menjadi berhikmat. Pada ayat 19, ia kembali menegaskan bahwa hikmat memiliki kekuatan besar, bahkan lebih kuat daripada sepuluh penguasa kota. Ia mengingatkan bahwa hikmat dapat menyelamatkan, seperti kisah dalam pasal 9 tentang seorang miskin yang bijaksana dan mampu menolong kotanya. Karena itu, Kohelet tetap menekankan pentingnya mencari hikmat. Namun ayat 20–22 menimbulkan pertanyaan baru, karena Kohelet juga menyatakan bahwa tidak ada orang yang benar-benar saleh. Tidak ada yang selalu berbuat baik, dan semua manusia pasti pernah berdosa. Ia memberi contoh: bila kita terlalu memperhatikan ucapan orang lain, kita pasti mendengar ada yang membicarakan kita, dan hal itu bisa membuat hati tersinggung. Tetapi kita pun harus mengingat bahwa kita juga sering melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki sisi munafik; meskipun tampak bijak atau saleh, tetap ada ketidakbenarannya.

Ayat 23–24 menjelaskan bahwa pada akhirnya tidak ada manusia yang mampu benar-benar menemukan hikmat. Kohelet sendiri berkata bahwa ia telah menguji segala sesuatu untuk memperoleh hikmat, tetapi hikmat itu tetap jauh dan sangat dalam sehingga tidak ada yang dapat menemukannya. Meskipun ia memiliki banyak hikmat, ia menyadari bahwa ia masih tidak mengerti banyak hal, dan justru kesadaran akan keterbatasan inilah tanda seseorang berhikmat. Terkadang ketika seseorang berkata bahwa ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, itu justru menunjukkan kebijaksanaan. Namun bila manusia tidak mampu memahami segala sesuatu dan tidak ada seorang pun yang benar-benar saleh atau sempurna dalam kesalehannya, timbul pertanyaan apa yang dapat menjadi harapan manusia. Dalam hal ini, ayat 17 kembali mengingatkan bahwa selain tidak menjadi terlalu saleh, seseorang juga tidak boleh menjadi terlalu fasik. Nasihat tentang kefasikan dan kebodohan inilah yang kemudian dijabarkan dalam ayat 25 sampai 29.

Ayat 25 menggambarkan betapa kerasnya Kohelet berusaha mencari hikmat serta memahami skema keseluruhan kehidupan. Mengapa begitu banyak hal aneh terjadi di dunia, mengapa yang baik bisa mengalami kejahatan, dan yang jahat justru hidup enak. Ia mencari penjelasan yang lengkap, dan ketika ia mencoba menyingkap misteri ini, ia menemukan beberapa hal yang akan dibahas kemudian. Ada 4 hal yang akan kita bahas. Salah satu temuannya adalah gambaran bahwa perempuan adalah jalan, hatinya jerat, dan tangannya adalah belenggu. Bagian ini sering menimbulkan pertanyaan karena terdengar merendahkan perempuan, terutama ketika ayat 28 menyatakan bahwa dari seribu orang, ia hanya menemukan satu laki-laki yang benar, tetapi tidak menemukan satu pun perempuan yang demikian. Walaupun laki-laki juga tidak digambarkan jauh lebih baik, tetap muncul kesan membingungkan. Hal ini menjadi pertanyaan besar karena Kohelet, yang dihubungkan dengan Salomo, juga dikenal lewat Kidung Agung yang begitu memuji keindahan perempuan.

Di dalam Amsal, Salomo menulis tentang istri yang baik dengan kualitas yang indah, tetapi di sini Kohelet mengatakan dari seribu orang, tak ada satu pun perempuan yang bijaksana. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah maksudnya termasuk 300 istri, 700 selir, dan mertua-mertuanya. Namun, di ayat 29 ditegaskan temuan utama Kohelet: Allah menjadikan manusia jujur, tetapi manusia mencari banyak dalih. Ini menjadi kunci untuk memahami seluruh bagian, termasuk saran-saran kontroversial di awal. Kohelet kembali menyinggung pertanyaan besar: mengapa orang saleh binasa dan orang fasik hidup enak? Bukankah Allah berjanji bahwa orang yang benar itu hidupnya panjang umur? Sebagai manusia kita akan tergoda bahwa solusinya adalah hidup lebih saleh demi memaksa berkat dari Tuhan. Di sinilah Kohelet mengatakan jangan terlalu saleh. Kohelet menegaskan bahwa justru kamu akan binasa karena di bumi ini tidak ada orang yang sepenuhnya saleh atau tanpa dosa.

Kohelet menegaskan bahwa tujuan hidup untuk mencapai kesalehan sempurna tidak mungkin dicapai, dan tidak ada manusia yang bisa memperpanjang hidup hanya dengan bekerja lebih keras atau hidup lebih saleh. Begitu pula, jangan terlalu bijak, karena kita tidak dapat memahami atau menjelaskan segala sesuatu dalam dunia ini dan tidak berhak membantah kedaulatan Allah. Mereka yang mengejar kesalehan atau hikmat secara berlebihan justru akan menemui kehancuran. Namun, ketika melihat orang fasik yang hidupnya mujur, muncul godaan untuk berpikir bahwa kefasikan mungkin membawa keuntungan. Kohelet menegaskan bahwa berpikir demikian dan berbuat jahat demi keuntungan pribadi adalah kebodohan. Ketika Kohelet mengatakan “jangan terlalu fasik,” ia bukan bermaksud memberi toleransi bagi sedikit kefasikan. Kohelet menekankan bahwa pada dasarnya semua orang sudah memiliki sedikit kefasikan akibat kejatuhan manusia dalam dosa. Karena itu, kita tidak perlu menambah kejahatan secara sengaja. Meskipun manusia tidak bisa sepenuhnya menghindari dosa, mereka yang dengan sadar memeluk kefasikan sebagai gaya hidup seperti menjadi penipu, penjahat, atau melakukan kejahatan secara aktif, akan menghadapi kehancuran. Orang-orang yang sengaja menjerumuskan diri dalam kejahatan cenderung mati sebelum waktunya.

Kohelet menggambarkan dua godaan yang sering muncul ketika menghadapi ketidakadilan hidup. Orang Kristen pun tidak kebal terhadap kesulitan seperti miskin, sakit, atau, kecelakaan. Dan ketika hal buruk menimpa, muncul godaan untuk berpikir bahwa Tuhan sedang menghukum kita, sehingga kita harus hidup lebih saleh. Atau sebaliknya, merasa hidup sulit sebagai orang Kristen dan kemudian meninggalkan hidup benar dan mengikuti kefasikan dunia. Nasihat Kohelet adalah: jangan terlalu saleh dan jangan terlalu fasik. Janganlah mencoba membeli berkat Tuhan dengan kesalehan, dan sadari bahwa setiap manusia tidak sempurna. Cara hidup yang benar adalah hidup takut akan Allah, menyadari bahwa Dia yang menentukan hari-hari manusia, baik yang mujur maupun malang. Tuhan menciptakan manusia baik, tetapi dosa manusia membawa akibat buruk. Yang dapat kita lakukan adalah mengakui ketidaksempurnaan diri, dan tetap belajar hidup benar meski harus menanggung berbagai kesulitan di dunia ini.

Ayat 25–28 membahas usaha Kohelet untuk menemukan skema atau kesimpulan dari segala sesuatu, dan ia menemukan empat hal yang penting. Di ayat 26, ia menyebut sesuatu yang lebih pahit daripada kematian, yaitu perempuan yang seperti jala perangkap. Gambaran ini sebaiknya tidak diterapkan langsung pada istri atau pasangan, melainkan dipahami dalam konteks kitab Amsal, yang menggambarkan dua tipe wanita, yang bijak dan yang bodoh. Misalnya di dalam Amsal 7 dan 9, wanita bodoh digambarkan sebagai penggoda yang merayu orang muda hingga terjerumus, seperti binatang buruan yang terperangkap, atau burung yang tak sadar mendekati jebakan. Kohelet menunjukkan bahwa kefasikan dapat begitu menggoda, mulai dari hal kecil dan sepele, hingga menjerumuskan manusia dalam bahaya besar. Contohnya, dari hal yang tampak ringan seperti main untuk senang di kasino, menonton hiburan yang ada nuansa pornografinya, bohong di kantor, mencuri sedikit uang sampai akhirnya kita kehilangan kendali atas diri kita sendiri.

Kohelet menemukan bahwa dalam dunia ini ada godaan yang sangat kuat dari kebodohan; dari seribu orang yang ia amati, semuanya penuh godaan. Ayat 27 menunjukkan bahwa meskipun ia mencoba menyatukan semua potongan dan memahami skema kehidupan, ia tetap tidak menemukan jawaban mengapa hal buruk menimpa orang baik dan orang jahat justru hidup mujur. Temuan berikutnya adalah bahwa tidak ada satu orang pun yang benar; dari seribu orang, hanya satu laki-laki yang benar. Gambaran ini sangat jarang terjadi, dan mungkin mengacu pada kisah Lot dari Sodom dan Gomora, di mana hanya Lot yang dianggap benar, sementara keluarganya tidak sepenuhnya benar, dan Lot sendiri pun tidak sempurna.

Penemuan keempat Kohelet merupakan yang paling penting yaitu bahwa Allah menjadikan manusia itu jujur, tapi mereka sendiri yang mencari banyak skema di dalam hidupnya yang di luar Tuhan. Seperti Adam dan Hawa yang mencari hikmat dari buah pengetahuan, manusia ingin mengendalikan masa depan dan membangun nama bagi diri sendiri, menggunakan bakat dan talenta yang diberikan Allah. Akibatnya, kecenderungan hati manusia selalu membawa kejahatan, sehingga Allah menimpakan hukuman atas dosa-dosa mereka, seperti dalam peristiwa banjir besar. Penderitaan dan kesengsaraan manusia bukanlah kesalahan Allah, melainkan akibat manusia yang mencari-cari jalan sendiri di luar kehendak-Nya. Manusia diciptakan baik, tetapi tindakan mereka yang menyimpang menimbulkan segala sakit, sengsara, dan kematian.

Sebagai penutup, Kohelet mengingatkan bahwa hidup di dunia yang kadang tidak masuk akal ini menuntut keseimbangan: jangan meninggalkan kehidupan Kristen dengan berpikir “lebih baik hidup dalam kefasikan,” tetapi juga jangan bersandar sepenuhnya pada kesalehan diri sendiri, karena kebaikan manusia bukan jaminan berkat. Pertanyaan mengapa hal buruk menimpa orang baik bukanlah masalah utama, karena Kohelet menegaskan bahwa tidak ada orang yang benar-benar baik. Masalah yang lebih membingungkan adalah mengapa orang jahat kadang mengalami kebaikan. R.C. Sproul menekankan bahwa satu-satunya yang benar-benar baik dan mengalami ketidakadilan secara sempurna adalah Kristus di kayu salib, yang mengalaminya dengan sukarela. Semua manusia seharusnya menghadapi kemalangan, namun karena Kristus, kita diberikan kesempatan untuk belajar hidup takut akan Tuhan. Dari kesempatan itulah kita belajar untuk hidup seimbang—tidak terlalu saleh dan tidak terlalu fasik.

Tuhan Yesus mengajarkan dua hal ini melalui kisah Anak yang Hilang. Ada dua bersaudara yang sama-sama ingin menikmati harta bapaknya, tetapi tidak ada yang benar-benar mengasihi bapaknya. Keduanya hanya mengejar keuntungan sendiri dengan cara berbeda. Yang satu memberontak, meminta warisan lebih awal, meninggalkan bapaknya, dan hidup dalam kefasikan hingga jatuh pada kehancuran. Namun akhirnya ia menyesal, kembali kepada bapaknya, yang menyambutnya dengan kasih, memberi jubah, cincin, dan pesta. Sementara kakaknya, yang taat dan rajin menjalani hidup religius, merasa iri dan mempertanyakan keadilan bapaknya. Kedua anak itu, meskipun dengan cara berbeda, sama-sama terhilang karena tidak benar-benar mengasihi bapaknya, hanya mengejar keuntungan sendiri.

Hari ini kita diajak belajar menjalani hidup dengan cara berbeda. Berserah kepada Allah dan mengasihi Dia sebagaimana adanya, karena Dia lebih dulu mengasihi kita tanpa syarat. Meski kita penuh kelemahan dan kefasikan, Tuhan tetap menerima kita melalui Kristus, satu-satunya yang benar dan sempurna. Karena itu kita datang kepada-Nya bukan dengan kesalehan berlebih, tetapi dengan kerendahan hati, menyadari bahwa penerimaan-Nya bergantung pada karya Kristus.

Kesadaran ini juga menimbulkan kegentaran sehingga kita tidak berani bermain-main dengan dosa. Kita tidak berkata, “Dosaku sudah diampuni, jadi aku bisa hidup sesuka hati seperti anak bungsu,” sebab sikap seperti itu berarti kita tidak mengasihi Bapa. Kita belajar berkata bahwa kita tidak ingin melakukan apa pun yang menempatkan sahabat baik kita di kayu salib. Segala dosa kita dahulu sudah membuat-Nya harus menanggung beban itu, dan karena kasih kita kepada-Nya, kita tidak ingin menambahinya lagi. Dari sinilah lahir kerinduan untuk hidup suci dan menjadikannya semangat hidup kita.