Download versi cetak: 1256KebaktianPagi_2026-22-Mar_AJ
Eksposisi Matius (91) – Doa: Nafas Kehidupan Rohani
Matius 6:5-8
Pdt. Adrian Jonatan M.Th
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Di dalam Matius pasal 6, Yesus sedang berbicara mengenai tiga hal, yaitu: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Di dalam kita mengerti ketiga hal ini, pada umumnya ketiga hal ini dilakukan sebagai suatu kewajiban agama. Namun, kalau kita mengerti dengan benar, terjemahan asli di dalam Alkitab bukanlah berbicara mengenai kewajiban agama, tetapi mengamalkan kesalehan atau mempraktikkan kebenaran. Dengan kata lain, ketiga hal ini harus kita lakukan bukan sekedar supaya kita mendapat perkenanan dari Tuhan, tetapi kita melakukannya karena itu adalah bagaimana kita menghidupkan kebenaran, kita tidak sedang melakukan itu untuk mengumpulkan kebenaran bagi diri kita. Karena kita menyadari bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang kita bisa hasilkan atau kita bisa kumpulkan dengan usaha kita, tetapi kebenaran adalah sesuatu yang diberikan kepada kita. Kita dibenarkan karena Kristus yang benar memberikan kebenaran-Nya kepada kita.
Kita tidak bisa mengumpulkan kebenaran lalu kemudian menuntut tempat kita di Surga. Tidak mungkin. Kita hanya bisa masuk ke dalam Surga karena Yesus yang telah mati bagi kita. Inilah kebenaran menurut Alkitab, bukan sesuatu yang kita hasilkan, tetapi diberikan kepada kita. Namun, bukan berarti kalau kita sudah diberikan kebenaran, kita sudah pasti masuk surga dan kita tidak perlu melakukan apa-apa. Orang-orang yang sudah diberikan kebenaran, akan mau untuk hidup di dalam kebenaran. Itulah yang dimaksud ketika kita memberikan pertolongan kepada orang lain, berdoa, dan berpuasa, semua hal ini kita lakukan di dalam menghidupkan kebenaran yang Tuhan sudah berikan. Hal ini serupa dengan kehidupan, kita tidak mengumpulkan sesuatu supaya kita bisa mendapatkan kehidupan. Tidak ada dari kita yang dituntut untuk bekerja supaya mendapatkan kehidupan. Hidup itu diberikan kepada kita waktu kita lahir, kemudian waktu kita hidup, kita melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang yang hidup. Orang yang hidup itu pasti bernafas, tetapi kita tidak bernafas supaya kita bisa hidup. Sebaliknya, kita bernafas karena kita hidup. Demikian juga di dalam kita melakukan ketiga hal yang Tuhan Yesus bicarakan, perhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan kamu harus melakukan ini dan itu. Karena Yesus tahu, sebagai orang yang sudah mendapatkan kehidupan rohani, mereka akan mau melakukannya. Namun kita harus berhati-hati agar kita melakukannya sesuai dengan kebenaran Tuhan.
Kalau kita mengerti semua ini dalam konteks kebenaran, kita menyadari bahwa menjadi orang Kristen itu bukan sekedar untuk mendapatkan feel good spirituality. Contohnya, dengan memberikan pertolongan kepada orang lain, kita feel good karena kita sudah memberikan pertolongan atau ketika kita sudah berdoa, kita menjadi lega karena kemudian masalah kita beres. Kalau kita masih seperti ini, ini berarti kita belum menghidupkan hal-hal itu sebagai suatu kebenaran, tetapi sebagai suatu keuntungan bagi diri kita, yaitu sesuatu yang berfokus kepada diri kita. Kekristenan bukanlah sekedar keagamaan yang menjalankan kewajiban-kewajiban secara legalistik. Karena kalau demikian, pada akhirnya semua akan berujung kembali ke diri sendiri dan hal-hal yang kita lakukan adalah untuk melayani diri kita sendiri. Kekristenan juga bukan sekedar bagaimana kita belajar hidup baik. Banyak orang yang beranggapan bahwa semua agama sama, semua agama mau supaya manusia hidup dengan baik dan kemudian masuk ke dalam Surga. Tentu saja, komponen ini ada di dalam agama, termasuk di dalam kekristenan, tetapi bukan sekedar hanya itu saja. Kekristenan adalah bagaimana saya dibenarkan di hadapan Tuhan dan bagaimana saya menghidupkan kebenaran itu. Hal-hal ini berkait dengan dua hal yang kita lakukan di dalam arahnya. Di dalam bagian sebelumnya, Yesus bicara mengenai hukum yang bersifat horizontal (Matius 5). Kemudian ada hal-hal yang bersifat vertikal yang dibahas oleh Yesus di dalam Matius 6, yaitu memberi pertolongan kepada orang lain, berdoa, dan berpuasa. Karena hal-hal ini kita lakukan dengan kita melihat dan mengingat Tuhan. Jangan lupa ketika kita melakukan hal-hal yang bersifat vertikal ini, kita sedang berurusan dengan Bapa di Surga. Kedua arah ini berkait dengan hidup di dalam kebenaran.
Maka, penting untuk kita memiliki mindset bahwa sebagai orang Kristen, menghidupkan kebenaran Tuhan bukan hanya sekedar menjalankan keagamaan atau kewajiban agama, tetapi kita sedang hidup di dalam kebenaran Tuhan. Saya harap inilah yang menjadi mentalitas dan dorongan kita, yaitu bahwa kita hidup di dalam kebenaran. Pengertian mengenai kebenaran ini juga akan memberikan kita kebijaksanaan bagaimana kita melihat hal-hal di dalam dunia ini. Banyak permasalahan, dilema, dan isu yang dibahas dalam dunia zaman ini sebenarnya perlu kita lihat juga melalui perspektif kebenaran. Waktu kita memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan, kita bukan hanya didorong oleh rasa kasihan, tetapi kita juga didorong oleh kerinduan untuk menegakkan kebenaran bagi orang yang mengalami ke tidak benaran. Kita berjuang untuk bisa menopang kebenaran bagi dia, sehingga di dalam society itu tidak ada lagi orang yang berkekurangan. Sebaliknya, di dalam kebudayaan yang sekedar melakukan ini semua sebagai suatu kewajiban agama atau untuk membuat diri feel good, yang terjadi adalah makin banyak orang yang minta-minta di jalan. Maka kita melihat dua efek yang sangat berbeda dari suatu praktik yang sama karena pengertian mengenai menghidupkan kebenaran.
Kita menyadari bahwa tentu saja kita perlu juga didorong oleh belas kasihan, tetapi underlyingnya itu harus menjadi kebenaran, belas kasihan tidak boleh akhirnya menginjak kebenaran. Misalnya, kalau saudara-saudara merasa kasihan melihat seseorang meminta-minta, tanpa sadar kita sebenarnya sedang mengizinkan ke tidak benaran itu terjadi. Karena orang itu akhirnya menyadari bahwa lebih baik dia minta-minta di jalan daripada bekerja. Inilah bagaimana compassion atau belas kasihan akhirnya bisa bertentangan dengan kebenaran. Saya pernah menonton satu film yang menunjukkan bagaimana orang-orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda mengalami penganiayaan dari orang-orang normal. Mereka diejek dan bahkan sampai di-bully, sehingga pertanyaannya, apakah sebagai orang Kristen, kita tidak memiliki compassion terhadap orang-orang ini? Kita harus punya compassion, tetapi compassion itu tidak boleh akhirnya menginjak kebenaran. Kita jelas tidak boleh membiarkan para bully itu kemudian mem-bully dengan sembarangan, tetapi gaya hidup dengan orientasi seksual yang salah adalah gaya hidup yang memilih untuk menolak kebenaran Tuhan dan mereka hidup di dalam ke tidak benaran mereka. Sangat berbahaya kalau empathy atau compassion kita akhirnya itu di begitu didorong sampai kemudian kita tidak lagi melihat kebenaran.
Istilah emphaty biasa diartikan bahwa kita harus masuk di dalam pengalaman orang itu, baru kita bisa mengerti kenapa dia melakukan hal yang dia lakukan. Misalnya ada orang yang mencuri atau merampok, rupanya di pernah di-bully atau dia pernah mengalami perampokan, sehingga dia kemudian merampok orang lain. Namun, akhirnya yang terjadi adalah kita malah mengampuni orang yang sudah melakukan ke tidak benaran. Maka kita perlu memiliki bijaksana mengenal kebenaran Tuhan, bahkan di dalam kita memiliki compassion, karena compassion pun adalah bagian di dalam kebenaran Tuhan. Satu hal yang sekarang lagi heboh adalah peperangan di Iran. Di dalam setiap peperangan, ada banyak sekali faktornya, baik unsur nuklir, minyak, politik, dan seterusnya. Namun, mungkin ada unsur yang kita jarang pertimbangkan atau mungkin tidak dibahas di dalam media massa, yaitu unsur kebenaran Tuhan dan toleransi Tuhan. Pemerintahan Iran adalah salah satu pemerintah yang paling kejam dalam menindas rakyatnya, kita sudah beberapa kali berdoa untuk hal ini di dalam persekutuan doa. Iran adalah salah satu tempat di mana pertumbuhan kekristenan itu paling pesat, tentu saja kita tidak mengatakan itu semua adalah pertumbuhan murni. Saya berpikir adalah relasi antara kerelaan gereja untuk mengalami penganiayaan dengan pertumbuhan gereja. Kalau gereja ingin mengamankan keadaan nyamannya, maka pertumbuhan gereja juga akan tidak terlalu bagaimana.
Pemerintahan Iran telah menganiaya dan membunuh begitu banyak orang-orang Kristen di sana. Satu hal yang boleh kita menjadi pertimbangan dan ini juga menjadi dorongan kita untuk tidak usah banyak ngomong, tetapi banyak-banyaklah berdoa. Biarkan Tuhan yang menjadi judge apakah memang sudah waktunya atau belum. Kalau ada ke tidak benaran yang kita lihat, kita serahkan dalam tangan Tuhan dan kemudian kita melihat bagaimana Tuhan yang menentukan. Mungkin bagi kita, pemerintahan ini sudah sangat jahat, tetapi mungkin Tuhan belum menghukum. Berarti toleransi Tuhan masih ada bagi pemerintahan itu.
Maka sekarang kita masuk ke dalam bagian yang kedua mengenai doa. Yesus berkata, “Apabila kamu berdoa,” dengan kata lain, Yesus tahu bahwa orang yang memiliki kehidupan rohani itu mau untuk berdoa. Sama seperti memberikan sedekah dan puasa, doa adalah hal yang dilakukan oleh agama pada umumnya. Namun, kita perlu melihat ada perbedaan yang jelas antara orang yang mengerti doa dari perspektif Alkitab dengan orang yang melakukannya secara keagamaan pada umumnya. Kebanyakan doa yang dilakukan secara keagamaan ini adalah suatu yang dilakukan secara self serving. Berdoa untuk keuntungan diri sendiri, saya sebut itu sebagai pandangan instrumentalistik atau utility. Tindakan agama (doa) itu dilakukan sebagai instrumen untuk memperoleh sesuatu atau untuk mengubah sesuatu. Maka penting bagi kita untuk melihat bagaimana perspektif Alkitab mengenai doa. Doa adalah hal yang dilakukan oleh orang yang memang sudah dibenarkan, karena kita hidup di dalam kebenaran. Orang yang hidup di dalam kebenaran itu memiliki kesadaran untuk mau berdoa. Doa itu seperti nafas kehidupan, The breath of a spiritual life. Hidup adalah sesuatu yang diberikan kepada kita, tetapi nafas itulah sesuatu yang kemudian men-sustain kehidupan kita. Demikianlah juga dengan doa. Kehidupan rohani kita adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan, itu adalah pekerjaan Roh Kudus, maka setelah kehidupan rohani itu diberikan, kita mau berdoa. Orang yang tidak hidup, tidak perlu bernafas. Maka kalau kita betul-betul memiliki kehidupan rohani, kita menjadi orang yang mau berdoa, kalau kita masih merasa bahwa kita berdoa itu aneh, saya harap itu menjadi sesuatu yang terjadi karena kita belum terbiasa, bukan karena kita sebenarnya tidak ingin berdoa.
Manusia di luar kekristenan tidak mengerti kenapa orang Kristen berdoa, memang karena mereka belum memiliki kehidupan rohani. Namun, orang yang berada di dalam Kristus harusnya ingin untuk berdoa dan ingin belajar bagaimana berdoa dengan benar. Bagaimana kita boleh menghidupkan kehidupan rohani ini dan bernafas dengan baik. Sementara orang yang belum mengalami kehidupan rohani, merasa doa adalah buang-buang waktu atau mungkin merasa bahwa doa itu hanya sekedar instrumen untuk mengubah keadaan atau mendapatkan sesuatu. Tentu saja ada unsur itu, tetapi kalau itu menjadi fondasi kita untuk berdoa, kita masih belum memiliki kehidupan rohani yang sesungguhnya. Kita tidak berbeda dengan orang Farisi yang tadi Yesus katakan, karena orang Farisi juga berdoa untuk dilihat orang. Kita harus sadar bahwa di dalam doa sebenarnya kita sedang mengalami persekutuan dengan Allah Tritunggal. Ketiga Allah Tritunggal itu ada di dalam doa. Seperti yang saya suka jelaskan, formulanya sebenarnya sederhana. Kita berdoa kepada Bapa, di dalam Yesus, dan didorong oleh Roh Kudus. Karena hanya melalui nama Yesus, doa kita boleh diterima oleh Tuhan. Kita tidak mungkin sanggup di dalam kekuatan kita sendiri untuk berdoa. Yang membuat kita boleh berdoa dan membereskan kata-kata kita, membereskan ekspresi kita, membereskan apa yang harusnya kita sampaikan pada Tuhan itu adalah Roh Kudus (Roma 8:26–27).
Kalau kita berpikir bahwa kita bisa berdoa dengan kata-kata kita sendiri yang begitu indah dan kita pikir Tuhan akan menerima saja kata-kata kita. Sepertinya kita agak meremehkan Tuhan, karena manusia yang bijaksana pun bisa mengetahui isi hati kita yang sebenarnya, apalagi Tuhan. Namun, terkadang kita bahkan tidak bisa berdoa. Di dalam kesulitan pergumulan kita, terkadang kita hanya bisa menghela nafas, karena kita tidak tahu mau ngomong apa. Justru di dalam keadaan seperti itu, Roh Kudus yang sedang menopang kita dan Tuhan berkomunikasi, menyampaikan, dan menyelidiki hati kita melalui Roh Kudus yang bekerja bersama-sama dengan kita. Maka Roh Kudus itu disebut sebagai nafas. Kemudian, doa kita baru bisa diterima kalau kita berada di dalam Kristus. Kita bisa datang kepada Tuhan karena kita berada di dalam Kristus. Sehingga di dalam kita berdoa, kita sedang mengalami suatu persekutuan di dalam Allah Tritunggal. Saya bukan mengatakan bahwa kita tidak boleh berdoa kepada Yesus atau tidak boleh berdoa kepada Roh Kudus, tentu saja boleh dan bisa. Misalnya waktu kita minta Yesus menjadi Juru Selamat kita, atau ketika kita meminta Roh Kudus untuk memenuhi kita. Namun, jangan sampai kita berpikir bahwa kita sedang memilih Allah mana yang kita mau berdoa kepadanya. Sebab kita akan masuk ke dalam Tritheism. Ini bukan cara pandang yang benar mengenai doa.
Melalui doa, kita juga menghidupkan relasi dengan Tuhan. Doa bukan sekadar suatu instrumen. Kita juga bukan berdoa untuk sekedar memberikan informasi kepada Tuhan. Doa itu untuk kita menghidupkan dan menikmati relasi dengan Tuhan. Seperti anak yang bicara dengan orang tuanya. Orang tua tidak perlu informasi bahwa anaknya lapar. Dia tahu ini sudah waktu untuk anaknya makan. Demikian juga Tuhan tahu apa sebenarnya yang kita perlukan, kita bukan memberi informasi yang Tuhan belum ketahui. Nah, kalau begitu mungkin orang kemudian bertanya untuk apa kita berdoa? Ini menunjukkan bahwa kita sedang menikmati dan membangun relasi. Tuhan sudah tahu apa yang kita perlukan. Tuhan akan memberikan pada waktunya. Tuhan lebih tahu sebenarnya bahwa kita tidak memerlukan sesuatu yang kita pikir kita perlukan. Begitu juga dengan hal-hal yang mungkin kita perlu, tetapi kita tidak sadar kalau kita perlu. Tuhan mau kita berdoa, karena di dalam relasi, kita ingin berkomunikasi.
Dapatkah doa itu mengubah Tuhan? Bisa, kalau Tuhan memang sudah ingin berubah. Seperti Musa berdoa minta Tuhan mengampuni bangsa Israel. Kalau tidak ada dalam hati Tuhan untuk mengampuni bangsa Israel, Tuhan tidak akan berubah meskipun Musa berdoa. Namun, Tuhan justru mengizinkan Musa mengambil bagian di dalam pengampunan Tuhan bagi bangsa Israel, ini indah sekali. Maka ini juga mengapa kita berdoa untuk KKR, pelayanan, dan untuk orang lain di dalam kesakitan atau pergumulan mereka. Tuhan sedang mengundang kita untuk mengambil bagian di dalam pekerjaan Dia yang Dia sudah rencanakan. Biasanya, di dalam doa yang mengubah Tuhan, bukan Tuhan yang berubah secara karakter, tetapi manusia yang berubah. Ketika orang-orang di Niniwe akan dihakimi, mereka bertobat, lalu tercatat bahwa Tuhan menyesal telah merencanakan penghakiman bagi orang Niniwe. Ini bukan Tuhan berubah dalam karakter-Nya, tetapi sikap orang-orang Niniwe yang berubah. Sehingga Tuhan di dalam relasi-Nya dengan orang Niniwe juga mengubah rencana-Nya. Tuhan tidak berubah di dalam karakter-Nya dan kebenaran-Nya, tetapi di dalam aksi-Nya, Tuhan bebas dinamis berubah sesuai dengan karakter-Nya. Tuhan sebenarnya adalah Tuhan yang mau berubah di dalam hal tersebut. Dia mau mengampuni, Dia mengirim nabi-nabi-Nya supaya Dia mengubah rencana penghakiman-Nya atas bangsa Israel. Namun, sampai kemudian toleransi Tuhan sudah tiba, tidak ada lagi kemungkinan.
Waktu kita berdoa, kalau kita betul-betul genuinely berdoa dan kita berdoa dengan firman Tuhan di dalam kepala kita, Tuhan akan mulai membentuk cara pandang kita. Firman Tuhan itu akan pelan-pelan membereskan doa kita dan hati kita. Kita lebih menyerupai isi hati Tuhan waktu kita di dalam proses berdoa. Yesus memberikan dua contoh yang salah dalam berdoa, yang pertama tercatat di dalam ayat 5 dan 6. Orang Farisi itu adalah orang Yahudi yang kembali dari pembuangan lalu menyadari bahwa mereka harus betul-betul menegakkan hukum Tuhan. Mereka mau mengusahakan supaya Israel itu betul-betul menjalani hukum Tuhan. Kalau perlu dengan hal-hal yang bisa kelihatan dan diukur. Orang Farisi melihat bahwa mereka harus secara jelas mengukur orang Israel semakin lama semakin dekat dengan Tuhan dan hukum Tuhan. Salah satunya adalah di dalam berdoa. Namun, pelan-pelan mereka kehilangan kerohanian yang sesungguhnya.
Di dalam salah satu commentary, orang Farisi itu bukan hanya hamba Tuhan, tetapi juga adalah orang awam. Mereka sama-sama berpikir bagaimana supaya bangsa Israel itu berdoa dan mereka sepakat untuk memberi contoh. Maka mereka membuat janji bahwa di dalam jam-jam tertentu, semua orang berhenti dan kemudian berdoa supaya orang Israel yang lain melihat itu dan mereka pun ingat untuk berdoa. Masalahnya, di dalam proses ini, lama-lama mereka mulai berpikir bagaimana supaya lebih efektif? Mereka mulai merencanakan nanti waktunya berdoa, mereka harus memastikan bahwa mereka dilihat lebih banyak orang. Mereka mulai melakukannya untuk dilihat orang. Sehingga di sini kita harus menyadari bagaimana bahkan di dalam kerohanian yang baik, dosa itu bisa menggerogoti. Akhirnya kita melakukan itu hanya untuk dilihat orang dan kita mulai kehilangan mengapa seharusnya kita berdoa.
Ada sebuah kalimat bagus dari Martin Lloyd-Jones, saya kutip untuk saudara: “A sin is something that follows us even into the very presence of God. Even when we try to persuade ourselves that we are worshipping God we are actually worshipping ourselves and doing nothing more.” Ini betul-betul menjadi suatu panggilan untuk kita menyelidiki hati kita. Apakah kita berdoa dengan begitu sungguh-sungguh waktu dilihat orang ramai-ramai, tetapi kita sebenarnya tidak melakukan itu karena betul-betul berhadapan dengan Tuhan. Kita melakukan itu karena dilihat oleh orang. Kerohanian kita mulai menjadi kerohanian yang kosong. Apakah ini berati kita tidak usah berdoa? Tentunya tidak. Marva Dawn, seorang penulis, mengatakan bahwa solusi dari ritual yang kosong, bukanlah absen dari ritual. Namun bagaimana kita invigorate our heart di dalam ritual itu. Kita meminta kepada Tuhan dan bergumul bagaimana menemukan kembali makna di dalam setiap ritual yang kita lakukan, inilah kuncinya. Di dalam bagian inilah Yesus kemudian berkata, “Kalau kamu berdoa, masuklah ke dalam kamar, tutup pintu, dan berdoa kepada Bapa yang ada di tempat tersembunyi.” Kamar yang dimaksud oleh Yesus adalah kamar yang biasa dipakai untuk semacam gudang, bukan kamar tidur. Orang tidak akan memberitahukan kepada orang lain kalau dia mau masuk ke dalam gudang. Kita langsung masuk ke gudang karena kita mau menemukan sesuatu atau ada urusan sesuatu dalam gudang tersebut. Kalau hal yang mau kita urus di kamar tersebut adalah suatu hal yang penting, kita akan menutup pintu sehingga tidak diganggu oleh orang lain. Inilah mindset yang perlu kita miliki waktu kita berdoa. Kita mau berfokus kepada Tuhan karena saya sedang berelasi dengan Tuhan. This is me and my God time. Kiranya kita boleh bersama-sama bertumbuh di dalam kehidupan doa kita. Karena orang yang hidup dalam kebenaran, mau menghidupkan kebenaran.