Download versi cetak: 1272_1445_KebaktianPagiSore_2026-12Jul_AJ
Eksposisi Matius (94) – Bapa kami yang di Sorga, dikuduskanlah nama-Mu
Matius 6:9-13; Yohanes 1:12-13; Ibrani 12:7-11
Pdt. Adrian Jonatan M.Th
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Di dalam bagian sebelumnya kita telah mempelajari istilah Bapa kami yang di surga. Sebelum melanjutkan perenungan, penting untuk kita untuk memahami arti pengulangan, khususnya saat mendengarkan Firman Tuhan. Ketika kita berulang kali mendengar firman yang sama, terutama bagi yang sudah lama beribadah, kita mungkin merasa sudah mengetahuinya. Namun, justru melalui pengulangan itulah informasi yang awalnya hanya menjadi pengetahuan perlahan berubah menjadi keyakinan yang tertanam di hati dan menghasilkan perubahan hidup. Prinsip ini sama seperti proses belajar di sekolah, di mana guru tidak langsung berpindah ke materi berikutnya, melainkan terus mengulang sampai murid benar-benar memahami sebelum melanjutkan ke pelajaran yang lebih lanjut. Contohnya guru akan mengulang akan tambah-tambahan sebelum masuk ke dalam pengurangan.
Karena itulah di dalam sekolah ada istilah ulangan, yang bertujuan untuk mengulang kembali apa yang telah dipelajari sehingga seseorang bukan hanya pernah mendengar, tetapi juga mampu mengingat dan memahaminya. Demikian juga ketika mendengarkan Firman Tuhan, kita perlu memiliki pola pikir sebagai seorang yang sedang belajar, bukan sekadar mencari informasi baru. Karena itu, pengulangan tidak boleh disia-siakan. Jika kita langsung kehilangan perhatian hanya karena merasa sudah pernah mendengarnya, kita kehilangan kesempatan untuk semakin menanamkan kebenaran itu di dalam hati. Hal ini juga penting bagi anak-anak, yang sering merasa bosan ketika mendengar cerita Alkitab yang sama, sehingga akhirnya gagal menangkap makna dan pesan utama dari cerita tersebut.
Pengulangan sangat penting karena Firman Tuhan merupakan proses pembelajaran, bukan sekadar hiburan. Sering kali kita mendengarkan khotbah dengan pola pikir seperti menonton hiburan, yaitu ingin cepat selesai, mencari sesuatu yang baru, dan merasa tidak perlu mendengar hal yang sama lagi. Sikap seperti ini membuat kita kehilangan kesempatan untuk bertumbuh secara rohani. Berbeda dengan hiburan, seperti Netflix, yang lumrah tidak perlu diulang. Firman Tuhan justru perlu direnungkan dan direfleksikan kembali agar kebenaran yang sudah pernah didengar semakin mengoreksi hidup dan tertanam di dalam hati.
Sebagai tambahan, pengalaman rohani juga dapat menunjukkan pentingnya pengulangan. Seseorang mungkin pertama kali mendengar khotbah yang sangat berkesan, misalnya khotbah Pdt. Stephen Tong, lalu terdorong untuk terus mendengarkan semua khotbah dari pengkhotbah tersebut. Meskipun terlihat rohani, hal itu bisa membuat pengetahuan semakin banyak tanpa diikuti pertumbuhan rohani yang sehat. Lama-kelamaan timbul rasa bosan karena merasa semua yang didengar hanyalah pengulangan. Hal ini terjadi bukan karena Firman Tuhan kehilangan maknanya, melainkan karena kita tidak membiasakan diri merenungkan kembali kebenaran yang sama sehingga pengulangan tidak lagi menjadi sarana pertumbuhan rohani.
Hari ini kita kembali mengulang Doa Bapa Kami, khususnya bagian “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu.” Tuhan Yesus mengajarkan doa ini bukan sebagai mantra yang diucapkan berulang-ulang tanpa pengertian, melainkan sebagai pola yang perlu dipahami dan dihayati sehingga secara alami membentuk cara kita berdoa. Pengulangan tetap penting, tetapi tujuannya agar pola doa ini tertanam dalam hidup kita. Seperti seseorang yang belajar kungfu melalui latihan yang terus-menerus, jurus yang dipelajari tidak selalu dipakai dengan bentuk yang sama dalam setiap situasi. Demikian pula, meskipun pergumulan hidup berbeda-beda, Doa Bapa Kami menjadi pola yang menuntun kita untuk berdoa di dalam setiap keadaan.
Pada perenungan sebelumnya kita melihat bahwa doa ini dimulai dengan panggilan yang sangat indah sekaligus mengejutkan, yaitu “Bapa kami yang di surga.” Meskipun sudah biasa diucapkan, sebenarnya kita tidak memiliki hak secara alami untuk memanggil Allah sebagai Bapa, karena kita hanyalah ciptaan-Nya, bahkan ciptaan yang telah berdosa dan memberontak terhadap-Nya. Seperti lelucon zaman SMA, orang ini sudah nakal, jelek, hidup pula, sebuah keberadaan yang negatif. Oleh sebab itu, panggilan ini merupakan anugerah yang luar biasa. Orang-orang Yahudi pun terkejut ketika Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya hingga ingin menghukum-Nya. Ironisnya, mereka tidak menyadari bahwa Yesus adalah satu-satunya pribadi yang benar-benar berhak memanggil Allah sebagai Bapa, karena Dia bukan ciptaan, melainkan Anak Tunggal Bapa.
Bagian yang paling mengharukan adalah ketika Yesus, Anak Tunggal Bapa yang satu-satunya berhak memanggil Allah sebagai Bapa, justru mengajarkan kita untuk melakukan hal yang sama. Melalui Dia, hak tersebut dibagikan kepada kita sehingga kita diangkat menjadi anak-anak Allah, bukan karena secara alami kita adalah anak-Nya, melainkan karena kita diadopsi di dalam Kristus. Kita hanya dapat memanggil Allah sebagai Bapa di dalam nama Yesus. Kesadaran ini seharusnya memenuhi hati kita dengan rasa syukur, bukan merasa memiliki hak atas Allah, tetapi menyadari bahwa kita yang tidak layak telah diberi anugerah yang begitu besar. Anugerah ini dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu ketika Yesus, yang selalu memanggil Allah sebagai Bapa, justru di kayu salib mengalami masa ketika Ia tidak memanggil-Nya sebagai Bapa.
Di kayu salib Yesus berseru,” Eli, Eli, lama sabakhtani?” “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seruan ini bukan karena Yesus bingung, melainkan karena Ia sedang mengambil tempat sebagai manusia berdosa yang tidak bisa memanggil Allah sebagai Bapa. Di saat itu Yesus menukar posisi-Nya dengan kita: Ia rela mengalami keterpisahan supaya kita memperoleh hidup kekal dan dapat memanggil Allah sebagai Bapa. Seperti ketika Yesus berkata, “Aku haus,” Ia menanggung kehausan agar kita menerima air hidup. Karena itu, setiap kali mengucapkan, “Bapa kami yang di surga,” kita harus menyadari bahwa kalimat ini adalah anugerah yang dibayar dengan harga yang sangat mahal. Gereja mula-mula pun memandang Doa Bapa Kami dengan sangat serius; hanya mereka yang telah menyatakan iman kepada Kristus di hadapan jemaat yang diperbolehkan mengucapkannya, sebagai tanda bahwa mereka sungguh-sungguh telah menjadi anak-anak Allah.
Sebutan “Bapa Kami” merupakan panggilan yang sangat indah karena relasi seorang anak dengan ayahnya sangat memengaruhi pembentukan karakter, kejiwaan, bahkan kerohaniannya. Meskipun banyak teori psikologi menekankan peran ibu, peran ayah juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa banyak tokoh ateis besar kehilangan figur ayah sejak kecil, meskipun hal itu tentu bukan berarti setiap orang yang kehilangan ayah pasti menjadi ateis. Karena itu, kehadiran seorang ayah sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Namun, bagi mereka yang kehilangan figur ayah, tetap ada penghiburan karena mereka dapat mengenal Allah sebagai Bapa. Pada akhirnya, pengenalan seorang anak akan Bapa di surga sering kali dibentuk melalui pengalaman dan relasinya dengan ayah di dunia. Karena itu, penting sekali bagi para bapak dan laki-laki yang kelak akan menjadi ayah untuk menyadari besarnya tanggung jawab yang Tuhan berikan. Dunia mungkin tidak banyak menekankan hal ini. Firman Tuhan mengingatkan bahwa seorang ayah dipanggil untuk membesarkan anak di dalam Tuhan. Melalui karakter ayahnya, seorang anak belajar mengenal dan merasakan karakter Allah sebagai Bapa. Oleh sebab itu, seorang ayah harus mencerminkan karakter Allah, yaitu menjadi pribadi yang memelihara, menyediakan kebutuhan, serta melindungi keluarganya, sebagaimana Allah Bapa senantiasa menjaga dan memelihara anak-anak-Nya.
Seorang ayah juga dipanggil untuk menjadi teladan dan penuntun dalam kebenaran bagi anak-anaknya. Pada masa pertumbuhan, anak perlu belajar dari ayahnya mengenai apa yang benar dan salah, apa yang boleh dan tidak, serta batasan-batasan yang harus dihormati. Namun, seorang ayah tidak boleh mengatur secara berlebihan, karena seperti Allah Bapa, ia harus memberikan keseimbangan antara batasan dan kebebasan. Batasan tanpa kebebasan akan membuat anak tertekan, sedangkan kebebasan tanpa batasan akan menimbulkan kebingungan dan kekacauan. Seperti dalam permainan sepak bola yang memiliki aturan sekaligus ruang untuk bermain dengan bebas, justru melalui aturan itulah kemampuan seseorang dapat berkembang. Jika tidak ada aturan apakah menjadi lebih seru? Justru tidak. Demikian pula, seorang ayah berperan penting dalam menanamkan prinsip-prinsip kebenaran sambil memberi ruang bagi anak untuk bertumbuh dengan baik.
Selain memberikan batasan, seorang ayah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan ganjaran atau disiplin kepada anaknya. Seperti yang kita baca dari Ibrani, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Firman Tuhan mengajarkan bahwa didikan dan hukuman merupakan bagian dari kasih seorang ayah kepada anaknya. Namun, disiplin ini harus diberikan dengan tepat, bukan sebagai pelampiasan emosi atau kekerasan. Melalui disiplin yang benar, anak belajar tentang kebenaran dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Sebaliknya, hukuman yang berlebihan atau tidak adil hanya akan membuat anak melihat ayahnya sebagai pribadi yang kejam. Karena itu, seorang ayah harus mendidik berdasarkan kebenaran Tuhan, bukan keinginannya sendiri, sehingga anak belajar mengenal prinsip-prinsip kebenaran yang sejati dan menerima disiplin yang diberikan secara adil pada waktunya.
Selanjutnya, sekarang perhatian diarahkan kepada anak-anak. Anak-anak marilah kita belajar menghargai ayah yang Tuhan berikan. Meskipun seorang ayah memiliki kelemahan, kita tetap patut bersyukur atas kehadirannya, tanpa menjadikan hal itu alasan untuk membenarkan kesalahan seorang ayah. Firman Tuhan ditujukan kepada setiap pribadi sesuai tanggung jawabnya masing-masing. Yang terpenting, sikap kita terhadap ayah di dunia sangat memengaruhi cara kita memandang Allah sebagai Bapa di surga. Ibrani 12 mengajarkan bahwa jika kita dapat menerima didikan dan menghormati ayah di dunia, kita akan lebih mudah memahami dan menghargai didikan Bapa di surga. Sebaliknya, jika kita tidak mampu menghargai ayah kita, akan semakin sulit bagi kita untuk mengenal dan menghormati Allah sebagai Bapa.
Saat remaja, saya pernah memiliki kemarahan yang sangat besar terhadap ayah saya. Meskipun saya menyadari bahwa ayah memang memiliki kelemahan dan tidak sempurna, saya merasa sangat sulit menerima kekurangan tersebut, bahkan kemarahan itu terbawa hingga ke dalam mimpi. Setelah dewasa, saya menyadari bahwa tanpa disadari saya telah menuntut ayah menjadi pribadi yang sempurna. Melalui pergumulan itu, saya memahami bahwa sikap tidak menghargai dan tidak menghormati ayah merupakan sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh Iblis untuk menumbuhkan kepahitan dalam hati. Karena itu, saya belajar membawa pergumulan tersebut kepada Tuhan dan tidak membiarkan kebencian terus berkembang. Pengalaman ini menjadi pengingat agar kita belajar menghargai ayah kita, terlebih ketika arus dunia justru mendorong sikap yang sebaliknya.
Melihat banyak film anak-anak belakangan ini, saya mengamati bahwa semakin sedikit tokoh utama laki-laki yang menampilkan sosok ayah yang bertanggung jawab, rela mengatasi kelemahannya, melindungi orang lain, dan berdiri teguh dalam kebenaran. Bahkan setelah mencoba mencari contohnya, hampir tidak ditemukan selain tokoh lama seperti Mufasa dalam The Lion King. Hal ini menunjukkan bahwa figur ayah semakin jarang ditampilkan sebagai teladan yang positif. Di balik kenyataan tersebut, ada keprihatinan bahwa dunia semakin mengabaikan pentingnya peran seorang ayah. Karena itu, ketika kita berdoa, “Bapa kami yang di surga,” kita diajak untuk kembali menyadari betapa pentingnya relasi antara ayah dan anak, serta bagaimana hubungan itu menolong kita memahami Allah sebagai Bapa.
Sekarang kita masuk ke dalam kalimat yang kedua. Setelah memanggil Allah sebagai Bapa, Doa Bapa Kami langsung mengajarkan kita untuk berdoa, “Dikuduskanlah nama-Mu.” Fokus pertama dalam doa bukanlah kebutuhan diri sendiri, melainkan meninggikan Tuhan. Berbeda dengan kebiasaan kita yang sering langsung menyampaikan permohonan pribadi, minta diberkati ini dan itu. Tetapi jika kita bandingkan, tiga permohonan pertama dalam Doa Bapa Kami seluruhnya berpusat kepada Allah: Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, dan jadilah kehendak-Mu. Hal ini penting karena nama Tuhan mencerminkan bagaimana kita memandang Allah di dalam hati. Allah memang adalah realitas yang objektif, tetapi kita mengenal-Nya secara subjektif melalui pengenalan kita akan Dia. Kita tidak mengenal Allah secara objektif, dengan kata lain kita menilai Allah seperti apa dan itulah Allah yang ada di dalam hati atau pikiran kita. Seberapa tingginya kita boleh memuliakan Allah itu adalah pandangan subjektif kita tentang Allah. Dan karena itulah penting untuk pandangan subjektif setidaknya mirip dengan sesuatu realitas objektif.
Sebuah analogi dari melihat harga barang. Harga barang adalah sesuatu yang ditentukan secara subjektif, tetapi kita perlu tahu objektifnya harga barang itu. Misal harga barang $100 tetapi modalnya hanyalah $50 maka harganya kita anggap mahal. Tetapi ada barang lain yang harganya $10,000 tetapi ketika kita perhatikan barang ini adalah barang berharga yang hanya ada satu di dunia dan kita tahu benda ini dilelang mahal. Maka harga itu menjadi murah dan kita akan membeli. Melalui ilustrasi ini kita melihat perlu ada pengertian yang benar akan nilai Tuhan itu seperti apa. Inilah sebabnya waktu berdoa penting untuk kita memulai dengan menguduskan dan meminta Tuhan menguduskan nama Tuhan di dalam hati kita.
Jika kita membaca kitab Mazmur, misalnya Mazmur 8 dan 9, kita melihat Mazmur sering dimulai dengan memuliakan Tuhan terlebih dahulu. Mungkin ketika kita berdoa seperti ini, kita merasa apakah kita menjilat Tuhan. Misal kita bandingkan ketika kita berkata dan memuji atasan kita, “Bos, kemarin kamu sungguh luar biasa, keputusanmu jitu dan sungguh layak engkau menjadi bos.” Tentu ini terasa berlebihan. Lalu kita bayangkan pengalaman kita memuji Tuhan terasa berlebihan. Di sini saya mau mengajak bahwa terhadap manusia kita tidak boleh melakukannya tetapi sebanyak apapun pujian kita bagi Tuhan itu tidak cukup untuk mencapai realitas objektif Tuhan. Karena itu kita perlu membiasakan diri menguduskan nama Tuhan sebelum menyampaikan kebutuhan kita. Sering kali pertumbuhan rohani terhambat karena kita langsung meminta berbagai hal, bahkan lupa bersyukur, sehingga tanpa sadar memperlakukan Allah seperti pelayan yang hanya memenuhi permintaan kita. Ketika saya merenungkan hal ini, saya melihat bahwa sikap ini juga dapat dipengaruhi oleh cara kita memandang ayah di dunia, yang sering kali hanya dicari saat dibutuhkan. Sebagai ayah tentu kita harus melayani anak-anak. Tetapi juga anak-anak harus belajar menghargai ayah. Dan terlebih lagi kita perlu belajar menghargai Bapa yang di surga ini.
Ketika kita berdoa, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu,” kata dikuduskan berarti dikhususkan atau ditempatkan pada posisi yang semestinya, bukan sekadar dimaknai sebagai bersih atau tidak berdosa. Sesuatu yang kudus adalah sesuatu yang memiliki tempat yang istimewa karena nilainya yang sangat tinggi. Seperti barang yang sangat berharga tadi, yang kita beli $10,000, tidak mungkin kita letakkan sembarangan. Melainkan disimpan di tempat khusus. Demikian pula nama Tuhan harus ditempatkan pada posisi yang paling mulia di dalam hati kita. Inilah makna menguduskan nama Tuhan, yaitu menempatkan Dia sesuai dengan kemuliaan dan nilai-Nya yang sesungguhnya.
Karena itu, saat berdoa kita harus menempatkan Tuhan pada posisi yang semestinya. Sering kali kita gagal melakukannya karena sudah terbiasa memperlakukan nama Tuhan dengan kurang hormat. Di tengah dunia yang dengan mudah menggunakan nama Tuhan untuk hal-hal yang sia-sia, seperti berbagai ungkapan yang mengucapkan nama Tuhan secara sembarangan, kita dapat kehilangan rasa hormat terhadap kekudusan nama-Nya. Akibatnya, ketika kita benar-benar datang kepada Tuhan dalam doa, kita menjadi sulit mengagungkan dan memuliakan-Nya dengan sungguh-sungguh. Dunia menggunakan nama Tuhan dengan sembarangan, istilah ‘OMG’, Jesus, Christ, dan hal-hal lain itu dilontarkan dengan begitu mudah. Kadang kita pun tidak berpikir itu buruk. Di sini saya mau mengajak kita melihat dampak langsungnya adalah waktu kita harus memanggil nama Tuhan dengan benar itu menjadi susah. Akhirnya seperti nama Tuhan itu kita anggap remeh. Di sinilah kenapa penting untuk kita ingat di dalam kita berdoa, mari kita menguduskan nama Tuhan.
Saya dengar suatu cerita menarik. Para pengunjung museum sedang melihat berbagai guci yang indah dan mahal. Ketika sang pemandu wisata bertanya kepada pengunjung akan guci mana yang mereka paling suka, ada yang menjawab guci yang hijau, mengkilap, besar, juga tampak tak akan pecah jika jatuh. Sang pemandu wisata bingung karena sepertinya dia tak tahu guci seperti itu. Sang pengunjung menunjukkan yang dia suka dan pemandu wisata marah karena yang dimaksud pengunjung itu ternyata adalah tempat sampah. Memang tempat sampah itu tidak akan pecah kalau jatuh, tetapi ini bukanlah guci. Di sini kita perlu mengerti konsep penempatan. Setiap kali kita berdoa, marilah kita menempatkan Tuhan di tempat yang khusus dan kiranya kita boleh terus bertumbuh ya di dalam kehidupan doa kita.