Download versi cetak: 1244_1417_KebaktianPagiSore_2025-28-Des

Pemeliharaan Tuhan di masa lalu, sekarang, dan masa depan

Ulangan 32:9-12

Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Sebagaimana tadi saya katakan saya ingin ajak kita untuk meditasi bagian ini , kita menghitung berkat yang sudah Tuhan beri sepanjang tahun dan kita melihat ke depan apa yang bisa kita raih untuk hari depan kita. Bagian yang baru saja kita baca sore hari ini merupakan bagian dari nyanyian Musa yang adalah, bagian terakhir sebelum dia undur diri dari tengah-tengah orang Israel. Nyanyian dan kata-kata perpisahan ini diucapkan oleh Musa dengan sangat puitis dan juga sangat dramatis. Israel pada saat itu sedang berdiri di pinggiran dataran Moab. Sungai Yordan ada di hadapan mereka, tanah perjanjian juga membentang jauh di hadapan mereka di seberang sana, layaknya seolah seperti tersimpan dalam sebuah mimpi di seberang sana yang belum terjangkau. Di belakang mereka tersimpan kenangan perbudakan di Mesir. Tanah di mana mereka bertahan hidup dengan penuh air mata dan tanpa pengharapan. Di belakang mereka juga tersimpan jejak langkah pengembaraan 40 tahun di padang belantara, tentang manna dan mujizat Allah. Kesetiaan Allah yang membebaskan mereka tersimpan dalam ingatan mereka. Meskipun sebagai umat-Nya sering kali mereka tidak setia kepada Tuhan Allah, sekarang di hadapan mereka, terbentang tanah Kanaan. Tanah yang sama sekali mereka belum bisa prediksi dan kalkulasi situasinya. Musa telah memimpin mereka keluar dari Mesir, dan sekarang mempersiapkan mereka memasuki tanah perjanjian. Mereka berdiri di antara masa lalu dan masa depan. Di antara kenangan masa lampau dan janji Tuhan yang akan datang. Di antara sesuatu yang sudah terjadi dan yang belum terjadi. Suasana hati mereka pada saat itu ada kemiripan dengan kita yang akan memasuki pergantian tahun. Kita akan segera meninggalkan 2025 dan memasuki 2026 yang masih penuh dengan misteri. 

Menariknya Musa tidak memberikan mereka strategi perjalanan. Musa juga tidak memberikan pada mereka sebuah rencana perang yang efektif untuk merebut dan menguasai tanah Kanaan. Musa hanya memberikan nasehat dan peringatan yang disampaikan lewat sebuah pujian. Bicara tentang pujian, mungkin bagi kita pujian itu adalah sesuatu yang sederhana. Pujian, nyanyian, syair adalah medium yang Tuhan ciptakan. Tuhan sering memakai medium ini  untuk bicara sampai kedalaman jiwa kita. Di jaman rasionalis seperti sekarang ini, kita melihat segala sesuatu hanya fokus dengan logika kita. Sering kali kita melewatkan apa yang penting bagi jiwa kita. Banyak berkat Tuhan lewat syair lagu, pembacaan Kitab Suci yang poetic yang menyentuh jiwa kita, terlewatkan. Saya ambil contoh ketika kita membaca Mazmur, sering kali terlewatkan ada begitu banyak kalimat janji Tuhan yang penting yang tersimpan di Mazmur, ini karena kita membacanya terlalu rasional. Kita sering membiarkan jiwa kita tidak disentuh oleh Tuhan melalui syair. Itu sebabnya hymnal lagu kita, tidak boleh sembarangan diubah syairnya. Karena begitu sembarangan diubah, maknanya bisa jadi beda dan sentuhan bagi jiwa kita bisa menjadi beda.

 Melalui syair lagu yang dinyanyikan oleh Musa, apa yang paling penting yang hendak Musa nyatakan melalui nyanyian yang dia sampaikan? Di dalam bagian yang paling inti dari nyanyian ini, Musa hendak melukiskan gambaran tentang karakter Tuhan Allah. Yaitu karakter Tuhan Allah yang tidak terduga. Allah kita adalah Allah yang begitu dahsyat, tetapi juga sekaligus penuh kelemahlembutan bagi jiwa kita. Dengan cara ini, Musa mengajarkan umat Israel untuk memahami masa lalu mereka dan juga memahami bagaimana seharusnya mereka melangkah ke depan. Musa mau menyingkapkan sebuah rahasia janji Allah yang selama ini barangkali bagi orang Israel sendiri mereka belum sepenuhnya memahaminya. Demikian juga sering kali kita tidak menyadari akan janji berkat Tuhan yang demikian dahsyat bagi hidup kita. Musa mengatakan Allah yang menuntun mereka melewati padang belantara  tidak akan pernah berhenti menuntun mereka. Allah tidak pernah berhenti menggendong mereka di kepak-Nya hingga mereka memasuki dan memiliki seluruh tanah perjanjian itu. 

Tuhan akan memakai cara yang baru, yang sama sekali berbeda dengan masa sebelumnya. Tuhan akan memakai cara mempertumbuhkan mereka untuk menjadi satu bangsa yang besar. Untuk mereka bisa bertumbuh, Allah harus mengerjakan sesuatu perubahan yang sangat radikal dalam diri mereka. Kita sering kali asumsikan pertumbuhan itu adalah bertambahnya pengetahuan di dalam kepala kita akan firman Tuhan. Kalau makin tahu Alkitab, makin hafal Alkitab, makin tahu banyak teologi, bahkan makin hafal buku sistematik teologi, maka kita asumsikan orang ini sudah bertumbuh. Alkitab memberikan kepada kita definisi pertumbuhan yang berbeda. Allah mengerjakan perubahan yang radikal di dalam diri mereka. Jadi kalau saudara dan saya ingin bertumbuh, maka saudara dan saya harus membuka diri memberi ruang bagi Tuhan untuk mengubah kita dengan caranya yang radikal. Kita tidak bisa memegang status quo, di satu sisi ingin bertumbuh ke arah Tuhan, di sisi lain tetap memegang dunia ini. 

Di dalam Injil kita menemukan kalimat yang sering kali diucapkan oleh Yesus dan sering kali terlewatkan dari kehidupan kita. Setiap kali Yesus melakukan mujizat, memberikan sesuatu pertolongan kepada seseorang, Yesus akan mengonklusi tindakan mukjizat itu dengan satu kalimat. Jangan berbuat dosa lagi. Itu artinya perubahan. Kita ingin bertumbuh, kita ingin perubahan, tidak ada yang nyaman dengan perubahan, tidak ada yang nyaman dengan pertumbuhan. Maka seperti Yesus katakan, jangan berbuat dosa lagi. Bagaimana kita bisa tidak berbuat dosa lagi? Maka tidak ada jalan lain kecuali saudara melakukan shifting dari arah hati kita. Kalau hati kita belum sepenuhnya arahnya kepada Kristus, maka kita tidak akan mungkin berubah. Saudara pasti akan mencari alasan atas kelemahan kita untuk tidak berubah. Martin Luther mengatakan kepada kita, jikalau di dalam hati kita ada sesuatu yang kamu taruh sejajar dengan Kristus, maka engkau sudah jatuh kepada penyembahan berhala, bukan Kristus. Maka kalau hati kita belum bisa fokus kepada Tuhan, belum bisa kasih prioritas kepada Kristus, kita tidak akan mungkin berubah dan bertumbuh. Jangan berpikir, nanti kalau dekat kematian baru saya berubah. Tuhan kenal kita lebih dari kita kenal diri kita sendiri. Oleh sebab itu jangan spekulasi mempermainkan Tuhan dengan logika kita. Jangan kita mempermainkan Tuhan dengan tidak memberikan kesetiaan dan arah hati kita kepada Tuhan. 

Allah harus mengerjakan sesuatu perubahan yang sangat radikal dalam kehidupan mereka. Tuhan mengguncangkan akan segala kenyamanan dan keamanan hidup mereka. Perubahan ini diperlukan Israel. Perubahan ini juga kita perlukan. Perubahan semacam ini mengakibatkan kita akan mampu meninggalkan sarang kenyamanan dan keamanan hidup kita. Hingga kita akan mampu terbang tinggi di angkasa menjadi berkat bagi segala bangsa. Dan ini yang Tuhan mau kerjakan bagi Israel. Setelah di tanah Kanaan, Tuhan tidak lagi dengan tangan menuntun mereka. Tuhan tidak lagi menurunkan manna bagi mereka. Tetapi Tuhan akan mengguncang balikkan akan kenyamanan dan keamanan hidup mereka. Supaya mereka bisa meninggalkan sarang mereka. Dan mereka bisa terbang tinggi untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Dalam konteks ini, Musa memilih memakai metafora rajawali. Bukan metafora merpati, bukan metafora domba, bukan metafora gembala atau bahkan bukan metafora benteng yang kuat. Tetapi Musa memilih rajawali. Mengapa pilih rajawali? Karena beberapa hal penting di bawah ini. Yang pertama, rajawali adalah makhluk yang suka terbang kepada ketinggian, dan rajawali itu adalah makhluk memiliki kemampuan untuk melihat jauh hingga batas cakrawala. Kedua, rajawali adalah makhluk yang kuat dan mampu terbang tinggi sekalipun di tengah-tengah terjangan badai yang kuat. Ketiga, yang paling penting, rajawali adalah satu-satunya makhluk yang mengajarkan anaknya untuk belajar terbang melalui dua cara yang tidak biasa. Ini adalah bijaksana yang penting bagi kita, termasuk kita yang mendidik dan membesarkan anak-anak kita. Untuk mengajarkan sang anak rajawali bisa terbang, maka induk rajawali akan membawa anak rajawali itu dengan paruhnya, terbang tinggi hingga di atas batas ketinggian tertentu. Lalu sang induk rajawali akan melepaskan dan akan menjatuhkan anak rajawali itu dari paruhnya, dan membiarkan anak rajawali itu berkepak-kepak sendirian, berjuang membuka sayapnya. Membiarkan dia berjuang membuka sayapnya agar bertahan untuk terus terbang tidak jatuh dari ketinggian dan mati. 

Dalam anak rajawali itu belajar terbang, ada kalanya sang anak rajawali itu belum bisa membuka dan mengembangkan sayapnya. Kesulitan ini bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal. Ia akan terjatuh meluncur dengan sangat cepat karena gravitasi bumi dan berakhir menghujam bumi dan mati. Maka di tengah-tengah bahaya yang mengancam keselamatan sang anak rajawali, induk rajawali akan menukik dengan cepat, memotong arah angin, menyergap dengan sangat cepat, dengan tangkas melalui paruhnya. Dan menyambar anak rajawali itu, dan membawa terbang kembali hingga batas ketinggian tertentu. Dari tempat ketinggian semacam itu, sang induk rajawali akan dengan sengaja melepaskan dan menjatuhkan lagi anak rajawali itu sekali lagi. Hingga ketika ada bahaya yang mengancam keselamatan anak rajawali, sang induk rajawali akan menukik lagi dengan cepat menolong dan menyelamatkan anak rajawali. Berulang-ulang anak rajawali itu akan dilatih. Hingga sang anak rajawali mampu membentangkan terus sayapnya. Terbang tinggi sendiri. Sekalipun ia harus melewati dan ada di tengah-tengah badai, ia akan mampu mengalahkan dan menaklukkan badai itu. 

Saat sang anak rajawali itu dilepaskan dan meluncur dengan sangat cepat ke bawah, saya membayangkan andaikata sang anak rajawali itu bisa bicara, maka dia akan bicara kepada induk rajawali itu, membantah dan marah kepada induknya. Apa yang sedang kau lakukan kepadaku? Membiarkan aku terjatuh, hancur dan mati? Demikian keluh kesah kita, demikian sungut-sungut kita kepada Tuhan. Ketika kita mengalami kesulitan, tantangan, ujian dan pencobaan. Apa yang kau lakukan kepadaku Tuhan? Membiarkan aku mengalami ini semua dan aku akan hancur dan mati? Di manakah pertolongan-Mu Tuhan? Kau tidak menjawab doaku Tuhan? Mengapa Engkau meninggalkan aku ya Tuhan? Tidakkah Engkau melihat kesetiaanku selama ini? Tidakkah Engkau melihat akan ketekunanku melayani Tuhan selama ini? Mengapa Engkau diam? Dan tidak menjawab aku? Apakah Engkau ingin membiarkan aku jatuh, hancur dan mati? Sang anak rajawali itu tidak tahu, satu-satunya cara belajar terbang, adalah dengan cara membiarkan dia terjatuh dan bergumul. Hingga dia berhasil membentangkan sayapnya untuk bisa terbang. Demikian pula cara providensia Allah di dalam kehidupan kita. Ketika Musa menggambarkan karakter Allah melalui metafora rajawali, ia sedang menegaskan, akan karakter Allah Israel, yang berbeda dengan semua ilah-ilah bangsa-bangsa kafir. Allah Israel, bukanlah Allah yang karakternya suka menjatuhkan dan membiarkan, tidak peduli kepada anak-anaknya. 

Di dalam ayat ke-9 dan 10, Musa melukiskan dengan puitis akan identitas orang Israel, yang beriringan dengan kesetiaan Tuhan. Ketika Israel berada di tengah-tengah padang belantara, Allah mengelilingi dia, Tuhan Allah mengawasinya, dengan pemeliharaan ilahi seperti memelihara biji mata-Nya. Kita berharga di mata Tuhan, Dia memelihara kita seperti Dia memelihara biji mata-Nya. Tidak ada tempat bagi kita untuk berkeluh kesah dan bersungut-sungut kepada Tuhan. Di dalam ketidakmengertian kita akan cara Tuhan bekerja dalam hidup kita, Musa menegaskan, Allah umat Israel, adalah Allah yang memelihara, mempertumbuhkan dan memperkembangkan kemajuan hidup dari anak-anak-Nya. Tetapi ketika Tuhan memberikan toleransinya, Dia menyediakan sebuah ruang yang terbuka dalam hidup kita, di mana di dalam ruang yang terbuka itu, kita bisa bergumul, kita bisa mengalami kegagalan, kecewa, menangis dengan air mata kita. Kita bisa kuatir, gelisah, takut, mengalami ketersendirian, merasa ditolak, putus asa, merasakan penderitaan, bahkan kita bisa menghadapi bahaya ancaman bayang-bayang maut dalam hidup kita. Ketika ruang yang terbuka ini Tuhan izinkan dalam hidup kita, ingatlah bahwa ruang yang terbuka yang disediakan Tuhan itu, bukan berarti Allah sedang menolak kita, bukan berarti Allah sedang lalai memelihara dan menjaga hidup kita, juga ini tidak berarti bahwa ruang yang terbuka itu, adalah bentuk penghakiman dan penghukuman Allah atas hidup kita. Sebetulnya tersimpan rencana Allah yang indah, dan rencana yang indah itu akan sangat menakjubkan bagi hidup kita. Tuhan berkata kepada kita, kekuatan sayapmu lebih dari apa yang engkau sadari. Siapkan hatimu melampaui engkau yang mampu membayangkan, hari depanmu jauh lebih luas dan jauh lebih indah daripada zona nyaman yang sekarang engkau nikmati. Panggilan Tuhan bagi hidupmu, membutuhkan engkau bergerak. Membutuhkan engkau berubah. Dan imanmu harus terus menerus berkembang di dalam pertumbuhan. Maka saat engkau merasa seolah dibiarkan, seolah saat engkau mengalami terjatuh dan meluncur dengan sangat cepat ke bawah, engkau seolah merasa kehilangan kendali atas hidupmu. Engkau menjadi bimbang dalam penuh ketidakpastian dan engkau mulai menjadi takut. Musa memberitahukan bahwa ini semua bukan pembiaran, tetapi pembentukan. Anak rajawali itu memang sengaja dibiarkan terjatuh. Bukan karena dia lemah, tetapi karena dia sedang  dilatih untuk bisa terbang. 

Musa tidak mengakhiri metaforanya tentang rajawali, dengan bicara tentang kejatuhan anak rajawali. Tetapi dia melanjutkan, bahwa ketika anak itu terjatuh dan meluncur dengan cepat ke bawah, induk rajawali akan mendukungnya di atas kepaknya. Ayat 11, induk rajawali tidak akan pernah membiarkan anak rajawali itu terhempas membentur tanah. Ia akan menyergap dengan cepat dengan paruhnya membawanya kembali terbang tinggi. Dan itulah cara pembentukan kerohanian yang Allah kerjakan di dalam hidup kita. Ada saatnya Tuhan membiarkan kita seperti terjatuh dan meluncur ke bawah. Ini bukan untuk menghancurkan kita. Tetapi ia dengan sengaja memimpin kita, masuk ke dalam pergumulan, melewati tantangan, mengalahkan ujian, dan mengalahkan pencobaan. Semua ini diperlukan untuk melatih kita supaya kita dibentuk kerohanian yang baik. Tetapi Tuhan juga menatang dan menopang kita. Di saat kita terjatuh, kita tidak sendirian. Kita tidak berjuang seorang diri dalam proses pembentukan ini. Allah beserta dengan kita. Immanuel. Sekalipun kita harus menerjang badai, kita bisa terbang dengan aman dan nyaman. 

Hari ini kita berada di ujung pergantian tahun. Semua kenangan sudah lewat di belakang kita. Tersimpan di dalam ingatan di belakang kita. Apa yang sudah lewat tidak bisa diubah. Tidak bisa dikoreksi. Tidak bisa diganti. Semua akan tersimpan di dalam ingatan kita. Tetapi kita juga ada di posisi kita sedang akan menempuh perjalanan panjang yang penuh misteri di hadapan kita. Yang masih kita belum tahu isinya apa itu tahun depan. Kalau kita memperhatikan prediksi yang diberikan oleh dunia ini, maka kita sangat pesimis. Sebagian besar institusi mengatakan tahun depan kita akan mengalami resesi besar dan panjang. Saudara dan saya akan melewati satu masa turbulence yang menakutkan. Seperti di Amerika tahun 30-an terjadi the Great Depression. Apa yang bisa memberikan kita pengharapan di tengah-tengah berbagai macam prediksi yang menggetarkan hidup kita. Tahun depan, barangkali menjadi tahun engkau menemukan langit biru yang cerah. Sehingga engkau bisa mengembangkan sayapmu sepenuhnya sebagaimana Allah telah membentuk engkau. Barangkali tahun depan ini, bisa jadi tahun engkau terbang melampaui gunung yang tinggi yang selama ini telah mengintimidasi engkau. Bisa jadi tahun engkau melewati badai yang menakutkan engkau. Menjadi tahun di mana ketakutan yang selama ini mengikat engkau, engkau berhasil melewati. Tetapi di sisi yang lain, tahun yang baru kita lewati ini, mungkin bisa jadi adalah tahun di mana kita digoyangkan isi sarang kita. Tahun di mana kita berada di ujung tepi jurang. Tempat yang menakutkan bahkan kita mulai kehilangan kendali dan terjatuh. Ketika semua ini terjadi, ketika ini sudah kita lewati, ketika kita lihat kembali ke belakang, ingat, engkau tidak sendirian. Ada Allah dengan tangan-Nya yang tangkas akan menyergap dan menatang engkau. Dan ketika Dia memimpin engkau memasuki tahun depan yang penuh dengan turbulence di depan, maka itulah saatnya sekali lagi Allah melatih kita untuk terbang. 

Oleh sebab itu ketika kita memasuki tahun yang baru, hendaknya kita menaruh sebuah komitmen kepada Tuhan, maka kita merasa aman dan nyaman. Kita akan membiarkan Tuhan membentuk melatih kita terbang. Lewat ujian pencobaan, lewat kesulitan dan tantangan, di atas segalanya kita akan mengenakan kerelaan kita bagi Injil dan memperjuangkan keselamatan bagi orang lain. Memasuki tahun depan yang penuh misteri yang kita belum tahu isinya apa, Musa berkata, percayalah kepada Dia dengan segenap hatimu.  Allah yang akan menggendong dan menopang engkau di atas kepak sayapnya yang kuat. Karena engkau telah diciptakan oleh Tuhan. Jauh lebih berarti daripada sekedar sebuah sarang. Engkau telah diciptakan dan ditebus oleh Tuhan Allah. Oleh sebab itu ketika Tuhan Allah menggoyangbalikkan isi sarang kita, juga adalah Tuhan Allah yang memelihara dan membawa kita terbang tinggi untuk mempermuliakan nama-Nya seumur hidup kita. Jadi apa resolusi kita di tahun baru ini? Hanya satu, berpegang kepada kesetiaan Tuhan yang telah menuntun kita di tahun yang lampau, dan Dia akan menuntun kita sekali lagi di tahun yang akan datang. Dan kita akan aman, nyaman melalui tahun akan datang. Dan kita akan capai lagi akhir tahun akan datang. Dan kita akan puji lagi kesetiaan-Nya di tahun akan datang. Tetapi tidak lagi dengan melalaikan banyak hal bagi Tuhan. Kita akan lebih hati-hati memperhitungkan apa yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Kita akan pakai waktu kita lebih banyak untuk Tuhan. Tidak lagi memakai banyak waktu untuk dunia ini. Karena Yesus berkata, dunia ini dengan segala keinginannya akan segera lenyap. Tetapi hanya orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan, akan kekal sampai selama-lamanya. Kiranya Tuhan menolong memberkati kita sekalian, memimpin kita dengan berkat-Nya memasuki tahun yang baru ini. Amin.