Download versi cetak: 1238_1411_KebaktianPagiSore_2025-16-Nov

Bagaimana Manusia Hidup Dalam Kedaulatan Allah

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Hari ini kita akan memperhatikan bagaimana kitab Pengkotbah menyampaikan pesan yang sepintas kalau dibaca mungkin kita bingung apa yang bisa dipelajari. Ada yang mengatakan pasal 6:10 dan seterusnya itu adalah bagian kedua dari kitab Pengkotbah. Karena pasal 6:9 mengatakan ‘ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin’. Itu adalah frase yang diulang-ulang dari pasal 1 sampai pasal 6:9 sebanyak 7x. Frase itu tidak muncul lagi setelah 6:10. Maka ada yang mengatakan bagaimana kitab Pengkhotbah 1 – 6 itu menyajikan pernyataan ini, bahwa hidup kita di bawah matahari adalah hidup yang seperti uap. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup kita dalam dunia di bawah matahari yang seperti uap ini. Hal ini dijawab dalam pasal 6:10 – 7:14. Kita bisa melihat ini adalah satu unit, karena di bagian pertama pasal 6 dan bagian terakhir pasal 7, ada kata-kata yang diulang.

Ayat-ayat terakhir dalam pasal 6 merupakan refleksi/pertanyaan-pertanyaan yang muncul bagi si pengkotbah ketika dia melihat hidup di bawah  matahari yang sementara, yang seperti uap, seperti bayang-bayang, kemudian itu diresponsi di pasal 7. Apa yang menjadi refleksi si pengkotbah setelah 6 pasal dia berbicara tentang kehidupan di bawah matahari? Pengkhotbah 6:10a, maksudnya, segala sesuatu yang sudah ada itu sudah sebelumnya disebutkan namanya. Ini mengingatkan kita kepada kisah bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu di Kejadian 1, dari tidak ada menjadi ada, adalah dengan menyebutkan nama mereka satu persatu. Kenapa ada pagi, ada malam, karena Allah mengatakan demikian. Kenapa ada langit, ada cakrawala, karena Allah menyebutkan nama mereka. Lautan, daratan, ikan, burung, manusia, semuanya adalah hal-hal yang ada karena Allah menyebutkan namanya. Tetapi bukan sekedar hal-hal yang ada dalam dunia ini yang disebutkan namanya oleh Allah. Dalam kitab Pengkotbah, kita melihat yang dimaksud oleh si Kohelet/Pengkotbah, adalah bahkan kejadian-kejadian yang ada, yang terjadi, semuanya juga terjadi karena ditetapkan oleh Allah. Kita ingat Mazmur 139:16 ‘Dalam kitab-Mu semuanya sudah tertulis, hari-hari yang akan dibentuk, sebelum semua itu ada.’ Sebelum kita lahir, tumbuh dewasa, mengalami pergumulan-pergumulan dalam dunia ini, semuanya sudah tertulis disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya. Ini menjadi refleksi Pengkotbah yang pertama, bahwa apapun yang lewat/terjadi, adalah segala sesuatu yang ditetapkan.

Refleksi berikutnya adalah bahwa manusia tidak bisa mendebat/berargumen/melawan segala hal yang lebih kuat dari dia [Pengkhotbah 6:10b]. Siapa yang mengetahui siapa manusia? Alkitab menyatakan Allah. [Mazmur 103:14] Allah tahu siapa manusia karena Allah yang menciptakan dan memberi nama Adam. Adam berasal dari kata Adama yang artinya ‘yang berasal dari debu/tanah’, menggambarkan makhluk yang sebetulnya sangat lemah, yang tidak bisa membantah/melawan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah. Dikatakan itu suatu usaha yang sia-sia untuk membantah Allah. Kita mengingat bagaimana ini juga yang dialami oleh Ayub. Setelah dia kehilangan segala hartanya, anak-anaknya, istrinya, temannya, dia mencoba membantah Allah. Tetapi semua perkataan Ayub yang begitu panjang akhirnya berakhir dengan mengatakan “aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu”. Manusia yang berasal dari debu harus kembali duduk di atas debu. Jadi jikalau hidup kita di bawah  matahari yang seperti bayang-bayang ini adalah sesuatu yang sudah ditetapkan dan kita tidak bisa membantah, maka bagaimana kita menjalani hidup seperti ini? Dalam 6 pasal itu, Pengkotbah sudah menggambarkan dengan begitu banyak hal bagaimana hidup di bawah matahari ini, kadang menjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Hidup dalam dunia ini kadang berjalan tidak sesuai dengan rencana/harapan kita. Kita sudah rencana liburan sekeluarga dari jauh-jauh hari, tetapi sesuatu terjadi, bukan liburan malah pusing tujuh keliling. Kita sudah punya ekpektasi begitu tinggi, ada kesempatan business besar, kesempatan karir semakin baik, setelah kita habiskan segala modal kita, usaha kita, ternyata semuanya hilang begitu saja. Seorang anak muda yang sudah lama menantikan pasangan hidup akhirnya akan menikah, ternyata setelah menikah dia baru tahu hidup ternyata tidak lebih baik. Apa yang bisa kita lakukan dalam hidup yang terkadang seperti ini?

Pengkhotbah 6:12, ada 2 pertanyaan yang dilontarkan oleh Pengkotbah. Pertama dia bertanya, ‘siapa yang mengetahui apa yang baik bagi manusia?’ Kata ‘baik’ (tov) ini berulang kali muncul di kitab Pengkotbah. Yang kedua Pengkhotbah bertanya, siapa yang bisa memberitahukan kepada kita apa yang akan terjadi kepada kita? Dua pertanyaan inilah yang dijawab dalam pasal 7. Pasal 7 kalau dibaca sepintas, saudara mendapatkan kesan ada tema-tema yang kembali digaungkan, yang sebelumnya disuarakan dalam pasal 3, kembali muncul dalam pasal 7. Pasal 3 kita teringat bagaimana pengkotbah mengatakan untuk segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati. Dalam pasal 7 ada hari kelahiran ada hari kematian. Pasal 3 dikatakan ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk berduka. Ada waktu-waktu yang baik, tetapi juga ada waktu-waktu yang malang. Ini menjadi tema yang kembali diulang di pasal 7. Kita akan melihat bagaimana Pengkhotbah 7:1-12 itu menjadi jawaban atas pertanyaan pertama tadi, siapa yang tau apa yang baik bagi manusia. Dan ayat 13-14 akan menjawab pertanyaan yang kedua.

Ketika kita melihat Pengkhotbah 7:1-12, saya sudah hitung dalam bahasa aslinya, kata good (tov) itu muncul sebanyak 10x. Tetapi diantara 10 itu ada 7 kata good yang dipakai untuk menjadi sebuah perbandingan, ini lebih baik daripada itu. Itulah kenapa saya katakan ayat 1-12 mencoba menjawab pertanyaan apa yang baik bagi manusia dalam menjalani hidup yang seperti uap ini? Pertama di ayat 1-4, ini satu tema di mana kita diajak untuk memperhatikan kematian. Tema kematian itu bagian sebelumnya juga sudah beberapa kali muncul. Tetapi dalam bagian sebelumnya kebanyakan nuansanya negatif. Misalnya dalam pasal 1 dikatakan semua orang nanti akan lewat, akan mati, maka percuma kita berharap kita ini akan dikenang untuk selama-lamanya. Kita semua akan dilupakan. Dalam pasal yang lain dikatakan buat apa manusia itu berjerih payah, cari uang, kumpulkan harta, nanti kita akan mati, dan yang menikmati harta kita orang lain. Pengkotbah juga mengatakan nasib semua manusia itu sama: mati. Percuma kita mau jadi orang bijaksana, jadi orang bodoh, semuanya mati, maka aku membenci hidup. Ayub 14 juga mengatakan, kematian menjadi akhir dari segala sesuatu. Secara umum alkitab juga mengatakan kematian itu adalah sesuatu yang sangat jahat, sangat negatif. Kematian adalah upah dosa, penghakiman Allah, kutukan Allah, dan seterusnya. Maka tidak heran kalau kita sebagai manusia yang harusnya hidup selama-lamanya, kita tidak suka dengan kematian. Sehingga zaman kita ini menjadi zaman yang cukup aneh, ada yang mengatakan zaman kita sekarang ini memiliki culture of death. Maksudnya zaman sekarang ini orang itu banyak bersentuhan dengan kematian di satu sisi, kita sering melihat banyak video games yang penuh dengan kekerasan dan kematian itu sepertinya justru dipertontonkan. Semakin sadis cara membunuh, gamenya akan semakin digemari. Muncul semakin banyak dokumentari yang bercerita mengenai serial killer misalnya. Makin banyak hal yang membuat kita melihat aborsi, tingkat kematian tertinggi, menjadi sesuatu yang sepertinya biasa.

Tetapi semua itu sebetulnya adalah hal-hal yang membuat kita semakin tidak peka, tidak sadar, apa sebetulnya kematian itu. Bobot dan betapa mengerikannya kematian itu menjadi seperti dicairkan lewat hal-hal seperti ini. Karena ketika kita melihat apa yang menjadi bahasa kita sehari-hari tentang kematian, kita terlihat seperti seolah-olah mencoba menghindari ‘mati’. Kita mengatakan, ‘dia sudah pergi meninggalkan kita.’; ‘sudah pergi ke tempat yang lebih baik.’; ‘sudah pulang ke rumah.’ Kalau kita katakan dia mati, kita merasa itu sesuatu yang kasar. Kita juga melihat dari filem-filem Disney, bahkan dari beberapa puluh tahun lalu, ternyata banyak filem Disney yang sudah diubah. Dalam filem Little Mermaid (Putri Duyung), cerita endingnya Ariel menjadi manusia, dan menikah dengan sang pangeran. Padahal cerita asli dari Hans Christian Andersen, menceritakan bagaimana Ariel gagal mendapat cinta sang pangeran dan akhirnya dia berubah menjadi buih-buih di lautan. Cerita Pinokio, tentang anak yang bandel, katanya cerita aslinya itu adalah si Pinokio itu digantung karena dia menjadi sangat nakal. Tetapi cerita yang sering kita dengar adalah akhirnya Pinokio berhasil jadi anak sesungguhnya. Cerita tentang Quasimodo, the hunchback from Notredame, cerita aslinya katanya Esmeralda yang cantik itu akhirnya di-executed di depan umum oleh si Kardinal. Kemudian Quasimodo yang mencintai Esmeralda membalas dendam dengan membunuh si Kardinal itu. Dan setelahnya, Quasimodo pergi ke kuburan memeluk tubuh jenasah Esmeralda dan dia mati kelaparan di sana. Tetapi cerita yang dulu kita tonton adalah akhirnya si Quasimodo dan Esmeralda bisa menang dari Kardinal dan menjalani hidup mereka bersama. Kenapa demikian?

Karena sekalipun seolah-olah kita menjadi culture yang terbiasa dengan death, kita sebetulnya menghindari apa itu kematian yang sesungguhnya. Kita lebih suka menjalani hidup ini penuh dengan pesta, dan selebrasi demi selebrasi untuk membuat kita lupa tentang hidup yang sering kali tidak berjalan sesuai dengan rencana kita. Kita suka memakai minyak harum, parfum, untuk membuat hidup kita keliatan lebih indah, lebih wangi daripada yang sesungguhnya. Dalam keadaan seperti ini, maka sang Kohelet mengajarkan kepada kita bahwa untuk bersedih itu lebih baik daripada tertawa. Hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran. Pergi ke rumah duka, ke ibadah penguburan itu lebih baik daripada pergi ke pesta. Karena 3 hal ini: kesedihan, kematian, rumah duka, adalah hal-hal yang memaksa kita untuk melihat hidup ini apa adanya, mengajarkan kita untuk lebih berpikir apa yang sebetulnya berarti dalam hidup ini. Bukan minyak yang mahal, tapi nama yang harum. Kita bisa membeli minyak yang mahal itu dengan uang, tapi nama yang harum itu tidak bisa dibeli. Kuasa mungkin bisa mengubah status seseorang dari penjahat jadi pahlawan nasional. Tapi sekalipun statusnya pahlawan, bagaimanapun juga orang itu akan dikenang reputasinya, keharuman namanya, hidupnya seperti apa. Status pahlawan nasional, tapi orang-orang akan tetap mengenang penjahat sebagai penjahat. Dan bagaimana kita dikenang adalah setelah kita menyelesaikan perjalanan hidup ini, yang akhirnya berakhir di hari kematian. Ketika seorang bayi lahir dalam dunia ini, kita tidak bisa terlalu banyak mengatakan apa-apa tentang bayi itu. Kita hanya bisa mengatakan lucu, mirip papanya, mamanya, dan seterusnya. Kita tidak bisa mengatakan, bayimu itu karakternya agung, karena sepertinya jarang nangis. Karakter, reputasi, keharuman nama, adalah sesuatu yang ditumpuk sepanjang hidup seseorang yang nantinya akan difinalisasi ketika orang itu meninggal dunia. Dalam rumah duka, kita diajak berpikir suatu hari kita pun akan masuk ke dalam peti itu. Apa yang akan dikatakan orang-orang tentang hidup saya selama saya hidup di dunia ini? Tapi lebih penting lagi, apa yang akan Tuhan katakan tentang hidup saya? Dalam pesta dan selebrasi-selebrasi, kita bisa seringkali mengutarakan bercandaan yang di dalamnya ada Allahnya. Tetapi ketika kita di rumah sakit, mungkin akan menjalani operasi, sedang tanda tangan waiver form kalau terjadi sesuatu, kita jangan menunutut rumah sakit, kita tidak bisa bercandaan tentang Allah. Ketika kita di rumah sakit, kita menandatangi sertifikat kematian dari orang yang dekat dengan kita, atau ketika kita berdiri di sebelah peti jenasah orang yang kita kasihi. Melihat peti itu akan diturunkan ke lubang, atau kalau di Singapore, dibawa ke ruang kremasi, kita tidak bisa bercandaan tentang Allah.

Dalam pengertian seperti itu, kematian lebih baik daripada kelahiran. Betul, kematian adalah musuh tetapi terkadang dia juga bisa menjadi penginjil. Mengajak kita berpikir tentang bagaimana kita menjalani hidup yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Dalam pengertian ini, Pengkhotbah mengajak kita melihat realita hidup di bawah matahari yang penuh dengan kesedihan, penderitaan dan kematian. Dia mengatakan, “lihatlah segala hal yang jahat ini. Jangan tutup matamu terhadap tangisan, terhadap penderitaan, terhadap kematian tapi perhatikanlah dan renungkanlah itu dalam hatimu.” Dalam bahasa Inggrisnya kematian itu, lay it to our heart membuat itu seperti melekat dalam hati kita. Berarti, Pengkhotbah mengatakan memang hidup di bawah matahari ini kita harus mengalami banyak sedih dan dukacita. Karena memang hanya dengan kita mengalami semuanya itu, baru kita sadar, kita hidup dalam dunia yang menjalani hukuman kutukan dari Allah. Dunia ini bukanlah surga, jangan jatuh cinta kepada hidup di bawah matahari, maka perhatikanlah hari kematian.

Di ayat 5-6 kita dipanggil untuk mendengarkan hardikan orang berhikmat. Di sini Pengkhotbah bicara tentang hikmat, bijaksana, yang kadang datang dengan cara yang tidak mengenakkan lewat hardikan. Termasuk lewat hal-hal yang kita tidak senangi, lewat kesedihan, penderitaan, kematian. Pengkhotbah mengatakan, “It’s ok, malah itu baik untuk kamu mengalami hal-hal yang kemudian menegur kamu, menyadarkan kamu supaya kamu tidak terlena dengan nyanyian orang bodoh.” Saudara bersyukurlah kalau dalam hidup ini kita masih memiliki orang-orang dan komunitas di mana mereka mau menegur kita. Karena itu berarti masih ada orang yang peduli dengan saudara dan Tuhan masih peduli dengan saudara. Di balik teguran-teguran yang tidak mengenakkan, Allah ingin mengerjakan sesuatu dalam hidup kita. Demikian juga lewat hal-hal yang tidak mengenakkan yang terjadi dalam hidup kita. Itu artinya kita belum sampai ke surga, perjalanan kita belum selesai. Ada sesuatu yang Allah masih mau kerjakan dalam hidup kita. Biarlah kita tidak menutup mata kita, telinga kita dengan hanya mau mendengarkan nyanyi-nyanyian dari orang-orang bodoh. Pengkhotbah 7:6, Kalau saudara mau mendidihkan kuali berisi air, saudara akan cari kayu untuk membuat api di bawah kuali itu. Tapi kalau kayu yang saudara pakai itu adalah semak belukar yang ada berduri, ketika itu dibakar, itu kelihatannya menarik, ada percikan-percikan api (sparks) tetapi itu hanya menyala sebentar saja. Lalu ada suara seperti mercon, kedengarannya meriah tetapi sebetulnya tidak bisa memanaskan air dalam kuali itu karena tidak lama api itu padam. Demikianlah, kalau kita menghabiskan hidup kita hanya dengan mendistract hidup kita itu dengan hal-hal yang tidak berguna seperti ini. Kelihatan menarik, kelihatan seru, meriah tetapi kita tidak bisa belajar bagaimana hidup dengan baik. Ini poin pertama, apa yang baik bagi manusia hidup di bawah matahari ini adalah perhatikanlah kematian. Hidup kita sementara, maka itu kita harus menggunakan hidup kita dengan sebaik mungkin.

Poin kedua ayat 7-10, kita bisa melihat satu tema besar. Apa yang baik bagi manusia adalah kita harus belajar sabar, belajar menunggu, belajar menunggu dengan sabar (to wait wisely). Dikatakan di ayat 7-8, bagaimana pemerasan pun bisa membodohkan orang berhikmat, uang suap merusakkan hati. Belajar menunggu dengan bijaksana itu bisa dalam berbagai macam bentuk. Pertama, belajar menunggu artinya kita tidak mudah tergoda untuk terburu-buru mencari solusi yang cepat. Tetapi dalam keadaan di mana kita diperas, ditindas, (oppresed), orang baik sekalipun merasa terdesak. Kita bisa tergoda untuk kompromi, entah kita memberikan atau menerima uang suap sehingga seolah-olah dengan melakukan hal kecil ini masalah kita bisa cepat selesai. Tetapi Pengkhotbah mengatakan uang suap itu merusak hati kita. Dan kita harus belajar untuk memperhatikan akhir segala sesuatu. Kadang kita tidak sabar ingin semuanya selesai, tetapi dengan kita berkompromi, ternyata kita malah mendapatkan hati yang rusak.  Kita merasa sudah tidak tahan lagi, ingin masalah ini cepat selesai, sudahlah saya kompromi dan ending-nya adalah kita menjadi orang berdosa. Saya merasa kesepian, ingin pasangan dan seterusnya, tetapi dengan kita terburu-buru, kita akhirnya jatuh dalam dosa perzinahan. Kita tidak tahan menanti, tetapi ketika kita ambil shortcut, endingnya adalah kita orang berdosa. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita yang dalam pergumulan berat untuk kita tetap bisa bertahan, supaya kita bisa melewati garis akhir pergumulan kita dengan kesetiaan.

Kedua, bagaimana kita bisa belajar menanti dengan sabar? Yaitu belajar mengendalikan emosi kita. (Pengkhotbah 7:9) Dalam keadaan tertekan, di mana hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita mau, kita bisa kehilangan kontrol dalam emosi kita. Kita merasa harusnya kita layak mendapatkan yang lebih baik, kenapa seperti ini? Kita mulai kecewa, pahit, dan kita pendam amarah dalam hati kita. Seperti ayat 9 katakan, amarah itu menetap dalam dada kita. Kita terus memupuk, memendam, menumpuk amarah itu makin lama makin bertumbuh, makin tambah besar, sampai akhirnya amarah itu meledak dan kita melakukan hal-hal yang sangat kita sesali. Terkadang, kita merasa kalau kita meluapkan amarah kita, sepertinya kita punya kuasa besar. Kita mau rebut kendali hidup kita dalam tangan kita. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah kita kehilangan kendali atas emosi kita sendiri. Maka kita perlu belajar untuk mengendalikan emosi kita. Jangan lekas marah.

Ketiga, bagaimana kita menanti dengan bijaksana? Ayat 10, jangan terlalu cepat menggerutu (complain). Yang namanya nostalgia masa lalu itu bisa menjadi suatu berkat yang sangat menghibur kita dalam hari-hari kita, tetapi bisa menjadi sesuatu yang toxic nostalgia, seperti yang Israel lakukan di padang belantara. Memang di padang belantara pasti hidup mereka tidak mudah, mereka harus mengalami panas, dingin, hujan. Makanan juga sangat terbatas, maka mereka teringat, seandainya seperti dulu hidup di Mesir. Kadang ketika kita mengalami kesulitan dalam hidup ini, begitu mudahnya untuk kita menjadi toxic nostalgia seperti ini. Kita hanya bisa melihat hal-hal jelek dalam hal sekarang kita alami, hanya mengingat hal-hal baik di masa lalu dan tutup mata terhadap kejelekan-kejelekan di masa lalu. Tutup mata terhadap segala berkat yang Tuhan berikan kepada kita di masa sekarang ini. Israel ingat mereka dulu bisa makan ini dan itu, tetapi mereka tidak sebutkan, mereka dulu budak. Sekarang kami adalah anak-anak Allah pencipta langit dan bumi. Mereka tidak mengatakan dan tidak melihat hal itu. Mereka hanya melihat sebagian dari masa lalu dan sebagian dari masa sekarang. Padahal setiap masa dalam hidup kita itu memiliki kesempatannya masing-masing, kelebihan masing-masing, tantangan masing-masing. Kita tidak bisa begitu saja membandingkan antara masa lalu kita dengan masa sekarang kita. Kalau kita kembali ke tempat yang dulu kita ada kenangan indah di tempat ini dan kita kembali pergi ke sana, pasti rasanya sudah berbeda. Kita tidak lagi bisa mengalami hal yang dulu kita alami. Itu tidak apa-apa, karena memang Tuhan punya rencana yang berbeda bagi kita sekarang ini. Sekalipun zaman sekarang ini menjadi zaman yang jauh lebih susah bagi kita dibandingkan zaman dulu, tetap kita harus belajar melihat apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup kita. Mungkin dulu kita masih memiliki tubuh yang sehat, tubuh yang bisa melakukan banyak hal dan sekarang tubuh kita sangat terbatas. Mungkin dulu relasi-relasi dalam hidup kita itu jauh lebih sederhana dan jauh lebih indah, lebih seru, lebih menyenangkan tapi sekarang kita ada relasi dengan seseorang yang mungkin sangat susah. Mungkin keadaan ekonomi kita dulu jauh lebih baik daripada sekarang. Tapi apapun keadaan kita, kita harus belajar apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Kita harus belajar menunggu dengan setia, belajar puas dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita dan lakukan yang terbaik. Ayat 11-12  warisan dalam budaya Israel zaman itu adalah sepetak tanah. Dalam budaya agriculture, tanah berarti cocok tanam, berarti ada makanan, ada keamanan, stabilitas dan seterusnya. Demikianlah hikmat bijaksana seorang manusia yang bisa membuat dia tetap bertahan di tengah-tengah keadaan yang sulit. Yaitu belajar melihat ada kebaikan-kebaikan apa yang tersembunyi di balik hal-hal yang mengerikan seperti kematian sekalipun. Kita belajar mendengarkan hal-hal yang bijaksana, hal yang baik yang mengajarkan kita, sekalipun mungkin itu tidak nyaman. Kita belajar sabar menghadapi segala sesuatu menanti dengan setia.

Penutup ayat 13-14. Tadi kita melihat pertanyaan kedua dari Kohelet, siapa yang bisa memberitahukan kepada kita apa yang akan terjadi? Ayat ke-13, siapa yang sudah menetapkan hari-hari kita? Itu adalah Allah sendiri. Sia-sia untuk kita berdebat dengan Allah, apa yang Allah tetapkan itulah yang terjadi. Apa yang Allah bengkokkan akan bengkok dan apa yang Allah luruskan akan Allah luruskan. Hanya Allah yang tahu masa depan dan kita tidak bisa mengubahnya. Tetapi ketika kita melihat ini, bagaimana kemudian kita menjalani hidup ini? Dalam ayat 14, Pengkhotbah mengatakan: dalam hari mujur bergembira, bersyukur kepada Allah. Karena Allah yang menjadikan hari-hari mujur seperti itu, bukan karena usaha atau kebaikan kita, tapi Allah yang memberikannya kepada kita. Maka dalam pembelajaran kita dari perikop sebelumnya kita belajar untuk punya gratitude, ucapan syukur kepada Allah. Tapi yang menjadi pertanyaan utama di sini adalah apa yang harus kita lakukan dalam hari-hari yang malang.

Bagian sebelumnya kita belajar dua hal, pertama kita belajar untuk memperhatikan hal-hal yang baik yang tersembunyi di balik kemalangan sekalipun. Kita belajar sabar untuk tidak tergesa-gesa. Kita ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat tapi kompromi. Jangan sampai kita kehilangan kendali atas emosi kita. Kita harus belajar terima apa yang kita dapat sekarang dan jangan hanya memiliki nostalgia-nostalgia masa lalu yang toxic. Dalam bagian ini kita belajar dari Pengkhotbah: Ingatlah atau perhatikanlah pekerjaan Allah, karena Allah yang menjadikan segala sesuatu. Hari mujur dan hari malang Allah yang jadikan, dan kita tidak bisa berdebat dengan Allah. Kita hanya bisa datang kepada Allah dengan iman yang gentar di hadapanNya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, apalagi kita tidak bisa mengontrol masa depan kita. Yang kita bisa hanyalah menerima hari mujur dan hari malang, yang semuanya datang dari tangan Allah. Tapi yang jadi penghiburan kita, sekalipun kita tidak tahu apa yang ada di masa depan, kita tahu yang memegang masa depan kita adalah Allah sendiri. Dalam masa-masa malang kita datang kepada Allah, bukan untuk mencari jawaban tapi untuk berlindung di dalam kuasaNya yang berdaulat. Dan inilah perbedaan antara fatalisme atau yang namanya nasib dengan Allah yang berdaulat, yang kita percaya dalam teologi reformed. Kedaulatan Allah adalah sesuatu yang kadang kita sulit mengerti dengan pikiran kita. Tetapi sangat bisa dan sangat memungkinkan untuk kita jalani dalam hidup ini. Mungkin kita tidak tahu kenapa Allah memberikan kepada kita hari-hari malang seperti ini. Tapi kita yang mengenal pekerjaan Allah yang besar, kita bisa tetap datang kepadaNya dengan iman yang gentar.

Bukankah ini yang dialami oleh Ayub? Dalam bagian pertama cerita kita melihat dalam sekejap hidupnya yang begitu lurus tiba-tiba bengkok tidak karuan karena Allah. Dalam semalam dia kehilangan hartanya, anak-anaknya dan segala sesuatu. Tapi Ayub mengatakan Allah memberi, Allah mengambil. Kemujuran dari Allah, demikian juga kemalangan dari Allah. Ayub mencoba untuk terus bertahan, terus bersabar, tapi lama-lama dia mencoba berdebat. Dia mencoba untuk berargumen dengan Allah. Sampai hampir mencapai puncaknya muncul seorang bernama Elihu yang mengatakan, “Berhentilah dan perhatikan pekerjaan besar Allah.” Ketika Ayub melihat kebesaran Allah, maka dia mengatakan, “Sekarang aku akan tutup mulut dan duduk di atas debu.” Karena sekalipun Ayub tidak mengerti kenapa ini terjadi, dia bahkan tidak diceritakan ada dialog antara Allah dan setan. Ayub mendapatkan ketenangan ketika dia kembali diingatkan, yang menjadikan segala sesuatu ini adalah Allah yang besar dan berkuasa. Allah yang menyatakan diriNya kepada dia dan melihat apa yang dia alami. Sehingga dalam hidupnya yang begitu malang, dia tetap tahu bahwa dia tidak berjalan sendiri. Ini bedanya antara percaya Allah yang berdaulat dan sekedar percaya kepada nasib. Sama-sama tidak bisa membantah nasib yang diberikan kepada kita, tetapi ketika kita punya Allah, kita bisa datang dan berlindung kepadaNya.

Sebagai penutup, kalau orang Perjanjian Lama saja bisa datang kepada Allah dengan iman yang gentar seperti ini, apalagi seharusnya kita orang-orang dalam Perjanjian Baru. Orang-orang yang pernah melihat bagaimana Allah pernah menggunakan satu hari yang paling malang dalam sejarah, penyaliban Anak tunggal-Nya Yesus Kristus untuk mendatangkan pengharapan dan kebahagiaan paling tinggi dalam dunia ini. Bisakah kita mengatakan “Amin” kepada Roma 8 yang mengatakan Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita? Kita percaya Allah bekerja di balik segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini. Kristus yang disalibkan menunjukkan apa yang Allah kerjakan semata-mata adalah demi kebaikan umatNya. Mengingat ini, apakah kita takut kepada penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya pedang? Apakah kita takut kepada maut, malaikat, pemerintah-pemerintah dan seterusnya? Karena salib Kristus menyatakan semua itu tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah. Hidup di bawah matahari ini memang tidak selalu make sense. Tapi hidup di bawah tangan Allah yang berdaulat tidak pernah sia-sia. Mari kita belajar hidup dengan bijaksana. Mengingat bahwa suatu hari nanti hidup kita ini, segala pergumulan ini akan berakhir. Mari kita menanti dengan sabar, dengan setia, mengingat bahwa Tuhanlah yang memberikan hari yang cerah juga hari yang penuh dengan awan. Percayalah bahwa suatu hari nanti Dia yang di atas matahari itu akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.