Download versi cetak: 1437_KebaktianSore_2026_17-May_STong
Panggilan Tuhan Kepada Daud (14)
Pdt. Dr. Stephen Tong
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Kita sudah bicara lima krisis, kemiskinan, kelelahan, ketiduran, penyelewengan, kematian. Setiap orang mengalami kelima hal ini. Kadang-kadang kita miskin, kita tidak mampu mempunyai apa-apa. Kadang-kadang kita terlalu Lelah, tidak ada semangat hidup. Kadang-kadang kita tertidur, kita mengantuk, kita tidak sadar apa yang mungkin terjadi. Kadang-kadang karena tertidur kita menyeleweng, kita salah jalan dan kita tidak tahu. Krisis kelima kita menghadapi akhir hidup dan tidak tahu kita mau ke mana. Setiap hari manusia bergumul di dalam semua kesulitan dan krisis-krisis seperti itu. Hari ini kita akan meneruskan masih ada lima krisis yang menimpa hidup kita.
Keenam, krisis tersendiri, tidak ada kawan, tidak ada orang yang menghibur dan menyertai kita. Kita mendadak merasa hidup sangat tersendiri, komunitas tidak ada, hubungan tidak ada, partnership tidak ada. Entah bagaimana bisa meneruskan perjalanan hidup kita. Pada waktu loneliness datang, kita sulit mengatasi kesulitan. Pernahkah mengalami ini? Mendadak kawan pergi? Mendadak orang tidak dekat kamu. Mendadak segala kesulitan engkau harus jalani dengan sendiri dan harus menanggung semuanya. keenam.
Ketujuh, engkau tidak ada yang memberi nasihat, tidak ada orang yang mengajar, tidak ada orang yang beri peringatan kepada kamu. Saya bicara pada anak-anak sekolah teologi, “When you graduated, you become a preacher. A very dangerous situation will come to you.” Satu jangka masa study sudah lewat, kita sudah mulai lega dan senang. Tidak usah ujian dan tidak usah menghadapi kesulitan lagi. Saya katakan justru kesulitan sekarang baru tiba, jikalau engkau tidak ada guru lagi. Kalau engkau menjadi pendeta, setelah lulus, tidak ada orang memperingatkan, tidak ada orang menasihati, tidak ada orang yang memberikan advice atau memberikan peringatan-peringatan yang penting, itu bahaya sekali. Ada orang tanya, “Coba ambil contoh”. Saya berkata, contohnya mudah. Waktu engkau masih seorang murid, guru mengawasi, guru mengajar, guru memberikan peringatan, ketika engkau sudah lulus, lepas dari sekolah, tidak ada orang yang memberi nasihat, tak ada orang yang mengawasi dan juga memberikan warning akan bahaya yang mendatang. Banyak pendeta gagal karena setelah dia lulus tidak ada guru lagi. Kalau engkau sudah lulus sekolah teologi, tidak ada guru lagi, engkau menghadapi segala sesuatu dengan kemampuan yang kau kira kau sudah bisa menghadapinya. Itulah kesulitan yang engkau tidak sadar. Alangkah baiknya kalau engkau masih ada penasihat, ada orang yang memberikan kepada engkau peringatan dan nasehat supaya engkau tidak sembarangan.
Saya bicara di master class GRII, inilah tempat engkau masih diayomi, engkau masih dimengerti oleh kawan-kawanmu. Bedanya dengan melayani di sinode lain, di GRII setiap minggu para pendeta berkumpul, dan ada pendeta tua seperti Stephen Tong yang masih bisa memberikan kekuatan, memberikan anjuran, memberikan nasehat untuk berhati-hati menjadi hamba Tuhan. Tetapi di gereja lain setelah engkau lulus dan engkau menjadi pendeta, tidak ada lagi orang yang mengayomi dan memberikan peringatan kepadamu. Bedanya apa? Engkau kalau sedikit salah tidak ada orang kasih tahu. Kalau engkau khotbah salah, tidak ada orang koreksi. Engkau berada di dalam kesalahan dan tidak sadar, sehingga engkau akan terus di dalam kesalahan makin lama makin dalam. Ini bahaya sekali. Pemimpin-pemimpin gereja yang tidak kokoh teologinya dan tidak cukup bertanggung jawab, mereka terus makin salah dan tidak sadar, karena merasa sudah lulus dan sudah cukup belajar. Mereka tidak tahu belajarnya tidak tuntas, karena gurunya mengajar sendiri tidak tuntas. Berbahagialah kalau seorang yang sudah lulus masih bersikap hati seorang murid yang selalu mengawasi diri dan terus berhati-hati. Saudara hati-hati, setelah engkau rasa dirimu sudah cukup, di situ engkau mulai mengalami krisis yang sebelumnya tidak ada.
Selain itu masih ada krisis lain. Krisis kedelapan, yaitu kekurangan anugerah dan kekurangan cinta kasih yang terus mengikuti engkau. Engkau jalan sendiri, merasa sudah dewasa, merasa sudah cukup, tidak ada lagi anugerah baru yang datang kepadamu, tidak ada cinta kasih yang mengikuti engkau, karena semua orang kira engkau sudah pemimpin jadi tidak lagi perlu. Kadang-kadang anak-anak pikir, papa sudah dewasa tidak perlu, padahal yang menjadi papa tahu dia sedang belajar menjadi papa, banyak hal yang tidak dimengerti. Murid pikir guru sudah bisa menjadi guru, pasti dia sudah cukup. Tapi seorang guru yang baik adalah seorang yang merasa diri tidak pernah cukup belajar, harus terus menuntut, harus terus mengisi. Kalau tidak, sulit menangani semua yang perlu dia berikan pertolongan. Sama seperti pendeta, jemaat kira pendeta sudah tahu semua. Saya dulu pernah mempunyai seorang pembantu tua, dia seorang Katholik. Saya tanya dia, “Kalau engkau ada kesulitan, engkau cari siapa?” Dia menjawab, “Saya cari pastor, karena pastor itu pimpinan saya di gereja.” Lalu saya tanya dia, “Kalau pastormu ada kesulitan cari siapa?” Jawaban dia membuat saya kaget, “Pastor kok bisa susah?” Bagi dia pastor sudah tidak ada masalah, bisa tanggung dan selesaikan sendiri semuanya. Be a student, never satisfied and never over confident. Jangan rasa diri sudah cukup. Itu bahaya yang sering tidak kelihatan.
Krisis kesembilan, Kita tidak bisa menghindar untuk berjumpa dengan musuh. Setiap orang bisa tertawa, tetapi tertawa dari musuh adalah tertawa yang dingin. Karena dia menentang dan melawan engkau. Dia membenci dan memusuhimu. Tertawa dari mereka bukan untuk maksud baik. Banyak orang yang berada di dalam keadaan seperti ini, mereka tidak berdaya untuk keluar dari kesulitan. Karena menghadapi musuh, yang dilihat adalah permusuhan dan kebencian. Di dalam hati kita yang paling sulit diterima adalah kebencian dan permusuhan orang lain pada kita.
Krisis kesepuluh, waktu saya tua bagaimana? Banyak orang tidak pernah mempersiapkan hari tua. Waktu saya makin tua, saya hidup sama siapa? Income dari mana? Saya punya komunitas di mana? Engkau mulai sadar, hidup tidak mudah. kalau miskin bagaimana? Kalau terlalu lelah bagaimana? kalau tertidur bagaimana? Kalau menyeleweng bagaimana? Kalau harus menghadapi kematian, bagaimana? Dokter katakan 3 bulan lagi masa hidupmu. Engkau waktu itu kaget dan mulai berpikir setelah mati ke mana? Apa itu kematian? Kebanyakan orang tidak mempersiapkan hatinya menghadapi semua krisis ini.
Apakah hubungan 10 krisis ini dengan khotbah hari ini? Sepuluh krisis ini semua diambil dari Alkitab, yaitu dari Mazmur 23. Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa. Saya membaca Mazmur 23 beda dengan orang lain. Banyak orang membaca Mazmur 23 dan melihat berkat-berkat yang Tuhan berikan dan janjikan kepada kita. Saya menemukan krisis-krisis di dalam hidup dan mengapa kita perlu Tuhan. Kalau saya hidup penuh dengan kekurangan, maka jika Tuhan gembalaku, aku tidak akan kekurangan. Ini krisis pertama. Dia membawa saya untuk tempat rumput yang tenang dan di pinggir air yang tenang. Dialah memastikan saya boleh mempunyai istirahat yang cukup. Dia menjamin saya bisa tenang, penuh sejahtera, sentosa di dalam hati saya. Pada waktu saya tertidur, Dia membangunkan saya dan Dia membawa saya ke dalam jalan yang benar. Pada waktu saya tidak hati-hati terantuk di dalam perjalanan yang lancar, saya tertidur, saya akan bahaya, saya akan menyeleweng, saya akan jatuh di dalam jalan yang tidak benar, tapi Tuhan mencintai saya, Tuhan memelihara sehingga saya tidak akan menyeleweng, saya akan bangun. Saya tidur tertidur. Demikianlah orang yang beriman kepada Tuhan.
Sepuluh krisis semua diselesaikan oleh Tuhan. Setelah mendengar 10 krisis, engkau baca lagi Mazmur 23, semua jawaban ada di dalam, semua kesulitan ada jalan keluar, semua krisis ada jaminan akan diselesaikan oleh Tuhan dan hari depan terakhir kita di mana? Waktu tua bagaimana hidup? Waktu tua kita siapa menjamin kita tetap sejahtera? Aku akan tinggal di rumah Tuhan untuk selama-lamanya. Apa artinya? In God’s hand, in the good hand of God forever and ever. Mazmur 23 adalah syair mengenai hidup manusia yang terindah, paling sempurna, yang paling baik di dalam sastra seluruh dunia.
Kapankah Mazmur 23 ditulis? Kira-kira 3.000 tahun yang lalu. Kitab Upanishads dari Hinduisme paling lama 2500 tahun. Buku dari Buddha yang paling kuno kira-kira 500-600 tahun sesudah Mazmur 23. Buku Analects dari Confucius 2500 tahun lalu, lebih lambat 500 tahun daripada Mazmur 23. Tiga ribu tahun yang lalu Tiongkok di dalam dinasti Shang akhir, tidak mempunyai syair yang penting. Jikalau kita membandingkan syair yang paling penting di Inggris dari John Milton. Jikalau kita bandingkan syair modern Tennyson, Robert Browning, ada syair-syair yang penting di Prancis, tetapi semua terlalu lambat. Sebelum ada John Milton, ada Tennyson, Robert Browning, Jack London, semua penyair paling yang besar di dunia sebelum ada, Mazmur 23 sudah ada. Di dalam Alkitab kecuali Mazmur 90 lebih tua 1000 tahun dari ini. Syair di dalam Mazmur 23 adalah syair yang paling bagus, yang paling sempurna, yang paling manis, yang paling menghibur manusia. Jikalau kita bisa belajar menghafal enam ayat ini, engkau akan seumur hidup terhibur di dalam hatimu.
Pada waktu saya pertama kali mengunjungi negara Brazil, saya menemukan satu kuburan dari kakak saya yang paling besar yang dikuburkan di sana. Bukan dari mama yang sama. Itu kakak saya paling besar dia umurnya persis mama saya karena papa saya pernah mempunyai istri sesudah meninggal baru nikah sama mama saya. Waktu papa saya pertama nikah dia masih umur 20-an. Kira-kira papa saya umur 38, istri pertama meninggal dunia lalu papa saya dari Tiongkok kembali ke Indonesia dia berkata, “Saya mau berjuang, mau cari uang, menegakkan usaha saya.” Saya punya kakek berkata, “Kalau engkau pergi lagi, waktu saya tua, siapa yang mendampingi? Siapa yang memelihara masa tua saya? Maka saya akan memberikan suatu istri di rumah, engkau harus pulang. Papa saya sangat hormat kepada orang tua dan tidak berani bantah. Tetapi papa saya tidak mau dia. Waktu kembali ke Indonesia dia minta kawannya carikan istri yang agak muda, yang cantik, saya mau meneruskan hidup sebagai suami istri dengan yang baru ini. Inilah keluarga saya. Istri pertama meninggal dunia, istri kedua dicari oleh orang tua, papa saya tidak mau. Akhirnya orang memperkenalkan seorang gadis umur 17 cantik sekali dan papa saya menikahinya. Itulah sebabnya papa terpaksa seumur hidup mempunyai tiga istri. Waktu itu papa saya bukan Kristen, dia sangat menurut orang tua. Akhirnya ada dua istri, satu disediakan oleh papanya papa, satu dipilih sendiri. Ini menyebabkan adanya pertengkaran dan tidak ada sejahtera. Pelan-pelan keluarga saya jadi Kristen, papa saya juga ikut ke gereja, lalu dua istrinya juga pergi ke gereja. Waktu saya umur tiga, papa saya meninggal. Setelah papa saya meninggal, kedua istri berdamai dan sama-sama ke gereja. Keluarga Tong anaknya banyak sekali, lebih dari 20, karena istri yang pertama melahirkan hampir 9 anak. Lalu istri yang kedua lahirkan tujuh anak. Mama saya melahirkan 10 anak. Keluarga besar seperti ini tapi papa saya katakan satu kalimat, “Saya terpaksa harus mempunyai tiga istri, tapi itu bukan kemauan saya, yang saya mau cuma istri yang saya bawa dari Indonesia, namun demikian saya seumur hidup tidak pernah cari pelacur. Saya setia kepada keluargaku.” Waktu papa saya sudah mati, mama saya dan perempuan itu berdamai dan sama-sama pergi gereja, sama-sama memuji Tuhan, sama-sama dibaptis menjadi keluarga Kristen yang harmonis sekali. Inilah cerita rumah saya. Keluarga Stephen Tong dari tidak akur menjadi damai, dari keluarga Buddha menjadi Kristen. Pada waktu papa saya sudah meninggal, anak-anak semua ke gereja, semua belajar firman Tuhan, semua memuji Tuhan dan akhirnya khusus di bawah mama saya, dari tujuh anak laki-laki, lima menjadi pendeta. Waktu saya pergi ke Brazil, saya diundang khotbah di gereja Brazil. Saya baru bertemu kakak saya paling besar dari mama pertama sebenarnya sudah tinggal di Brazil. Tetapi ketika saya ke Brazil, kakak saya 7 tahun sebelumnya sudah meninggal. Saya pergi ke kuburannya dan saya baru tahu kuburan di Brazil bagus sekali. Di antara 10 kuburan kira-kira tujuh ada patung malaikat dari marmer, atau patung orang itu ditaruh di kuburan mereka. Saya kaget melihat kuburan begitu indah. Akhirnya mereka bawa saya sampai di kuburan kakak saya, tidak ada patung di situ Tetapi kuburan itu ditutup dengan satu marmer tebalnya 20 cm, besarnya lebih dari 4 meter persegi. Saya tidak pernah melihat marmer warna hitam yang besarnya seperti itu. Saya berdiri di situ dan saya merenungkan inilah kuburan kakakku, tetapi sekarang saya belum ada kuburan saya sendiri. Dan saya perhatikan kuburan kakak itu, saya kaget karena marmer hitam itu ditulis satu pasal Alkitab. Saya baca-baca, saya sadar itulah Mazmur 23. Dari ayat pertama sampai ayat terakhir diukir dengan tulisan yang indah sekali.
Manusia yang hidupnya bersandar kepada Tuhan, dia akan mengalahkan 10 krisis yang ditulis di dalam pasal ini. Bagaimana dengan engkau? Apa engkau sadar, engkau mengalami krisis yang tidak mungkin kita tidak menghadapi. Even though I have go through the path of the shadow of the death. Waktu saya harus melewati perjalanan lembah kematian, saya tidak takut karena Engkau menyertai aku. TongkatMu dan gadaMu menghibur aku. Krisis tidak mungkin kita hindari. Krisis tidak mungkin tidak ada pada hidup kita. Siapa yang menolong engkau? Hari ini saya menyelesaikan riwayat hidup Daud dengan pasal ke-23. Tuhan panggil Adam mewakili seluruh manusia harus kembali kepada Tuhan. Tuhan panggil Abraham mewakili kita semua tidak boleh senang kepada rumah kita di dunia ini. Abraham sendiri harus tinggalkan Mesopotamia menuju ke tempat perjanjian. Tuhan memanggil Musa supaya dia lepas daripada tanah Firaun, lepas daripada segala kemewahan Mesir menjadi orang yang ikut Tuhan selama-lamanya. Tuhan memanggil Daud dari kecil mengikut Tuhan berperang kepada Goliat. Kiranya Tuhan menyimpan semua khotbah firman yang penting di dalam hati kita sehingga kita mengikut Tuhan bukan main-main. Alkitab menyatakan satu kalimat, mengkonklusikan riwayat daripada Daud dengan kalimat yang berbunyi demikian, “Daud menjalankan kehendak Allah seumur hidup, selesai itu tidurlah dia. Daud banyak kelemahan, dia pernah bersalah, dia pernah berzinah dengan perempuan yang dia lihat baru mandi dan telanjang. Karena perempuan itu terlalu cantik, dia berzinah dan membunuh suaminya. Satu-satunya peristiwa yang dicatat Alkitab tidak menyenangkan Tuhan, tetapi Tuhan pakai hukumNya yang berat, sehingga empat anaknya mati satu-persatu. Meskipun Daud bersalah besar seperti ini dan Daud seumur hidup tidak lupa mengikut Tuhan, menjalankan kehendak Tuhan, tap Tuhan mengampuni dosanya, Tuhan memimpin hidupnya dan Alkitab catat setelah dia menjalankan seluruh kehendak Tuhan akhirnya dia mati. Dan Tuhan mengatakan, “Tidurlah Daud setelah menjalankan kehendak Allah.” Apa bedanya mati dan tidur? Mati tidak bangun lagi, tidur akan bangun lagi. Saya percaya Yesus menjadi buah pertama orang mati bangkit paling dahulu. Dan barang siapa yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, mereka juga pasti satu hari dibangkitkan kembali oleh kuasa Tuhan. Demikian suatu hari Daud akan bangkit kembali. Daud banyak kelemahan. Tetapi di dalam mencari kehendak Tuhan, Daud adalah teladan semua orang yang beriman kepada Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita memberi pengertian sedalam-dalamnya kepada kita, sehingga kita tidak main-main. Bagaimana lemahnya kita, kita belajar dari Daud yang seumur hidup menjalankan kehendak Tuhan.