Download versi cetak: 1281_KebaktianPagi_2026-13-Sep
Mencari Yesus: Untuk Apa?
Yohanes 6:22-35
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Untuk apa sebenarnya kita datang ke gereja hari ini? Untuk mencari Yesus? Tetapi untuk apa kita mencari Yesus? Apa yang kita harapkan dari Yesus?
Dalam bacaan kita hari ini, kita berjumpa dengan sekelompok orang banyak yang kelihatannya sangat semangat mencari Yesus karena mereka telah menyaksikan Yesus memberi makan 5.000 orang hanya dengan lima roti dan dua ikan. Tetapi kemudian setelah mereka tunggu malam itu lewat, mereka cari Yesus, mereka tidak ketemu Tuhan Yesus, mereka kemudian naik perahu, menyeberangi danau dan mengejar Yesus sampai ketemu. Dari usaha yang mereka lakukan, kelihatannya mereka adalah pengikut yang sangat setia.Tetapi ketika Yesus melihat orang banyak itu, Dia mengatakan, “Kalian mencari Aku dengan alasan yang salah.”
Sehari sebelumnya Yesus melakukan mujizat yang disaksikan oleh 5.000 orang. Begitu terkesimanya orang banyak itu, mereka mau mengangkat Yesus menjadi raja. Tetapi Yesus mengundurkan diri dari mereka, lalu menyuruh murid-murid-Nya menyeberang danau lebih dahulu, menyuruh orang-orang pulang, dan malam harinya setelah selesai berdoa, Dia menghampiri para murid dengan berjalan di atas air. Keesokan paginya orang banyak itu bangun dan melihat Yesus sudah tidak ada. Dengan bingung, mereka naik perahu lain yang datang dari Tiberias dan akhirnya menyeberangi danau itu untuk mencari Yesus. Ketika mereka menemukan Yesus sudah ada kembali di Kapernaum, pertanyaan pertama mereka adalah, “Rabi, bagaimana caranya Engkau bisa tiba di sini?” Mereka tidak bertanya, “Siapa Engkau sebenarnya, bisa memberi makan 5.000 orang?” Mereka lebih tertarik dengan bagaimana caranya Yesus melakukan trik ini, bisa teleport. Dan Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka, sebaliknya langsung menusuk ke akar masalah. Ayat 26 Dia mengatakan, “Aku berkata sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu melihat tanda, tetapi karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Satu ayat ini membongkar motivasi orang banyak, dan juga membongkar motivasi dalam hati kita masing-masing, bahwa ketika kita mencari Yesus, kita bisa mencari Dia dengan motivasi yang salah.
James Boice mengatakan ada tiga hal yang membuat pencarian kita akan Yesus itu menjadi salah. Pertama, kita salah dalam mencari Yesus ketika kita mencari Dia dengan berpusat pada diri kita sendiri. “Kamu mencari Aku bukan karena kamu lihat tanda, tetapi karena kamu telah makan dan kenyang.” Setelah mereka makan kenyang, mungkin mereka menyimpulkan bahwa Yesus adalah sumber makanan praktis yang bisa diandalkan. Bukannya mereka berpikir apa artinya orang ini bisa melipatgandakan lima roti jadi makanan bagi ribuan orang, tanda ini sebetulnya menunjukkan Dia itu siapa? Tetapi mereka berpikir, “When is lunch?”Inilah yang dimaksud dengan mencari Tuhan tetapi sebetulnya dengan berpusat pada diri sendiri, mencari Tuhan dengan pikiran apa yang bisa saya dapatkan bagi diri saya, bukan karena melihat pribadi-Nya, keagungan-Nya, dan kebesaran-Nya.
Mungkin kita juga perlu refleksi seberapa sering kita melakukan hal ini. Ketika kita berdoa, apa yang menjadi isi doa kita? Daftar hal-hal yang kita minta supaya Tuhan sediakan, hal-hal yang kita minta supaya Tuhan perbaiki dalam hidup kita, dan mungkin sedikit perhatian tentang siapa Allah sesungguhnya. Renungkan bagaimana kita datang beribadah, untuk menyembah Tuhan dalam diri-Nya sendiri atau supaya kita merasa mendapatkan sesuatu yang menyegarkan hati kita? Tentu itu bukan hal yang salah dalam dirinya sendiri, tetapi kalau akhirnya itu yang jadi paling utama, maka sebetulnya kita datang ibadah, kita berdoa, ujung-ujungnya adalah untuk diri kita sendiri. Bisakah kita datang kepada Tuhan sekalipun kita tidak mendapat apa-apa? Sekali lagi, tidak salah untuk meminta khotbah yang baik dari gereja kita, tetapi kalau akhirnya somehow Tuhan tidak berikan khotbah yang baik pada hari itu, apa yang menjadi respons kita? Apakah kita akan tetap setia? Ataukah mungkin kita akan mengatakan, “Hari ini saya tidak mendapatkan apa yang saya cari.” Apakah kita datang untuk menyembah Tuhan atau kita datang untuk mendapat sesuatu? Kalau kita datang utamanya untuk mendapatkan sesuatu, maka mungkin di situ kita perlu mengoreksi diri kita.
Kedua, Boice mengatakan kita salah dalam mencari Yesus ketika kita mencari Dia dengan semangat materialisme. Ayat 27 Yesus mengatakan, “Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, tetapi untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.” Kesalahan orang banyak ini bukan sekadar karena mereka lapar. Rasa lapar itu bukan dosa dan pasti Tuhan juga peduli dengan tubuh kita. Tuhan memberikan makanan fisik, tetapi problemnya adalah ketika kita terlalu fokus kepada roti fisik itu sehingga kita lupa kepada apa yang lebih penting. Yang salah adalah ketika mereka melihat mujizat lima roti itu dan berhenti sampai situ saja dan menjadikan itu yang paling penting, bukannya membawa mereka melihat, mencari, merindukan sesuatu yang melampaui hal itu. Di dalam tanda yang seharusnya menyatakan siapa Yesus, mereka cuma lihat rotinya saja.
Ini yang dimaksud dengan materialisme di sini, bukan sekadar serakah, ingin uang banyak, tetapi bagaimana kita membiarkan hal-hal duniawi, yang kelihatan dan sehari-hari itu menggeser dan menggantikan Tuhan itu sendiri. Alkitab tidak membenci hal-hal fisik—bahkan berkat-berkat secara jasmani itu dikatakan berkat dari Tuhan—tetapi Alkitab penuh dengan peringatan tentang bahaya di sini. Di dalam Kitab Yosua, ada cerita tentang Akhan yang melihat sehelai jubah yang indah, beserta dengan perak dan emas di antara barang-barang di Yerikho, barang-barang yang harusnya dikhususkan bagi Tuhan, lalu merasa sayang sekali kalau dimusnahkan, akhirnya dia tidak bisa menahan diri dan mengambil barang-barang itu bagi dirinya sendiri. Dan apa yang dia lakukan mendatangkan hukuman atas keluarganya dan kekalahan bagi seluruh pasukan Israel. Ini bahaya yang terus ada sepanjang zaman bahkan sampai sekarang.
Apa yang terjadi kalau di dalam kita mengikut Yesus tiba-tiba kita dituntut memberikan pengorbanan yang real? Mengorbankan hal-hal yang kita bisa pegang selama ini, hal-hal yang kita banggakan. Berapa banyak dari kita yang masih akan tetap mencari Tuhan? Seorang penafsir mengingatkan kita pada kisah Abraham yang mempunyai banyak hal—ternak, banyak hamba, kekayaan—tetapi titik balik dalam diri Abraham adalah ketika Allah meminta satu hal yang paling berharga dari dia, yaitu anaknya, Ishak. Di situlah Abraham mengerti apa artinya menyerahkan segala sesuatu bagi Tuhan.
Ketika Yesus mengatakan, di ayat 27, “Berhenti bekerja untuk mengejar hal seperti itu,” bukan berarti kita tidak boleh bekerja, tetapi maksudnya jangan mengejar hal-hal yang dapat binasa itu; kejarlah sesuatu yang bertahan sampai hidup kekal. Dan ini yang harusnya kita terus ingat, ketika kita mengejar Yesus terkadang justru kita harus mengorbankan hal-hal seperti ini supaya kita bisa mendapatkan sesuatu yang kekal.
Ketiga, kita bisa salah dalam mencari Yesus kalau kita mencari Dia dengan setengah hati. Ini sebetulnya nanti kita baru lihat di bagian terakhir di ayat 66, di mana pengajaran Yesus itu menjadi begitu keras dan radikal sehingga banyak orang akhirnya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Orang banyak yang mencari Yesus ini memiliki semangat seperti ini, mencari Yesus dengan setengah hati. Mereka begitu bersemangat mengejar Yesus sampai menyeberangi danau demi sepotong roti, tetapi menghilang begitu saja pada saat mengikut Yesus itu mulai terasa begitu berat, aneh, dan tidak nyaman. Inilah pencarian setengah hati, kita datang saat menguntungkan, saat ada sesuatu yang kita bisa dapatkan, tetapi kita kehilangan semangat begitu jalan mulai sulit dan tidak nyaman. Kita mungkin bisa rajin berdoa ketika Tuhan menjawab doa kita dengan langsung dan begitu jelas, atau waktu kita merasa begitu dekat dengan Tuhan dalam doa. Tetapi kehidupan kerohanian seorang Kristen tidak selalu berapi-api seperti itu. Kadang Tuhan izinkan kita melewati masa-masa kekeringan di mana doa kita, saat teduh kita terasa kering dan hambar. Pertanyaannya adalah apakah kita terus berdoa, membaca Alkitab ketika itu kering dan hambar? Kita suka datang ke gereja dengar khotbah yang membakar hati dan jiwa kita. Tetapi ketika khotbah itu berbicara sesuatu yang mengutak-atik berhala dalam hati kita, membuat kita tertegur, apakah kita mau terus datang mencari Tuhan? Banyak orang akan langsung menjauh ketika Yesus tidak lagi memberikan seperti apa yang kita harapkan. Biarlah kita belajar seperti Daud yang berkata dalam hatinya, “Carilah wajah Tuhan; aku mencari wajah-Mu, ya Tuhan.”
Jadi di ayat 22-27 kalau kita simpulkan, orang banyak ini mencari Yesus dengan berpusat pada diri sendiri, mencari dan fokus kepada hal-hal materi yang kelihatan saja, dan mencari dengan setengah hati yaitu hanya ketika nyaman saja. Ketiga kesalahan ini berakar pada satu masalah yang sama, yaitu ketika mereka melihat mujizat roti untuk 5.000 orang itu dan mengartikan tanda itu sebagai tujuan akhir. Tidak memikirkan mujizat ini sebetulnya menandakan apa, tetapi akhirnya fokus kepada roti yang dihasilkan itu.
Setelah Yesus mengatakan ayat 27, di ayat 28 mereka membalas Yesus lagi, “Apa yang harus kami perbuat? Pekerjaan apa yang dikehendaki oleh Allah?” Sekarang fokus mereka ada pada usaha mereka. “Apa yang bisa kami perbuat? Apa yang bisa kami usahakan? Apa yang bisa kami kerjakan?” Pertanyaan ini mungkin terdengar tulus, terpuji bahkan. Tetapi pertanyaan ini justru mengungkapkan sesuatu yang dalam dan merajalela dalam hati manusia berdosa, yaitu bagaimana sebagai manusia berdosa, naluri alami kita adalah kita ingin membangun hubungan dengan Allah berdasarkan prestasi kita sendiri. “Bekerja untuk sesuatu yang kekal? Sekarang, Guru, kasih kami daftar persyaratan, apa saja yang dibutuhkan dan kami akan mengerjakannya.”
Ini bukan keunikan yang terjadi pada orang Yahudi abad pertama saja tetapi pada seluruh manusia dalam dunia berdosa ini. Dan kalau kita lihat di Alkitab, sebetulnya ada banyak pertanyaan yang mirip seperti ini. Misalnya, orang muda yang kaya, yang lari mendatangi Yesus, dan kemudian dengan excited dia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dalam cerita Kisah Para Rasul misalnya, di hari Pentakosta, banyak orang yang hatinya tertegur dan mereka bertanya kepada para rasul, “Apa yang harus kami perbuat sekarang?” Kepala penjara di Filipi yang gemetar di hadapan Paulus dan Silas, dia juga bertanya, “Apa yang harus kuperbuat supaya aku selamat?” Bahkan dalam kisah anak yang hilang, ketika dia mau pulang datang menghadap bapaknya, dia sudah pikir dia mau ngomong, “Bapak, sekarang perlakukanlah aku sebagai salah seorang upahanmu.”
Inilah orang berdosa, ketika kita sadar kita perlu keselamatan, kita bertanya, “Apa yang harus aku perbuat?” Kita merasa seolah-olah kalau kita bisa diselamatkan, maka kita harus melakukan sesuatu yang mencukupi standar itu sampai kita selamat, diampuni dosanya, dan masuk sorga. Tetapi tentu kita tahu ada problem yang besar ketika kita berpikir seperti ini. Karena kita pikir, kita bisa loh cukup baik untuk mendapatkan keselamatan. Atau di sisi yang lain, kita pikir standar keselamatan dari Tuhan itu terlalu rendah, cukup jadi orang baik saja, suka berbagi, dan bermoral. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa standar keselamatan dari Tuhan adalah kesempurnaan. Engkau mau diselamatkan karena perbuatan baik? Boleh, bisa, tetapi engkau harus mempunyai kehidupan dan kekudusan yang sempurna. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (Im. 11:45) Standar keselamatan bukanlah kebaikan kita tetapi kekudusan Allah. Dan kalau kita berpikir bahwa kita bisa diselamatkan dengan berbuat baik, dengan hidup kudus, maka kita memandang kekudusan Allah itu terlalu rendah, terlalu sepele.
Banyak orang pikir, “Wah, saya sudah melakukan banyak kebaikan. Banyak orang berterima kasih kepada saya. Orang Kristen saja banyak yang hidupnya lebih parah dari saya.” Mereka berpikir mereka bisa mendapatkan hidup yang kekal. Alkitab mengatakan tidak. Semua orang telah berbuat dosa, kehilangan kemuliaan Allah. Usaha terbaik kita untuk berbuat benar itu seperti kain kotor di hadapan Tuhan. Hanya satu dosa saja sudah membuat kita tidak bisa mendapatkan keselamatan. Satu kebohongan, satu pikiran nafsu, satu momen kesombongan, cukup satu itu saja bisa membatalkan segala rekam jejak kita yang sempurna. Kalau kita mau sempurna, kita tidak bisa 99.99% sempurna; kita harus betul-betul 100% tanpa cacat cela.
Maka ketika orang banyak ini bertanya apa yang harus kami perbuat, perhatikan bagaimana Yesus menjawab. James Boice mengatakan ayat 29 ini pantas untuk dinobatkan sebagai salah satu golden sentence di dalam Alkitab. Yesus mengatakan, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Ini adalah kalimat yang menyimpulkan Injil Yesus Kristus. Apa sih pekerjaan yang bisa kita lakukan? In a sense, tidak ada. Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk membeli keselamatan kita. Lalu apa yang Allah inginkan dari kita? Untuk percaya kepada Dia yang diutus, untuk beriman. Bukan dengan usaha mau melakukan segala hal yang baik maka kita pantas diselamatkan, tetapi dengan beriman kepada Yesus Kristus.
Kemudian orang banyak itu masih belum mengerti apa yang Yesus maksudkan. Di ayat 30-31, mereka bertanya, “Oh, kalau begitu tanda apa yang sekarang Engkau akan lakukan, supaya kami bisa melihat dan kami bisa percaya kepada-Mu? Dahulu nenek moyang kami makan manna di padang gurun. Sekarang tanda apa yang akan Kau berikan pada kami?” Kita mungkin pikir kan mereka sudah lihat Yesus memberikan makan 5.000 orang dengan lima roti. Tetapi di dalam pandangan orang Yahudi pada zaman itu, berdasarkan tulisan para nabi, mereka mengerti bahwa ketika Mesias datang, Mesias akan memberikan roti dari sorga, mirip atau bahkan lebih besar daripada apa yang Musa lakukan.
Di situ kemudian Yesus mengoreksi cara pandang mereka. Di ayat 32, pertama, Yesus mengatakan, “Bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, tetapi Bapa-Ku.” Musa tidak pernah menjadi sumber dari roti sorga. Allah itu sendiri yang menjadi sumber roti dari sorga. Kedua, Yesus membandingkan manna dan roti dari sorga yang sesungguhnya, roti yang benar, yang sejati. Kenapa? Karena manna dalam Perjanjian Lama itu hanyalah bayang-bayang dari apa yang akan datang, yaitu Yesus Kristus itu sendiri. Ketiga, di ayat 33 dikatakan, “Roti yang turun dari surga itu memberi hidup kepada dunia.” Bukan cuma kepada Israel saja, tetapi kepada seluruh suku, seluruh bahasa, dan seluruh bangsa di sepanjang sejarah. Jadi di sini Tuhan Yesus mengajarkan sebuah kontras antara manna di Perjanjian Lama dan apa yang sesungguhnya yang akan diberikan sekarang, yaitu sesuatu yang datang dari Allah, sesuatu yang sejati, yang benar, yang sesungguhnya. Sesuatu yang bukan hanya bagi satu bangsa saja, tetapi bagi seluruh dunia. Dan keempat, yang menjadikan roti dari Yesus itu sesuatu yang lebih besar adalah barang siapa makan roti ini (yang dari Yesus), ia akan hidup selama-lamanya (ay. 49-50). Jadi di sini Yesus memberikan suatu gambaran, “Sekarang kamu minta tanda roti manna. Yang akan Kuberikan kepadamu adalah jauh lebih besar daripada manna yang Musa berikan. Bukan hanya bagi Israel, tetapi bagi dunia, dan ini akan memberikan kepadamu hidup yang selama-lamanya.”
Ayat 34, orang banyak itu kemudian mengatakan, “Tuhan, berikan kepada kami roti itu senantiasa.” Ayat 35: “Akulah roti hidup itu; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Engkau mencari roti yang bisa mengenyangkan perut sebentar. Engkau mencari sesuatu yang memuaskan dirimu yang fisik. Tetapi Aku akan memberikan kepadamu sesuatu yang lebih besar lagi. Akulah roti hidup yang akan memberikan hidup kekal yang tidak akan membuat engkau lapar lagi. Bagaimana caranya engkau mendapatkannya? Percaya. Beriman.
Saya rasa bagian ini adalah Injil yang paling mendasar yang harus kita mengerti. Ketika kita menyebut diri kita sebagai orang Kristen, sebagai pengikut Kristus, yang beribadah di hari Minggu dan mencari Yesus, apa yang kita cari sesungguhnya? Apakah kita sekadar mencari sesuatu yang memuaskan diri kita saja? “Oh, saya ingin khotbah yang baik.” Saudara mencari khotbahkah atau mencari Kristus? “Pak, bagaimana kita bisa dapat Kristus kalau khotbahnya jelek?” Ya, ada betulnya. Tetapi Saudara mencari khotbah baik, kadang bukan mencari Kristus. Ada seseorang memberi masukan, saya tidak tahu siapa, dia mengatakan bahwa kadang khotbahnya membosankan dan dia tidak suka. Saya bersyukur ada orang yang bisa memberikan masukan apa adanya, tetapi ketika dia mengkritik seorang hamba Tuhan dengan mengatakan bahwa khotbahnya itu membosankan dan dia merasa itu adalah kritikan yang wajar, itu adalah problem yang besar. Karena berarti dia merasa bahwa dia layak untuk mendapatkan khotbah yang tidak membosankan. Dia bukan mengatakan khotbah yang jelek, tetapi khotbah yang membosankan. Berarti dia juga bukan mencari khotbah yang baik, tetapi khotbah yang entertaining, yang stimulating, khotbah yang membuat dia senang. Saya percaya orang ini tidak mencari Kristus. Dan kalau kita juga seperti ini, biarlah kita bertobat.
Dan saya mengatakan hal ini karena saya juga tahu kadang saya punya kecenderungan yang sama. Sebagai hamba Tuhan, di satu sisi saya lebih bisa understanding kalau ada orang yang struggling dalam mempersiapkan khotbah, karena saya tahu betapa susahnya mempersiapkan khotbah. Tetapi di sisi yang lain, saya juga lebih bisa kritis dalam mengkritisi khotbah orang lain. Dan saya tahu betapa tempting untuk kita mengkritik khotbah atau mencari khotbah yang baik untuk memuaskan diri kita. Tetapi kita tidak mencari Kristus. Kalau begitu, apa sih maksudnya mencari Kristus? Kalau Saudara mencari Kristus, pertanyaannya adalah apakah Saudara makin dekat dengan Kristus? Apakah Saudara mendengar begitu banyak khotbah yang baik, podcast–podcast yang begitu baik, Saudara makin serupa seperti Kristus? Kalau tidak, maka Saudara tidak akan cari Kristus; Saudara cari entertainment yang rohani saja.
Biarlah kita hari ini boleh sama-sama belajar untuk bertobat. Kalau kita hanya sekadar mencari khotbah-khotbah yang baik, saya percaya kita akan terus kelaparan, kita akan terus cari the next good sermon, the next good sermon. Tetapi kalau kita betul-betul mencari Kristus, dalam masa-masa kekeringan rohani sekalipun kita tetap setia. Saya percaya Tuhan akan memberikan semacam kedamaian, kepuasan pada waktunya yang mana itu lebih everlasting. Tuhan akan memberikan Kristus yang bukan sekadar menghibur kita, tetapi yang mengubah hidup kita makin hari makin seperti Kristus. Biarlah kita melihat Kristus sebagai roti hidup yang memuaskan.