Download versi cetak: 1439_KebaktianSore_2026_31-May_STong

Panggilan Tuhan Kepada Daud (15)

Pdt. Dr. Stephen Tong

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Hari ini kita akan melanjutkan membicarakan tentang hari-hari terakhir daripada Daud. Kita sudah membicarakan tentang 10 krisis besar dalam hidup manusia. Sepuluh krisis besar manusia itu dasarnya adalah Mazmur 23 yang ditulis oleh Daud. Mazmur 23 adalah 10 krisis hidup manusia yang paling agung, yang pernah ditulis oleh Daud. Mazmur ini lebih awal dari kitab suci agama Buddha. Mazmur 23 juga lebih tua daripada kitab suci agama Hindu (Upanishads). Pemikiran daripada orang-orang Tionghoa, dari pada Konghucu yang disebut sebagai Analects itu ditulis 2500 tahun yang lalu. Tetapi Mazmur 23 ini ditulis 3000 tahun yang lalu. Ada sebagian orang Kristen, mereka selain menghormati dan menjunjung Alkitab, mereka juga kagum kepada kitab-kitab suci agama-agama yang lain. Tetapi saya katakan bahwa kitab suci daripada agama-agama yang lain ini semua jauh dari lambat ratusan tahun daripada Mazmur 23. Bukan saja demikian, di Tiongkok ada satu dinasti yang 1500 tahun yang lalu, dinasti ini berlangsung selama 200 tahun dan muncullah banyak sekali penyair Li Bai, Du Fu, Bai Juyi, Du Mu, Wang Wei dan masih banyak lagi penyair yang agung yang lain. Orang-orang Tiongkok itu merangkumkan syair yang digubah dari dinasti Tang  ada 300 syair, tetapi syair-syair ini lebih lambat 1500 tahun daripada Mazmur 23 yang ditulis dari Daud. Bukan hanya itu, Mazmur 23 daripada Daud ini juga lebih awal ribuan tahun daripada syair yang digubah dari penyair yang agung dari Inggris seperti John Milton dan Shakespeare. Hendaklah orang-orang Kristen melakukan penelitian sedemikian rupa seksamanya, bahwa kebenaran yang Tuhan berikan kepada kita itu melampaui semua pengertian pengetahuan yang ada di dunia.

Mazmur 23 mengatakan Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku. Demi namanya Ia menuntun aku ke jalan yang benar. Sekalipun aku menempuh jalan kekelaman, aku tidak takut bahaya. Beberapa ayat ini telah mengungkapkan tentang 5 krisis yang besar yang manusia hadapi, kemiskinan, keletihan, ketertiduran, jalan salah/menyimpang dan menghadapi jalan kematian. Lima krisis yang besar ini adalah krisis yang sering terjadi setiap hari dan yang paling ditakuti oleh manusia. Kita takut miskin, kita takut menjadi letih, kita takut tidak mempunyai istirahat, kita takut kita salah jalan, kita takut kerohanian kita tertidur, kita takut kematian. Selain daripada ini ada kesendirian, tidak mempunyai penghiburan, seumur hidup tidak ada cinta kasih yang mengiringi kita dan terakhir kita tidak memiliki masa depan, kita tidak memiliki tempat tujuan yang kekal. Krisis yang besar ke enam sampai yang ke sepuluh juga diambil dari Mazmur 23. Sekarang saudara bisa melihat betapa agungnya Mazmur 23 karena dia menemukan bahwa tidak ada krisis apapun yang tidak bisa diselesaikan oleh Tuhan. Hal-hal yang tersulit sekalipun kita hadapi dalam dunia ini, Mazmur 23 mengatakan bahwa di hadapan Tuhan kita mendapatkan penyelesaiannya. Hari ini banyak sekali orang ketika mereka menempuh, mencapai kepada akhir hayat hidup mereka, mereka menemukan tidak tahu harus ke mana. Maka hidup mereka menjadi gagal, sudah dapat banyak keuntungan, tapi tidak bisa dibawa pergi. Seberapa muliapun dia dapatkan di dalam dunia tidak berada untuk selamanya.

Mohon tanya Suharto yang begitu kaya di manakah dia sekarang? Mohon tanya Lim Sioe Liong yang pernah menjadi orang terkaya di Indonesia, siapakah dia? Lim Sioe Liong di manakah dia? Dia sudah di kuburan. Bagaimanakah dengan bangunan mereka? Diambil oleh orang lain. Rumah Lim Sioe Liong yang di daerah Kemayoran, dekat dengan gereja kita. Suatu hari ketika banyak orang masuk ke rumahnya dan membakar habis rumahnya, waktu itu dia melarikan diri sampai ke Singapura dan tidak kembali ke Indonesia. Sekarang Lim Sioe Liong sudah meninggal. Di Indonesia ada Mochtar Riady, Suryajaya, Eka Cipta, beberapa orang ini pernah mendengarkan khotbah saya. Masih banyak sekali orang-orang yang sangat kaya, mereka pernah mendengarkan khotbah saya. Tetapi Lim Sioe Liong sendiri yang tidak pernah mendengarkan kotbah saya. Suatu kali ketika temennya merayakan ulang tahun mengundang dia, tetapi tiba di sana ia hanya mengucapkan selamat ulang tahun dan tidak mendengarkan saya berkhotbah. Orang-orang kaya satu persatu meninggal. Ke manakah mereka semua pergi? Mereka tidak tahu. Tetapi Daud mengatakan, “Aku akan tinggal di dalam rumah Tuhan sampai selama-lamanya.” Krisis yang ke-10 tidak ada tempat tujuan, tetapi Daud mengatakan untuk selama-lamanya dia tinggal di dalam rumah Tuhan. Lalu bagaimanakah dia atasi 10 krisis besar ini? Bersandar kepada uangkah? Uang tidak bisa mengatasi. Bersandar kepada kekuasaan diri? Tidak bisa. Bersandar kepada nama baikmu? Nama baik idak bisa menyelesaikannya. Rumahmu yang besar, kedudukanmu yang tinggi juga tidak bisa mengatasi semuanya. Sepuluh krisis yang besar hanya bisa diselesaikan di dalam kasih Tuhan yang besar.

Setelah selesai membaca Mazmur 23, maka hidupmu di dalam Kristus bukanlah tidak bermakna. Hidup manusia dalam anugerah Tuhan bukanlah tanpa pengharapan. Dari kemiskinan kita sampai ketersendirian kita, sampai ketertiduran kita, sampai ketersesatan kita, sampai kematian kita, sampai ketika kita menghadapi musuh, sampai pada tempat tujuan kita setelah mati, Daud mengatakan di dalam Tuhan kita mendapatkan penyelesaian. Hikmat yang saudara dapatkan di dalam Alkitab melampaui semua pengharapan melalui filsafat, maupun kebudayaan yang bisa didatangkan oleh manusia.

Kita bersyukur kepada Tuhan. Sekarang mohon saudara memperhatikan satu hal yang tidak pernah ditulis oleh buku sejarah manapun di dalam dunia. Apakah penemuan yang terbesar di dalam Mazmur 23 ini? Yaitu tentang relasi atau hubungan. Berkenaan dengan relasi di dalam sejarah filsafat dunia ini jarang sekali diangkat untuk dibahas oleh siapapun. Aristotle tidak mengatakan, Socrates tidak mengatakan, Plato tidak mengatakan, Khan tidak mengatakan, Rene Descartes tidak mengatakan. Saya mengatakan masalah relasi hubungan ini juga tidak disampaikan oleh Søren Kierkegard, dia juga tidak mengatakannya. Lalu kapankah manusia mulai perhatikan tentang hubungan atau relasi ini? Kira-kira 100 tahun yang lalu ada seseorang yang mulai memperhatikan tentang hubungan atau relasi ini. Orang ini bukan orang Jerman, bukan orang Inggris ataupun bukan Amerika. Orang ini adalah seorang profesor di universitas Ibrani. Seorang ini ketika dia lanjut usia dia menulis satu buku yang tidak sampai 100 halaman. Dan judul daripada buku itu hanya ada 3 kata, kata apakah ini? Aku dan Engkau. Buku ini judulnya hanya ada 3 kata, “Aku dan Engkau”. Dan setelah buku ini diterbitkan, langsung mengguncangkan filsafat dunia. Rupanya dia sedang membicarakan tentang satu hubungan antar kepribadian yang sangat penting. Dari Socrates dampai Kierkegaard tidak ada siapapun yang pernah mengungkitnya. Di manakah professor ini mengajar? Di universitas Ibrani, di Israel. Berapakah usia orang ini ketika dia menulis buku ini? Usianya sudah amat sangat tua. Siapakah nama orang ini? Orang ini bernama Martin Buber. Martin Buber ketika menulis buku ini sangat tua, rambutnya sudah memutih dan penuh dengan jenggot dan kumis.

Hal apakah yang mau dia beritahukan kepada manusia di dalam dunia? Hubungan relasi kita ada 3 macam. Apakah relasi atau hubungan arloji saya dengan saya? Dia adalah milikku, aku bukan milik dia. Dia adalah alatku, sesuatu yang aku mau pakai. Lalu apakah arti arloji yang saya miliki itu? Apakah hubungan relasi saya dengan arloji itu? Martin Buber mengatakan aku adalah “I” dan arloji adalah “it”. Itu atau benda, maka hubungan atau relasi antara saya dan arloji adalah “I and it”. Kemudian saya mengatakan saya dan guru saya juga ada hubungan relasi, karena dia pernah mengajar saya. Saya pernah mendengarkan ajarannya. Saya belajar sesuatu dari dia.  Saya adalah “I” dan guru adalah “him”, Maka apakah hubungan relasi saya dengan guru itu? Saya dengan dia. Ada 2 macam contoh relasi, saya dengan arloji saya, saya dengan mobil saya, saya dan rumah saya, saya dan alat saya. Ini adalah relasi “I and It”. Tetapi relasi yang kedua itu lebih mendalam, lebih penting. Relasi antar kedua yang memiliki hidup. Ketika saudara sedang membicarakan tentang orang yang lain. Saya sudah mengatakan saya tahu dia, saya suka kepada dia, saya mengenali dia, saya belajar dari dia, saya belajar banyak hikmat filsafat daripada dia, lalu siapakah dia? Dia adalah “him”, siapakah saya? Saya ada saya. Relasi antara hidup saya dan hidup dia adalah “I and him”. “I and him” relasinya sangat berbeda dengan relasi “I and it”. Hubungan atau relasi saya dan mobil adalah hubungan antara satu yang hidup dengan yang tidak hidup. “I and it”, saya mengendarai itu, saya membeli itu, saya menjual itu, “itu” adalah alat bagi saya. Itu adalah instrument alat bagi saya. Maka relasinya antara dari satu yang hidup dengan satu benda materi.

Tetapi ketika saudara membicarakan tentang seorang guru, ketika saudara membicarakan tentang sosok seorang presiden, seorang profesor, perwira di dalam kemiliteran, saudara tidak bisa mengatakan “I and it”, karena Presiden saya bukan “it” dan profesor saya bukan “it”, guru saya juga bukan “it”. Saya dan dia, relasi antara yang hidup dengan yang hidup, saya memiliki hidup. Profesor saya memiliki hidup, maka relasi saya dengan dia yang hidup adalah relasi antara yang hidup dengan yang hidup. Apakah perbedaan antara yang itu sebagai benda dan dia yang sebagai manusia? Itu sebagai benda sangat berguna, tetapi itu sebagai benda tidak mempunyai perasaan, tidak mempunyai perasaan, tidak mempunyai tanggung jawab, tidak mempunyai perasaan hidup atau mati, hanya itu sebagai benda adalah materi atau satu instrument alat yang disamping saya.

Lalu saudara mengatakan apakah itu cukup? Sekarang saudara-saudara mengerti bahwa relasi antara saya dengan itu sebagai benda itu berbeda dengan relasi saya dengan dia sebagai ciptaan yang hidup. Tetapi Martin Buber mengatakan masih belumlah cukup. Masih ada macam yang  relasi ketiga, bukan saya dan itu sebagai benda, dan juga bukan saya dan dia sebagai manusia tetapi aku dan Engkau. Kapankah dimulainya relasi seperti ini? Begitu intimnya, begitu akrabnya, begitu dekatnya persahabatan, begitu personalnya, ketika saudara memanggil sesorang itu sebagai hubungan “I and Thou”. Beranikah saudara memanggil papamu sebagai aku dan itu sebagai benda? Sekali kali saudara tidak pernah berani memanggil atau mengatakan papamu sebagai itu sebagai benda. Mungkinkah aku dan dia sebagai manusia? Tetapi adakah manusia yang lain yang lebih dekat dan intim daripada papa? Martin Buber mengatakan ketika saudara menikah, saudara tidak mungkin memanggil istrimu sebagai aku dan itu sebagai benda. Engkau juga tidak akan memanggil istrimu sebagai aku dan dia sebagai manusia yang lain tetapi engkau akan memanggil dia sebagai aku dan engkau, aku mencintaimu, aku menikahi engkau, aku membutuhkan engkau, aku akan bersatu dengan engkau. Waktu itu anda akan memanggil istrimu sebagai aku dan engkau. Martin Buber mengatakan bagi saudara apakah Tuhan sebagai ‘itu’, sebagai ‘benda’, ataukah Tuhan itu sebagai dia yang manusia? Bagi seseorang yang sungguh-sungguh memiliki iman kepercayaan, Tuhan itu bukanlah “it”, Tuhan juga bukan sebagai “him”, tetapi Tuhan adalah “Thou”, adalah Engkau yang kekal, yang tanpa batas di luar aku ini. Engkau yang paling sempurna yang ada di depanku. Adalah Engkau yang kekal yang memelihara aku. Adalah Engkau yang kekal yang sekarang menguasai aku.

Hari ini orang-orang ateis ketika mereka mendiskusikan tentang Tuhan, mereka menjadikan Tuhan sebagai “it”. Orang-orang yang memiliki agama, mereka memanggil Tuhan sebagai “him”. Orang-orang yang sungguh-sungguh kenal, orang yang sungguh-sungguh menerima Yesus, maka tidaklah mungkin dia menganggap Tuhan sebagai “it”, engkau juga tidak mungkin akan menganggap Tuhan itu sebagai “him”, tetapi engkau akan mengatakan kepada Tuhan, “Engkau adalah Tuhanku.” Tuhan aku percaya kepada Engkau, Tuhan aku menerima Engkau, Tuhan aku mencari Engkau, Tuhan Engkau akan menuntun aku, aku akan lebih mengasihi Engkau. Saya mau tanya kepada saudara apakah Tuhan itu adalah ‘dia’nya yang engkau miliki itu? Kapankah saudara mengatakan kepada Tuhan, “Oh Tuhan, Engkau adalah Tuhanku.” Pada hari itu barulah engkau menjadi penganut Tuhan yang sesungguhnya. Kita bersyukur kepada Tuhan.

Pada hari ketika engkau memanggil Tuhan sebagai “Thou” itu adalah hari ketika engkau membangun satu relasi yang paling intim dengan Tuhan, “aku dan Engkau”. Ini yang disebut sebagai permulaan daripada satu relasi antara sang Pencipta dengan ciptaan. Saya mau tanya siapakah yang menemukan hal ini? Martin Buber. Bersyukur kepada Tuhan, 50 tahun saya mengajar filsafat dari Aristotle, Plato, Socrates, Anaximander, Hildegard, Rene Descartes dan masih banyak filsafat atau filsuf yang terkenal di dunia, filsafat yang mereka ajarkan itu tidak seperti Martin Buber. Yang ditemukan oleh Martin Buber adalah satu pemikiran tentang relasi yang paling penting itu. Dari kapankah itu dimulai? Kira-kira 120 tahun yang lalu sudah dimulai. Sejarah umat manusia sudah ribuan tahun lamanya. Kita harus menanti sampai 120 tahun yang lalu, seorang Yahudi yang menemukan hubungan antara aku dan Engkau itu. Tidak heran ketika buku dari Martin Buber ini diterbitkan dalam sejarah umat manusia, maka semua dunia filsafat itu terguncang seperti gempa bumi. Tetapi saya katakan apakah itu benar? Apakah Martin Buber adalah orang satu-satunya yang menemukan hubungan antara aku dan Engkau? Tidak. karena relasi aku dan Engkau ini telah dimulai dari 3000 tahun yang lalu. Siapakah yang paling awal menemukan hubungan aku dan Engkau? Daud. Kapankah Daud mengatakan kepada kita bahwa dia menemukan kebenaran ini? 3000 tahun yang lalu. Bagaimanakah kita mengetahuinya? Yaitu melalui Mazmur 23 yang dia tulis. Mazmur 23 itu adalah permulaan membicarakan tentang hubungan antara aku dan Engkau yang dimulai dalam sejarah umat manusia. Sebelumnya dalam kitab Ayub telah dicatat Ayub mengatakan kepada Tuhan, “Oh Tuhan di manakah aku bisa menemukan Engkau, sehingga aku bisa mendapatkan penyelesaian permasalahanku ini.” Konsep dari hubungan atau relasi aku dan Engkau itu dimulai dari Alkitab. Tidak ada pemikiran tentang relasi antara kepribadian ini di pemikiran daripada Kongfucu, juga tidak ada di dalam pemikiran Socrates, Plato ataupun Aristotle. Maka kiranya saudara bisa menyadari betapa besarnya kebenaran firman Tuhan yang Dia wahyukan kepada umat manusia. Betapa dalamnya pemikiran dari penyair itu di hadapan Tuhan. Kita bersyukur kepada Tuhan. Daud mengatakan, “Engkau adalah gembalaku. Ia membuat aku tidak kekurangan. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Ia membaringkan aku di air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku. Demi namaNya Ia menuntun aku di jalan yang benar.” Di catat berkali “Ia” di sini. Tetapi masuk ayat ke-4, “Sekalipun aku berjalan di dalam lembah kekelaman, sedikitpun aku tidak takut karena Engkau menyertai aku.” Apakah saudara sudah melihatnya? 3000 tahun yang lalu dari ‘Dia’ akhirnya menjadi ‘Engkau’. Setelah berselang 3000 tahun kemudian ada seorang Yahudi menemukan tentang hubungan ini rupanya inilah kekristenan. Saya percaya yang saudara dengarkan hari ini tidak dibahas di universitas yang terbesar di dunia manapun. Di Harvard, Yale, Oxford juga tidak akan mengajarkannya. Hanya Alkitab yang mengajarkan. Betapa agungnya Alkitab, berita di dalam Alkitab begitu mendalam, pemikiran di dalam Alkitab itu begitu sempurna. Dan saudara hanya bisa mengetahui relasi antara ‘aku dan Engkau’ sebagai Tuhan itu melalui wahyu dari Alkitab. Ketika saudara mendapatkan hubungan antara ‘aku dan dia’ berubah menjadi ‘aku dan Engkau’, maka 10 krisis besar dalam hidupmu yang engkau alami itu bisa diselesaikan. Kiranya Tuhan boleh menolong kita mengerti sampai semendalam hari ini. Kiranya hari ini kita menjadikan relasi yang berubah, dari ‘aku dan dia’ menjadi ‘aku dan Engkau’. Ini menjadi relasi yang sesungguhnya kita dengan Tuhan. Maka mulai hari ini biarlah saudara berkata-kata sendiri kepada Tuhan. Mulai hari ini saudara berdoa sendiri kepada Dia. Saudara berkata kepada Dia, “Oh Tuhan yang pengasih, aku mengasihi Engkau, aku kenal kepada Engkau, berikanlah anugerahMu dan tolonglah aku.” Ketika saudara sungguh-sungguh membangun relasi yang sedemikian dengan Tuhan, maka hidupmu akan berubah, nilai hidupmu itupun akan dibangun. Kiranya Tuhan memberkati kita supaya kita boleh mengerti kotbah yang disampaikan pada hari ini.

Close
Close Search Window