Download versi cetak: 1254_1427_KebaktianPagiSore_2026-8-Mar

Allah, Tempat Perlindungan dan Kekuatan Kita

Mazmur 46

Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Hari-hari ini kita dikelilingi oleh berita-berita yang menggetarkan hati kita. Ada kesulitan ekonomi yang begitu dekat dengan hidup kita. Ada peperangan yang kita tidak tahu kapan ujungnya. Dan tiap-tiap hari kita dikepung oleh berita yang bukan kabar baik, tetapi kabar buruk. Kita merindukan jikalau kita boleh diteguhkan oleh Tuhan dengan kabar yang lebih baik. Itu sebabnya saya ingin ajak kita sekali lagi mengeksplorasi janji Tuhan kepada kita, untuk menemukan penghiburan yang kokoh dari Tuhan.

Saya ingin mulai dengan sebuah cerita kecil. Suatu sore jelang musim semi pada 26 April 1937, sejarah mencatat sebuah peristiwa perang yang paling mengerikan terhadap masyarakat sipil yang tidak bersenjata. Ini terjadi di sebuah kota kecil dari masyarakat Basque, yaitu kota Guernica, di provinsi Biscay, Spanyol. Kota ini menjadi korban penyerangan masyarakat sipil yang paling kejam dan tidak terduga dari pasukan udara Jerman-Italia. Peristiwa penghancuran kota ini bahkan menarik perhatian pelukis Pablo Picasso. Picasso mengabadikan simbol mahalnya sebuah peperangan dalam lukisannya yang juga diberi nama Guernica.

Siang itu, 26 April 1937, kota kecil Guernica siap-siap mulai membuka pasar, yang hanya dibuka seminggu sekali. Para petani mulai berdatangan dengan hasil pertanian dan hasil peternakan mereka untuk berjualan. Anak-anak kecil dengan riang gembira bermain di alun-alun pasar itu. Suara lonceng terdengar dari gereja Katolik Santa Maria, yang terletak tidak berapa jauh dari pasar itu. Berabad-abad lamanya Guernica menjadi simbol identitas masyarakat Basque dan tradisi demokrasi. Tempat di mana pemimpinnya bersumpah untuk menegakkan keadilan dan melindungi orang-orang lemah.

Sore itu, beberapa saat setelah jam 4:30, tiba-tiba muncul gelombang pertama pesawat tempur Jerman di atas Guernica. Apa yang terjadi adalah suatu tindakan kekejaman paling keji yang tercatat pada abad ke-20. Lebih dari 3 jam kemudian, pasukan angkatan udara Jerman Luftwaffe’s Condor Legion dan Italia Aviazione Legionaria, telah melakukan kampanye pengeboman yang terkoordinasi. Bom berdaya ledak tinggi telah meluluhlantakkan semua bangunan hingga hancur berkeping-keping. Bom yang meledak telah memicu kebakaran hebat, membakar rumah penduduk dari kayu. Warga sipil yang melarikan diri dari alun-alun pasar menemukan diri mereka terjebak di antara puing bangunan dan reruntuhan yang terbakar.

Para ahli sejarah kemudian bersepakat menyimpulkan bahwa sebetulnya Guernica bukan sasaran militer yang punya signifikansi penting, namun penyerangan itu memang telah dirancang dengan sengaja untuk melakukan uji coba taktik perang udara baru: menyerang masyarakat sipil dengan sengaja untuk menghancurkan mental dan moral perang dari musuh. Sebuah strategi perang yang menjadi penentu dari jalannya Perang Dunia II.

Setelah kejadian tersebut berlangsung, orang-orang yang selamat berkumpul di reruntuhan alun-alun pusat kota itu. Mereka kehilangan orientasi, penuh kesedihan dan duka yang sangat mendalam. Sebagian orang tiba-tiba kehilangan pendengaran, sebagian kehilangan kemampuan melihat, sebagian lumpuh, sebagian mengalami luka bakar yang sangat mengerikan. Di tengah kekacauan, keluarga-keluarga mencari orang terkasih mereka. Para rohaniwan bergerak tenang menolong korban luka. Di antara para rohaniwan yang menolong itu, salah satunya adalah seorang pastor Katolik Roma bernama Alberto Onaindía Zuloaga, yang kemudian bersaksi bahwa ia berdiri di samping sisa pohon ek yang terbakar, tempat dahulu para pemimpin kota mengucapkan sumpah mereka. Asap masih mengepul dari reruntuhan itu. Pastor itu membuka Alkitab dan membacanya dengan suara keras dari reruntuhan itu. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah…” Bagi orang-orang Basque, kalimat ini bukan hanya kata-kata kiasan yang puitis. Bumi memang berubah secara harfiah. Rumah-rumah mereka hancur, komunitas mereka tercerai-berai. Dunia mereka berubah total seketika hanya di dalam beberapa jam jelang matahari terbenam. Saudara bisa bayangkan situasi yang tak pernah diduga? Di dalam rutinitas hidup yang berjalan seperti biasa, tetapi tiba-tiba diinterupsi sebuah peristiwa yang mengubah segalanya dalam hidup kita—perang. Namun pada saat itu, di tengah kepulan asap, keheningan, dan duka yang mendalam, kalimat dari pemazmur mewartakan penghiburan dan kekuatan yang sangat dahsyat bagi orang-orang Basque. Suatu kekuatan yang tidak mungkin dihancurkan oleh bom sekalipun, bahwa Tuhan Allah tidak meninggalkan mereka. Hari itu memang tidak ada alasan mereka bisa berpengharapan. Harapan seolah-olah sudah dikalahkan oleh kehancuran dan kekejaman perang. Namun harapan tetap menyala di hati orang-orang Basque dengan kobaran kecil yang gigih layaknya sebuah lilin yang menyala di tengah badai.

Kisah ini adalah simbol mahalnya perang bagi hidup manusia. Saya percaya kisah ini juga masih bicara bagi kegelisahan kita di hari-hari ini, terutama bagi kita yang gelisah karena konflik geopolitik global pada hari tak menentu ini. Pengharapan bukan berarti menyangkali adanya hal-hal mengerikan. Pengharapan juga tidak menghapuskan ketakutan kita. Kita sadar, ada Tuhan Allah, sekalipun dunia ini tak lagi sama sebagaimana biasanya. Dengan demikian kita akan berpaling pada Kitab Suci.

Sekarang saya ajak kita menyelam lebih dalam ke Mazmur 46 ini. Mazmur 46 adalah sebuah liturgi untuk menolong kita berespons terhadap situasi geopolitik yang tidak stabil saat ini, di mana bangsa melawan bangsa hingga stabilitas ciptaan itu sendiri sedang terancam. Secara konteks, para penafsir Perjanjian Lama cenderung menempatkan mazmur ini dalam konteks krisis besar, di mana Asyur akan segera menyerang Israel pada 701 SM, dan Yerusalem menghadapi bahaya ancaman besar akan dimusnahkan seluruhnya. Oleh sebab itu, kita akan memperhatikan beberapa aspek. Pertama, kita lihat struktur bahasanya. Kedua, kita akan perhatikan gema dari aspek kanonikalnya. Kemudian, latar belakang kebudayaan Timur Dekat. Kemudian, terminologi teologis yang disampaikan mazmur ini.

Berkenaan dengan strukturnya, saya sebut Mazmur 46 sebagai drama liturgi dari iman yang penuh keberanian. Seluruh mazmur ini dibagi ke dalam tiga bait. Masing-masing bait diakhiri dengan pengulangan kalimat iman akan janji Allah: Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Ayat 1-3 adalah gambaran kekacauan dunia ini, bahkan hingga secara kosmik. Ayat 4-7 adalah janji kehadiran yang Ilahi dalam kota itu. Ayat 8-11 adalah realitas kedaulatan Allah terhadap bangsa-bangsa. Secara hermeneutika, tiga bagian ini memberikan gerakan yang signifikan, yaitu suatu pengharapan dari kekacauan menuju kehadiran Allah, hingga tiba pada damai sejahtera Allah pada akhirnya (from chaos to presence, from presence to peace). Inilah yang dapat kita sebut sebagai liturgi perjalanan iman, proses yang perlu kita lewati, yang pada akhirnya membawa kita kepada damai sejahtera di dalam iman.

Kedua, ada suatu tata bahasa Ibrani yang menarik. Perhatikan kalimat pembuka yang begitu sarat makna mendalam tentang janji: Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Kata “tempat perlindungan” (Ibrani: ma-ă-seh), bukan mengacu pada suatu tempat berteduh sementara, seperti shelter ketika hujan, melainkan merujuk pada tempat yang aman dan permanen, layaknya kita dikelilingi suatu benteng yang kokoh. Inilah Allah bagi kita. Digunakan berulang kali dalam Kitab Ulangan dan Mazmur, kata ini melukiskan pemeliharaan dan perlindungan Allah akan umat-Nya dari bahaya musuh, dari bahaya alam, dan semua ancaman yang membahayakan keberadaan kita. Dengan demikian, perlindungan kita bukan terletak pada tempatnya, tetapi kepada aspek relasinya. Allah sebagai tempat perlindungan juga bukan sekadar tempat bersembunyi, tetapi Ia juga secara aktif terlibat untuk melindungi kita. Ini luar biasa indahnya.

Allah juga adalah kekuatan bagi kita. Kata “kekuatan” (Ibrani: wā-‘ōz) bukanlah sekadar suatu kekuatan yang bisa kita hasilkan melalui latihan badani ataupun kekuatan batin dari dalam diri kita sendiri, melainkan adalah kekuatan yang kita peroleh dari pemberian dan pemberdayaan yang Ilahi. Jadi Allah adalah tempat perlindungan kita yang secara aktif memelihara kita dan sekaligus memberikan kita kekuatan, memberdayakan kita untuk menjadi kuat. Ini sebuah janji yang luar biasa bagi kita. Dilanjutkan kemudian, “sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti”. Allah adalah sumber pertolongan yang sungguh-sungguh nyata, bisa ditemukan, dan bisa dialami. Allah itu senantiasa bersiap dan bersedia bagi kita. Demikianlah Allah bagi umat Israel, dan juga bagi kita. Allah yang dapat dengan mudah kita temukan setiap waktu. Di saat-saat hidup kita sedang berjalan di dalam krisis, siapa yang kita cari pertama? Siapa yang kemudian available untuk kita? Harus kita ingat, ada satu nama yaitu Allah kita. Nah, penting dicatat di sini bahwa pemazmur tidak menjanjikan tidak adanya kesulitan dalam kehidupan umat Tuhan, tetapi pemazmur menjanjikan kehadiran Allah di setiap kesulitan yang akan dihadapi oleh umat Tuhan, di setiap pengalaman kita, di setiap bahaya yang kita hadapi, di setiap kekhawatiran kita, di setiap situasi yang sepertinya out of control. Allah hadir di situ bersama dengan kita. Ini sebuah janji yang luar biasa dan pasti, yang tidak bisa dijanjikan oleh kepercayaan yang lain.

Ketiga, gambaran tentang kehancuran dunia. Ayat 2-3 menggambarkan dunia yang sangat menakutkan. Ada gunung yang terguncang, air yang ribut dan berbuih, bumi yang bergeser dan berubah. Ini bukan sekadar gambaran puitis tentang alam semesta yang sedang menghadapi bencana alam, tetapi juga termasuk situasi perang yang berakibat kepada alam semesta. Tetapi ini juga menggambarkan tatanan (order) ciptaan yang sudah terbalik. Di dalam Kejadian 1:6 dan 9, Allah menata air dengan keteraturan. Tetapi di dalam Mazmur 46, air menjadi ribut dan berbuih, mengacaukan keteraturan dari ciptaan. Setelah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3, bencana alam mulai ada, perang mulai muncul, dan dunia tidak pernah sama lagi. Melalui ayat ini, pemazmur hendak memperlihatkan kepada kita bahwa sekarang kita hidup dalam tatanan ciptaan yang sudah terbalik. Yang baik, sekarang sudah menjadi tidak baik. Namun sekalipun tatanan ciptaan itu mengalami kerusakan, Allah tetap Allah. Itu kabar baiknya. Itulah sebabnya kita tidak perlu menjadi takut. Kita tidak takut bukan karena kita ditopang oleh suatu tatanan dunia yang aman, stabil, dan tidak berubah, tetapi sekalipun dunia berubah—bencana alam dan peperangan masih ada—kita tidak menjadi takut karena kita ditopang oleh Allah yang jauh lebih stabil dari dunia.

Keempat, pemazmur menggambarkan kepada kita polemik melawan ilah dari bangsa-bangsa. Di dalam tradisi masyarakat Timur Dekat (Ancient Near East), bangsa-bangsa mempunyai kepercayaan bahwa dewa mereka adalah penjamin stabilitas kosmik bagi mereka. Gempa bumi, banjir, atau invasi dari musuh sering ditafsirkan sebagai kemarahan atau kegagalan dari yang Ilahi. Mazmur 46 melakukan pembalikan atas kepercayaan seperti itu. Allah Israel tidak ditaklukkan oleh kekacauan, melainkan Allah Israel memerintah dan menaklukkan kekacauan. Pemazmur dengan tegas berkata, “Hanya Yahweh semata-mata yang berdaulat, yang berkuasa atas sejarah dan ciptaan.”

Kelima, kekacauan politik sebagai krisis teologi. Ayat ke-6 mempergunakan kata kerja yang sama untuk kata ribut atau marah (Ibrani: hā·mū) untuk melukiskan bangsa-bangsa yang marah, kerajaan-kerajaan yang berguncang. Kekacauan politik hanya sekadar refleksi dari kekacauan kosmik setelah kejatuhan manusia di dalam dosa. Namun demikian, pemazmur menegaskan bahwa geopolitik yang tidak stabil itu tidak berada di luar kuasa kedaulatan Allah. Itu sebabnya pemazmur mengulangi lagi: kita tidak perlu menjadi takut karena Tuhan semesta alam menyertai kita.

Keenam, ayat ke-10 sangat menarik. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Ayat ini sering kali dibaca secara keliru sebagai ayat devosi. Kita sering kali membacanya sebagai perintah Tuhan kepada kita untuk tenang, untuk diam, untuk kita tahu bahwa Allah itu beserta dengan kita. Kita pikir ini devosi untuk menghayati akan kehadiran Allah yang menyertai kita supaya kita diam dan kita tenang. Tetapi sesungguhnya ayat ini adalah kalimat teguran kepada bangsa-bangsa yang menganggap dirinya bisa bertindak segala sesuatu di luar kontrol Tuhan Allah. “Diamlah” (Ibrani: har·pū) secara harfiah berarti “berhentilah berjuang, jatuhkanlah senjatamu, hentikanlah peperanganmu”. Teguran ini ditujukan kepada bangsa-bangsa yang ribut tadi. Allah sedang menyampaikan perintah-Nya kepada penguasa dunia untuk melakukan gencatan senjata. Suatu pengharapan eskatologis bahwa pada akhirnya Allah akan menghentikan semua peperangan. Semua perang itu ada batasnya, berapa pun panjang akan ada limitnya suatu hari. Jikalau ada perang yang masih belum selesai, itu berarti toleransi Tuhan masih ada di situ. Ada yang mau Tuhan lakukan dengan mengizinkan perang itu terjadi. Tetapi ketika tiba waktu Tuhan, Tuhan menghentikan perang, tidak ada satu pun manusia yang bisa bertindak mengikuti kemauan sendiri. Berapa pun besarnya kuasa orang yang berperang, tidak mungkin dia bisa bertindak di luar batas yang sudah Tuhan tetapkan. Itulah sebabnya di dalam situasi geopolitik yang tidak stabil ini, di satu sisi kita memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekitar hidup kita, tetapi di sisi yang lain kita juga memperhatikan kedaulatan dan kuasa Allah yang melampaui kuasa manusia.

Pada akhirnya Allah akan menghentikan semua peperangan, bukan melalui negosiasi dengan bangsa-bangsa, melainkan Allah akan intervensi dengan kuasa Ilahi-Nya ke atas bangsa-bangsa. Sebagaimana dicatat di dalam Perjanjian Lama, Allah intervensi secara langsung di dalam kehidupan bangsa-bangsa, atas Babel, Asyur, dan Mesir yang dianggap superpower pada masa itu. Akhirnya umat Tuhan dibebaskan dan umat Tuhan tetap menggenapkan seluruh rencana Tuhan. Itulah sebabnya ketika Tuhan mengatakan, “Diamlah dan ketahuilah, Akulah Allah,” selain ini adalah teguran kepada bangsa-bangsa, bagi umat Tuhan ini juga adalah sebuah undangan. Undangan untuk kita berhenti dari segala bentuk kecemasan kita. Berhentilah bergantung kepada diri kita sendiri dan dunia secara berlebihan. “Ketahuilah, Akulah Tuhan Allahmu!”

Saya tidak tahu berapa banyak dari kita mengalami betul Allah secara pribadi. Masih ingatkah kita akan pengalaman kasih karunia Tuhan yang begitu dekat dan begitu personal ke dalam hidup kita? Dan mengalami bahwa Tuhan itu dekat dengan kita dan Dia hidup menyertai kita. Kita perlu bersyukur ketika Tuhan izinkan ada krisis dalam hidup kita. Itulah saatnya Tuhan mengizinkan kita mengalami, “Akulah Tuhan Allahmu, dan Aku hidup, dan Aku tidak mengabaikan dan meninggalkan engkau.” Ini semua adalah kasih karunia Tuhan.

Ketujuh, identitas kita sebagai umat perjanjian Allah adalah jangkar dari seluruh pengharapan kita. Di ayat ke-11 muncul dua istilah dari nama dan karakter Allah. Nama yang pertama, “Allah semesta alam” (Ibrani: Yah·weh ə·ā·’ō·w) menyatakan kuasa dan kedaulatan yang bersifat kosmik, yang melampaui seluruh alam semesta. Kalau kita bisa membayangkan berapa besar alam semesta ini, maka kita baru bisa mengerti berapa besar kuasa kedaulatan Allah yang melampauinya. Nama yang kedua, “Allah Yakub”. Kenapa muncul nama Yakub di sini? Untuk menyatakan adanya relasi perjanjian yang intim antara Allah dan umat-Nya. Allah mengikat perjanjian dengan kita secara personal. Allah melihat kita sebagai satu pribadi milik-Nya. Bayangkan waktu Saudara jatuh cinta. Ketika engkau baru mengatakan, “Ya, aku mau jadi pacarmu,” maka itu adalah sebuah komitmen personal dan tidak bisa ada ruang untuk yang lain lagi. Kamu memberi diri untuk dia dan dia juga memberi dirinya kepada kamu. Relasi personal semacam inilah yang Allah juga nyatakan kepada kita. Allah menyatakan perjanjian-Nya kepada kita dan Dia mengikat diri-Nya dengan kita. Allah tidak pernah akan ubah janji-Nya pada kita. “Allah Yakub” menyatakan relasi perjanjian yang intim dan sangat personal antara Allah dan umat-Nya.

Maka perpaduan dua nama dan karakter Allah ini mempunyai implikasi dan makna yang sangat mendalam. Allah yang berdaulat, yang memerintah dan melampaui alam semesta itu mengikat perjanjian dengan kita dan memberikan diri-Nya secara pribadi kepada kita. Itulah sebabnya pengharapan bagi Israel dan umat Allah bukan di dalam persekutuan aliansi militer yang kuat, bukan pula dalam geopolitik yang stabil, juga bukan pada kuasa ekonomi yang tidak terguncangkan, melainkan ada di dalam kehadiran perjanjian Allah.

Kembali lagi kepada Guernica, api masih belum mati, asap masih mengepul di udara, seluruh kota berserakan dengan puing-puing. Namun orang-orang percaya yang selamat berkumpul, mereka berdoa, mereka berpegangan tangan satu dengan yang lain sambil mendengarkan penghiburan dari Tuhan. Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan. Memang pengharapan tidak menggelagar di hari itu. Tetapi dia berkedip-kedip laksana lilin yang menyala, menolak untuk padam. Demikian pula di dalam Mazmur 46 ini, ada sungai yang mengalir di bawah kekacauan. Paulus, di dalam Roma 8, memberikan pengharapan bahwa ada Roh Allah yang menyertai kita di dalam semua pengalaman penderitaan kita.

Walter Brueggemann mengatakan kalimat demikian, “Pengharapan yang alkitabiah adalah menolak menerima dunia sebagaimana adanya hari ini oleh karena Tuhan Allah telah menjanjikan bagi kita sebuah dunia yang akan datang.” Pengharapan adalah kehidupan di masa mendatang bersama dengan Tuhan yang menerobos ke dalam masa kini melalui kebangkitan Kristus. Artinya di dalam kebangkitan Kristus, kita sudah mempunyai pengharapan yang kokoh. Pengharapan bukanlah sebuah gagasan kosong yang naif, bukan pula rasa sentimental atau sebuah bentuk penyangkalan yang melarikan diri dari kenyataan. Pengharapan adalah sebuah keyakinan yang kokoh. Allah adalah Allah, sekalipun dunia ini sedang berubah. Pengharapan adalah sebuah lilin yang menolak padam. Pengharapan adalah sungai yang menolak menjadi kering. Pengharapan adalah Kristus yang telah mengalahkan dunia. Pengharapan adalah gereja, komunitas orang percaya, yang mungkin lemah dan rentan, namun telah dipersatukan di dalam Kristus untuk berkelanjutan terus membawa kabar baik, Injil Yesus Kristus, hingga satu hari kelak, ketika semua peperangan berhenti, saat Kristus datang kembali. Kiranya kita menjadi umat Tuhan yang menghidupi pengharapan di dalam Kristus sampai Ia datang kembali. Di tengah-tengah situasi kekacauan dan ketakutan, Saudara dan saya dipanggil Tuhan menjadi cahaya pengharapan, yang memberi pengharapan kepada manusia dengan membawa cahaya Injil, di mana tidak ada kegelapan dapat menguasainya. Kiranya Tuhan memberkati kita dan memakai kita menjadi alat di tangan-Nya. Amin.

Close
Close Search Window