Download versi cetak: 1275_1448_KebaktianPagiSore_2026-2Aug_IR
Yesus Sang Pemberi Hidup
Yohanes 5:16-30
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
lumpuh itu. Dan minggu lalu kita juga telah membahas apa yang menjadi makna sabat yang sebetulnya Tuhan ingin berikan kepada manusia. Yang pertama, sabat adalah momen atau keadaan di mana kita bisa merayakan kehidupan yang Tuhan berikan. Kalau kita masih bisa hidup, maka kita harusnya bersyukur karena hidup itu adalah anugerah Tuhan. Kalau kita bisa melihat hidup sebagai anugerah Tuhan, maka ada sukacita di dalam hati kita. Kedua kita melihat Sabat itu adalah momen di mana umat Tuhan seharusnya mengingat pertolongan dari Tuhan. Sebagaimana Tuhan sudah membebaskan Israel dari Mesir, maka mereka merayakan Sabat. Setiap kali kita mengalami pertolongan, penyertaan, pemeliharaan Tuhan seharusnya kita merasakan hati yang bersyukur kepada Tuhan. Hati yang semakin hari semakin bersandar kepada Tuhan bukan kepada kekuatan diri. Ketiga, Sabat adalah momen di mana kita berhenti dari segala sesuatu untuk fokus mencari hadirat Allah dan menikmati Allah itu sendiri. Hanya di dalam Kristus kita bisa melakukan hal ini dengan damai di dalam hati karena kita telah diperdamaikan dengan Allah. Keempat, Sabat itu momen kita menikmati Allah bersama-sama atau di dalam persekutuan dengan saudara seiman. Seperti saat ini kita sedang beribadah bersama. Kita sedang menikmati rest dari Tuhan. Bersama dengan saudara seiman kita berhenti dari segala kekuatiran dan kesibukan hidup kita. Kita datang ke hadapan Tuhan dan menantikan hadiratNya.
Kita melihat bahwa setelah Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu di hari Sabat, orang-orang Yahudi, yaitu orang Farisi itu berusaha menganiaya Yesus karena mereka menganggap Yesus telah menista atau melanggar agama orang Yahudi. Meresponi hal ini, di ayat ke-17, Yesus mengatakan, “Bapaku bekerja sampai sekarang, Aku juga bekerja.” Itu seperti ada percikan api disiram bensin. Karena di ayat ke-18 kita lihat orang-orang Yahudi itu bukan saja mau menganiaya Yesus, tapi mereka berusaha membunuh Dia. Karena bagi mereka dikatakan bukan saja Dia meniadakan hari Sabatnya orang Yahudi, tetapi Yesus sekarang menyamakan diriNya dengan Allah. Yesus semakin memperjelas relasiNya dengan Allah Bapa. Dia semakin mempertegas siapa diriNya. Dia menyatakan dua hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah tetapi Dia juga bisa melakukannya. Sanggup berarti berkuasa, mampu. Berhak berarti punya otoritas. Dua hal yang harusnya hanya bisa dan boleh dilakukan oleh Allah adalah memberikan kehidupan dan menghakimi dunia. Hari ini kita akan membahas relasi Yesus dengan Allah Bapa dan Dia yang sanggup memberikan kehidupan. Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Sang Anak di mana Allah adalah BapaNya. Dan pekerjaan yang Dia lakukan adalah apa yang Bapa kerjakan. Ini sangat dekat sekali dengan konteks zaman itu di mana seorang anak profesinya sama seperti profesi ayahnya, kakeknya dan nenek moyangnya.
Di ayat 18 Yesus mengatakan, “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Ayat 19 dikatakan, “Tapi Anak itu tidak dapat mengerjakan sesuatu yang keluar dari diriNya sendiri kalau Dia melihat Bapa itu mengerjakan.” Ini seolah-olah menggambarkan Yesus itu kesannya lebih inferior dibandingkan Allah Bapa, karena seolah-olah Yesus tidak bisa melakukan sesuatu semau-maunya, tetapi hanya yang BapaNya bisa lakukan. Tapi ini bukanlah gambaran inferioritas Yesus, ini adalah gambaran submission, kebergantungan Yesus kepada Bapa, bahwa apa yang Anak kerjakan itu tidak terlepas dari apa yang dikerjakan oleh Bapa. Dan 19 bagian akhir, apa yang dikerjakan Bapa, itu yang dikerjakan oleh Anak. Ini gambaran adanya kesatuan kehendak. Kita diingatkan, di dalam Allah Tritunggal memang ada tiga pribadi: Allah Bapa, Anak dan Roh. Apa yang membuat ini satu Allah? Karena kita percaya tiga pribadi ini punya satu kehendak yang sama. Apa yang diinginkan oleh Bapa itu yang juga diinginkan oleh Anak dan juga Roh. Sehingga apa yang dikerjakan Bapa yaitu juga yang dikerjakan Anak.
Ayat 20 dikatakan bahwa Bapa menunjukkan kepada Anak segala sesuatu yang Dia kerjakan sendiri. Dan Bapa akan menunjukkan kepada Anak pekerjaan yang lebih besar lagi. Seperti seorang ayah yang mengajarkan kepada anaknya, “Inilah segala sesuatu yang kukerjakan yang sekarang aku juga ingin kamu kerjakan bersama denganku. Tapi bahkan bukan hanya ini saja, engkau nanti akan melakukan hal yang juga aku inginkan, tapi lebih besar.” Dan yang memotivasi hal ini adalah karena Bapa mengasihi Anak. Bukan karena Bapa ingin memenuhi keinginanNya sendiri tanpa peduli AnakNya susah atau tidak, tetapi karena justru Bapa mengasihi AnakNya sehingga dia mengajarkan segala pekerjaan dan bahkan mempercayakan lebih besar lagi. Yang mengatakan hal ini itu adalah Sang Anak itu sendiri. Ini mematahkan kritik dari orang modern yang mengatakan bahwa Allah Bapa di dalam Alkitab itu Allah yang jahat. Banyak yang mengatakan Allah Bapa dalam Alkitab itu adalah Bapa yang abuse AnakNya sendiri. Allah Bapa itu Allah Perjanjian Lama yang menyuruh Israel genocide orang-orang Kanaan. Allah Bapa di PL adalah Allah yang menguji imannya Abraham dengan cara mengorbankan anaknya yang dia kasihi. Dan dalam PB kita lihat betul-betul Dia sendiri mengorbankan AnakNya dengan begitu kejam. Ini seperti kekristenan mengajarkan bapak-bapak untuk abuse anaknya sendiri dengan atas nama kasih. Ini jelas salah, karena Yesus sendiri yang mengatakan Bapa itu mengasihi Anak. Dan apa yang Anak kerjakan termasuk naik ke kayu salib juga adalah apa yang Dia ingin kerjakan bersama dengan Bapa. Kehendak yang sama. Bahkan ketika Yesus naik ke kayu salib, Yesus melakukan sesuatu yang adalah isi hati Bapa, isi hatiNya sendiri, tetapi sesuatu yang lebih besar.
Di satu sisi kita melihat Anak tunduk kepada Bapa. Anak tidak melakukan apa-apa di luar apa yang BapaNya percayakan. Tapi di sisi lain kita melihat ini satu pekerjaan yang sama, yang keluar dari satu kehendak yang sama, yang didorong oleh satu relasi yang saling mengasihi. Anak melakukan apa yang Bapa lakukan, Anak menginginkan apa yang Bapa inginkan, dan Bapa bersuka kepada Anak, Bapa mengasihi Anak. Yesus mau kita sadar bahwa Dia bukan sekedar mewakili Allah, tapi dia melakukan hal-hal yang hanya dilakukan oleh Allah, karena Dia adalah Allah. Dan kalau Yesus adalah Allah, Yesus punya otoritas dan kuasa yang secara eksklusif itu hanya milik Allah. Kalau kita hanya baca sampai ayat 20, kita bisa mengatakan sebagai anak-anak Tuhan melakukan apa yang Bapa kita lakukan. Kita berbuat baik, hidup kudus, adil, bijaksana merefleksikan Bapa kita. Ini juga panggilan kita sebagai anak-anak Allah. Tapi ini bisa dilakukan oleh manusia biasa, ini bisa dilakukan oleh para malaikat.
Masuk ayat 21, kita membaca bagaimana Yesus mengatakan, “Seperti Bapa membangkitkan orang mati dan menghidupkanNya, demikian juga Anak.” Dalam realita ini yang bisa memberikan kehidupan itu hanya Allah sang sumber kehidupan. Manusia, malaikat tidak bisa memberikan kehidupan. Hanya Allah yang bisa memberikan kehidupan. Bahkan ayat 22 dikatakan, “Bapa tidak menghakimi siapapun, tapi menyerahkan penghakiman itu kepada Anak.” Ayat 23, supaya semua menghormati Anak seperti menghormati Bapa. Bayangkan orang Farisi sudah berusaha menganiaya dan membunuh Yesus, sekarang Dia mengatakan hal ini. Bukan saja melanggar tradisi agama mereka dengan mengaku Allah itu BapaNya, sekarang Dia mengatakan, “Engkau seharusnya menghormati Anak seperti engkau menghormati Allah.” Kita lihat ayat 24 dan seterusnya, gambaran bagaimana Allah Anak dapat memberikan hidup yang kekal. Dan siapa percaya kepadaNya itu punya hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, Dia punya otoritas dan kuasa untuk memberikan kehidupan dan melakukan penghakiman.
Ada tiga hal yang saya ajak kita renungkan pada malam hari ini. Yang pertama, Yesus yang memberikan kehidupan, Dia memberikan kehidupan secara berdaulat. Dia memberikan hidup kepada siapa yang dikehendakiNya. Ini menggambarkan kedaulatan yang dimiliki hanya oleh Yesus, sebagai pribadi yang setara dengan Bapa itu sendiri. Dalam teologi orang Yahudi, satu-satunya yang berhak memberikan kehidupan seturut dengan kehendakNya sendiri adalah Allah Yahwe. Yesus mengatakan Dia memiliki hak dan kuasa untuk melakukannya. Ini berarti kita tidak mungkin memiliki hidup apalagi hidup yang kekal kalau tidak melalui Yesus. Orang-orang yang mengenal Yesus merekalah yang akhirnya mendapatkan hidup kekal ini. Dan orang-orang di luar sana begitu banyak yang tidak mengenal Yesus, bagaimana mereka bisa mendapatkan hidup yang kekal? Ini harusnya membuat kita appreciate kalau kita bisa jadi orang-orang yang datang ke gereja dan kenal siapa Yesus. Tentu masalah hidup kita banyak dan hidup kita tidak sempurna. Tapi kalau saudara kenal Yesus dan mendapatkan hidup yang kekal, betapa sebetulnya Tuhan mengasihi saudara. Yesus sanggup untuk membangkitkan. Kata membangkitkan itu adalah kata yang sama yang Yesus ucapkan kepada orang lumpuh di tepi kolam Betesda. Ketika Yesus mengatakan “Bangunlah, angkat tilam dan berjalan.” Kata bangunlah (Greek:egeire). Sekali lagi peristiwa mujizat kesembuhan itu hanyalah tanda yang menunjukkan siapa Yesus dan apa yang Dia kerjakan. Yesus datang untuk membangkitkan, memberikan kehidupan. Sampai puncaknya Lazarus yang sudah meninggal beberapa hari itu dibangkitkan oleh Yesus. Inilah yang jadi pengharapan setiap orang percaya. Bahwa sekalipun tubuh kita semakin lemah, kita percaya akan ada saatnya semua orang yang masuk ke dalam kubur akan dibangkitkan dan akan menghadapi penghakiman. Orang yang baik akan mendapatkan hidup yang kekal, tapi orang yang jahat akan dihukum. Ayat ke-29 adalah gambaran hidup yang kekal yang akan kita jalani untuk selamanya.
Poin yang kedua adalah hidup kekal yang Yesus berikan adalah hidup kekal yang sekarang kita bisa dapatkan. Ini bukan gambaran hidup kekal dalam pengertian, kita masuk surga, bebas dari neraka, dari penderitaan kekal. Kita akan mengalami hidup penuh dengan sukacita yang everlasting, never ending. Tentu itu pengharapan setiap kita orang percaya. Hidup yang kekal yang Tuhan ingin berikan kepada kita ini maksudnya apa? Seringkali kita mengatakan hidup itu artinya ketika kita lahir dalam dunia ini. Seorang manusia mulai hidup ketika dia lahir, keluar dari rahim ibunya, menarik nafas pertama dan kemudian mengeluarkan jeritan tangisan pertama, dia hidup. Atau ada yang mau lebih teknikal lagi mengatakan, dalam kandungan pun sudah hidup sebagai embrio, sebagai zigot itu sudah punya kehidupan, berarti kehidupan itu artinya punya jantung yang berdetak. Tapi seseorang bisa saja jantungnya berdetak dibantu oleh mesin. Meskipun bisa bernafas menggunakan ventilator, tetapi ketika sudah brain dead, maka dunia medicine modern mengatakan, orang ini sudah lewat. Apakah yang namanya kehidupan itu sekedar urusan fisik? Ada sesuatu dalam hidup ini yang lebih daripada sekedar bisa bernafas dan bisa beraktivitas. Dalam bahasa Yunani kata hidup ada tiga macam. Pertama, bios. Seperti biologi, ini adalah gambaran kehidupan yang sifatnya lebih fisik, yang kelihatan dari luar. Kita hidup kalau kita sehat dan bisa berfungsi secara normal, ada pencapaian kita di dunia. Ini bicara tentang dunia materi, status sosial, gaya hidup, bagaimana kita menggunakan waktu kita menjalani hidup kita di dunia ini.
Kata Yunani yang kedua, psyche, ini seperti psikologi. Kalau bios itu adalah physical life, maka psyche adalah psychological atau emotional life. Ini bicara bukan sekedar apa yang kelihatan di luar, tetapi apa yang kita alami di dalam diri kita, emosi, pikiran, intelek dan keadaan mental kita. Apakah dalam hidup ini saya bisa merasakan sukacita yang besar, atau juga di dalam kita menggunakan pikiran kita untuk memikirkan filsafat hidup atau menyelesaikan masalah-masalah yang susah. Segala sesuatu yang kita alami di dalam mental state kita. Dalam kita menjalani hidup kita hanya fokus pada dua hal ini saja. Kita hanya fokus kepada apa yang fisik. Kita cari kesehatan tubuh. Kita cari keamanan di dalam karir harta dan kenyamanan hidup. Tapi ini saja tidak cukup. Kelompok yang kedua itu fokus kepada hal-hal yang terkait dengan mental atau psikis. Mereka baru merasa alive kalau mereka feel something di dalam diri. Dan mereka bisa cari perasaan pengalaman ini lewat berbagai macam hal yang lain-lain. Tapi pertanyaannya, kita hidup seperti ini mau sampai kapan? Untuk tujuan apa? Akhirnya orang yang seperti inipun kehabisan bahan, kehabisan pengalaman untuk membuat dia bisa merasa alive. Dia akhirnya akan kehilangan arah, tidak tahu untuk apa hidup dan akhirnya juga bosan. Karena sekalipun saudara bisa survive secara fisik sampai selama-lamanya, sekalipun seseorang bisa mengalami pengalaman hidup, pada akhirnya mereka bertanya untuk apa semua ini. Untuk apa saya hidup.
Maka dalam mencari kehidupan, kita perlu juga menekankan yang ketiga, zoe, yang artinya hidup, tetapi lebih kepada the spiritual life. Seringkali zoe itu adalah bagian hidup yang dikaitkan dengan energi ilahi, sesuatu yang terkait dengan yang ilahi di luar sana yang menghidupkan kita. Dalam Alkitab zoe itu berbicara tentang kehidupan ilahi yang berasal dari Allah, yang Allah hembuskan kepada manusia ketika Dia menciptakannya. Ini juga menggambarkan adanya keterikatan antara manusia dengan Allah. Ada relasi antara kita sebagai ciptaan dengan Allah sebagai Pencipta. Dalam Yesus Kristus, Allah mengundang setiap kita, untuk bisa menikmati hidup yang ilahi. Kalau kita tidak punya zoe, maka hidup kita akhirnya tidak ada arah dan tujuan. Kalau kita ada zoe yang sejati, maka sekalipun fisik dan emosi kita tidak sempurna, orang yang memiliki zoe sejati adalah orang yang hidupnya tetap stabil, tetap kuat dan bisa memiliki sukacita damai yang dari surga.
Tiga macam sisi kehidupan ini kalau kita bikin ilustrasi, misalnya smartphone. Ada yang namanya hardware, layar amoled yang begitu tajam dengan resolusi tinggi, prosesor yang sangat kuat dan cepat. Smartphone itu memiliki software, aplikasi-aplikasi yang sangat menolong. Hardware itu ibaratnya bios. Software ibaratnya psyche. Tapi secanggih apapun baik hardware dan software nya, kalau tidak di charged, smartphone itu tidak ada gunanya. Smartphone ini baru menjalani fungsinya kalau digunakan oleh seseorang yang tahu cara memakai dan betul-betul memakainya dengan sesuai apa yang dia inginkan, barulah smartphone ini punya nilai. Demikian juga manusia, kita bisa punya karir yang membuat banyak orang iri. Kita bisa punya kesehatan seolah-olah 20 tahun lebih muda. Kita bisa mendapatkan begitu banyak hal yang baik dalam hidup ini. Secara fisik, secara mental baik adanya. Tetapi jika kita tidak hidup bersama dengan Tuhan. Maka semuanya itu sia-sia.
Inilah mengapa Yesus datang dan Dia mengatakan, “Barang siapa percaya kepada Anak, dia beroleh hidup yang kekal.” Dikatakan saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang mati akan mendengar suara Allah. Mereka yang mendengar akan hidup. Dan itu sesuatu yang sudah terjadi dan sedang terjadi sampai sekarang ini. Itu terjadi karena Yesus hadir dalam dunia. Allah Anak melakukan hal yang sama seperti Allah Bapa, memberikan kehidupan. Dia hadir di tengah-tengah kita. Dia berbicara kepada kita dan Dia memberikan kepada setiap kita yang mati di dalam dosa. Ini sesuatu yang terjadi sekarang dalam ruangan ini juga, bukan sesuatu yang terjadi nanti ketika Yesus datang kembali. Hari penghakiman terakhir itu memang akan terjadi. Tapi bukan ini yang dimaksud di sini. Sekarang saatnya terjadi orang-orang yang mati mendengar suaraKu, mereka akan mendapatkan zoe. Orang-orang yang sudah terpisah dari Allah sang sumber kehidupan, yang hanya hidup sekedar dengan bios dan psyche, tapi terhilang dari hadapan Allah Pencipta. Yesus datang untuk memberikan zoe. Supaya setiap orang yang mati dalam dosa terpisah dari Allah boleh kembali hidup dan kembali memiliki relasi dengan Penciptanya.
Di dalam kitab Kejadian, Allah menciptakan kehidupan dengan berfirman. Allah berfirman, maka itu jadi. Firman Allah memiliki kuasa memberikan kehidupan. Firman Allah yang menyatakan kebenaran Allah. Setelah Allah menciptakan Adam dan Hawa dari tidak ada menjadi ada, menciptakan mereka dengan berfirman, Allah juga berfirman untuk menyatakan yang benar dan yang salah. Taati ini maka engkau akan hidup. Tetapi Adam dan Hawa memilih untuk melawan Allah. Sejak saat itulah manusia terputus dari Allah Sang Sumber kehidupan. Sekalipun Adam Hawa masih hidup secara bios dan psyche, mereka kehilangan zoe. Mereka kehilangan relasi dengan Allah. Mereka tidak lagi punya arah hidup. Apa yang benar, apa yang salah mereka menjadi kacau. Mereka kehilangan tujuan hidup yang sejati dan hanya hidup untuk hal-hal yang sepele dan tidak tahu apa artinya hidup sebagai gambar dan rupa Allah. Menjalani hidup hari demi hari yang makin lama makin falling apart menuju kematian.
Yesus datang ke dunia mengatakan, “Sekarang aku akan memberikan kepadamu hidup yang kekal (Aonos Zoe).” Ini pekerjaan yang lebih besar daripada apa yang Allah kerjakan dalam penciptaan. Menciptakan hidup ini dari tidak ada menjadi ada, itu pun sesuatu yang sudah luar biasa. Ketika manusia tidak lagi percaya kepada Allah, membuang Allah dan firmanNya, maka mereka terobsesi untuk mencari their story. Tapi ketika dikatakan yang terjadi sebetulnya karena evolusi, mereka juga tidak akan puas. Karena kalau saya ini ada di dunia karena kebetulan, buat apa saya hidup? Mereka ingin sebuah origin story yang memberikan nilai, makna, arah dan tujuan hidup. Ketika Yesus mengatakan, “Aku dan Allah yang juga melakukan hal yang sama. Aku yang menciptakan dunia dan seisinya.” Seharusnya ini membuat kita begitu kagum. Tapi ada sesuatu yang harusnya membuat kita jauh lebih kagum kepada Yesus. Karena Dia melakukan pekerjaan yang lebih besar. Yesus katakan, “Orang yang mati ketika mendengar suaraku mereka akan dapatkan zoe yang kekal.” Yesus menciptakan kehidupan yang baru. Bukan dari yang tidak ada menjadi ada, tapi menciptakan kehidupan yang baru dalam diri manusia yang sudah mati dalam dosa dan memberontak kepada Allah. Menciptakan hidup yang baru, sehingga tadinya kita yang benci kepada Allah, sekarang dibukakan matanya melihat kebesaran, kemuliaan dan kasih Allah. Dan untuk bisa melakukan hal itu, Yesus Kristus harus menjadi manusia untuk menggenapi apa yang difirmankan lewat nabi-nabi. Menyelamatkan manusia yang sudah memberontak kepada Allah dengan cara dia mati di atas kayu salib. Ini satu misteri yang luar biasa besar. Tapi ini yang dikatakan inilah kehendak Bapa, inilah kehendak Anak. Satu kehendak. Ketika Anak naik ke atas kayu salib, Dia mengerjakan apa yang Bapa inginkan dan apa yang juga Anak inginkan. Supaya kita yang sudah mati dalam dosa, hidup kembali ketika mendengar firman-Nya. Bagaimana kita bisa mendapatkan hidup yang kekal ini? Dengar firmanNya, percaya kepada firmanNya, taati firmanNya. Firman yang menyatakan kepada kita apa yang benar dan salah. Firman yang menyingkapkan segala dosa kita. Firman yang memberikan kabar baik di dalam Yesus Kristus. Memanggil kita untuk percaya kepada Dia. Sehingga kita beroleh hidup yang kekal. Seperti yang Yesus katakan kepada orang lumpuh itu, “Sekarang engkau telah sembuh, jangan berdosa lagi.” Hidup dalam ketaatan. Mendengarkan firmanNya dengan sungguh. Percaya kepada apa yang Dia katakan dan hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan. Kita baru mengerti apa itu hidup sesungguhnya. Hidup bukan sekedar surviving secara fisik. Hidup bukan sekedar merasakan berbagai macam pengalaman hidup. Tapi hidup, tunduk, percaya, taat kepada perkataan Pencipta dan Penebus kita. Itulah yang menjadikan hidup kita bernilai. Bukan hidup untuk hal-hal yang sepele dan yang akan lewat begitu saja, tapi hidup dipakai untuk memuliakan Tuhan. Karena sekarang kita yang sudah memiliki hidup yang kekal, kepada kita juga dipercayakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, menjadi saksi Tuhan kita, mengabarkan firmanNya kepada orang-orang mati lainnya, supaya merekapun juga beroleh kehidupan. Itulah yang terus terjadi setiap kali firman Tuhan diberitakan. Orang yang mati mendengarkan perkataan Tuhan dan mereka menjadi hidup. Kita melihat hidup Pdt. Stephen Tong. Hidup yang secara fisik makin hari juga tidak mudah. Hidup yang secara emosi pasti juga banyak yang menjadi pergumulan beliau. Tapi hidup yang dijalankan untuk terus mengerjakan isi hati Tuhan. Itulah zoe. Hidup yang sungguh berarti. Hidup yang indah. Hidup yang saya harap kita semua bisa mencarinya dan merasakannya. Mujizat dalam Yohanes 5 itu tidak pernah menjadi tujuan utamanya sendiri. Itu hanyalah tanda. Karena orang lumpuh itu memang akhirnya menerima kesembuhan secara fisik. Tapi itu hanyalah cicipan. Karena dalam bagian ini Yesus mengatakan Dia datang untuk memberikan sesuatu yang lebih besar. Dia bukan datang sekedar memberikan kaki yang sekarang bisa berjalan. Dia datang bukan sekedar memberikan sukacita yang muncul dari kesembuhan. Tapi dia datang memberikan hati yang bisa mendengar, percaya kepada firman, dan hidup untuk selama-lamanya.