Download versi cetak: 1284_1457_KebaktianPagiSore_IR
Yesus, Roti Hidup
Yohanes 6:47-59
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Hari ini kita akan melanjutkan perenungan kita tentang proklamasi Yesus sebagai Sang. Yang diberikan Bapa kepada Anak akan datang kepada Yesus dan percaya bahwa Yesuslah Roti Hidup. Hari ini kita akan merenungkan dua hal, apa artinya kita memakan Yesus sebagai Roti Hidup dan apa yang akan diberikan kepada kita ketika kita memakan Roti Hidup itu. Konon ada seorang yang berlayar dari Skotlandia menuju ke Amerika. Dia membayar tiket untuk bisa naik satu kapal laut besar yang akan membawanya dari Skotlandia menuju New York. Untuk menghemat uangnya yang tidak terlalu banyak, maka ia bawa bekal makanan sendiri. Dia bawa biskuit, keju, buah. Beberapa hari awal semuanya baik-baik saja. Tetapi setelah beberapa hari biskuitnya melempem, kejunya berjamur dan buahnya busuk. Sampai akhirnya bekalnya tidak lagi bisa dimakan. Untungnya sudah hampir tiba di tempat tujuan. Tetapi karena sudah terlalu lapar, maka dia putuskan, malam terakhir dia akan pakai uangnya untuk beli makanan di ruang makan kapal itu. Betapa terkejutnya ketika dia masuk ke ruang makan itu, ternyata dia tidak perlu bayar untuk makan semua di situ. Makanannya itu sudah include di dalam biaya tiketnya. Sayangnya banyak orang mungkin yang hidup seperti orang Skotlandia ini. Kita sekedar mencoba memuaskan diri kita dengan biscuit – pemikiran-pemikiran dan filsafat manusia. Kita bahkan mencoba membuat diri lebih baik lewat buah busuk – perbuatan baik kita. Padahal sebetulnya Tuhan sudah menyediakan Roti hidup di dalam Yesus Kristus bagi kita secara cuma-cuma. Orang ini bukan hanya memilih makanan yang bisa berjamur dan busuk. Ironinya adalah dia tidak menyadari bahwa selama perjalanan makanan yang dia perlukan itu sudah tersedia. Dari ayat 23-59, Yesus sebetulnya memberikan semacam proklamasi atau statement yang makin lama makin sulit untuk diterima. Pertama-tama, saat orang banyak mengatakan, “Musa bisa mendatangkan manna dari surga. Sekarang tanda apa yang bisa Kamu berikan?” Yesus menjawab, “Sekalipun manna yang Tuhan berikan lewat Musa itu luar biasa, ada yang lebih luar biasa lagi. Allah memberikan Roti hidup dari surga. Kamu makan roti manna, satu hari kemudian perutmu lapar lagi. Tapi Roti hidup dari surga menjadikan engkau tidak akan pernah lapar dan bahkan engkau mendapatkan hidup yang kekal.” Itu proklamasi pertama. Ada Roti hidup dari Surga. Ketika orang banyak mengatakan, “Kalau begitu berikan kepada kami Roti hidup itu.” Proklamasi kedua Yesus mengatakan, “Roti hidup itu adalah Aku sendiri.” Dia mengatakan statement ini tiga kali. Orang banyak itu mulai berpikir lagi, “Bagaimana Dia bisa mengaku diriNya dari Surga? Bukankah ayah dan ibunya kita kenal.” Meresponi hal itu Tuhan Yesus makin mengeskalasi proklamasinya. Bukan saja ada Roti hidup dari surga dan bahwa Roti itu adalah diri-Nya sendiri.
Dalam bagian yang tadi kita baca, kita mendengar Yesus mengatakan, “Barangsiapa tidak memakan daging-Ku dan meminum darah-Ku, dia tidak akan memperoleh hidup.” Di situlah orang Yahudi mulai heboh, mereka menjawab di ayat 52, “Bagimana Dia bisa memberikan daging-Nya buat kita makan?” Makan daging dan minum darah adalah sesuatu yang dilarang keras oleh hukum Taurat. Bukan saja orang Yahudi tidak boleh makan daging manusia, mereka tidak boleh makan darah makhluk hidup apapun. Bahkan makan daging yang masih ada sisa-sisa darahnya saja tidak boleh. Maka waktu Yesus berkata, “Makan daging-Ku dan minum darah-Ku.” Ini sangat mengerikan bagi orang Yahudi. Tapi tentu harusnya mereka bisa sense bahwa Yesus tidak bermaksud secara literal di sini. Sama seperti ketika Yesus menjawab pertanyaan Nikodemus tentang bagaimana seseorang dilahirkan kembali. Demikian juga waktu Tuhan Yesus bicara kepada perempuan Samaria tentang air hidup. Mereka berpikir hanya secara harafiah, secara literal saja. Padahal Yesus sedang bicara tentang realita rohani. Kalau kita mengerti ini secara literal, maka ini menjadi kanibalisme. Tapi kalau begitu apa yang dimaksudkan Yesus di sini? Ada beberapa orang yang mengatakan, Yesus sedang bicara tentang perjamuan kudus. Karena ada kemiripan kata-kata di dalamnya, makan roti dan minum darah. Tapi kalau kita pikirkan lebih tepat lagi, sebetulnya agak sulit untuk melihat bagian ini sedang mengajarkan tentang perjamuan kudus. Karena perjamuan kudus pada waktu itu belum diberikan. Maka pendengar Tuhan Yesus saat itu tidak mungkin menangkap bahwa Yesus di sini sedang bicara tentang sakramen yang baru diberikan setahun kemudian. Lagi pula injil Yohanes tidak mencatat momen-momen Yesus menetapkan sakramen perjamuan kudus. Sekalipun gaya bahasanya mirip, kita harus memperhatikan bahwa setiap bagian Alkitab yang bicara tentang perjamuan kudus, itu melambangkan Roti sebagai tubuh Kristus. Tubuh bukan daging, ini dua kata yang berbeda. Yohanes pakai kata daging, bukan tubuh. Selain itu, perjamuan kudus itu diberikan kepada orang percaya. Di sini Tuhan Yesus lebih bicara kepada mereka yang belum percaya.
Yang paling penting yang juga membedakan kita dengan saudara kita di gereja Katholik. Pada bagian ini dikatakan kalau kamu memakan daging-Ku, meminum darah-Ku, maka kamu akan mendapatkan hidup yang kekal. Kalau kita mengerti ini sebagai perjamuan kudus, artinya setiap orang yang ikut perjamuan kudus dia akan mendapatkan keselamatan. Dan sebaliknya, kalau seseorang tidak ikut perjamuan kudus, maka dia tidak diselamatkan. Bagaimana dengan penjahat di sebelah salib Yesus yang juga mendapat keselamatan padahal belum sempat mengikuti perjamuan kudus? Dan bukankah sangat mungkin, ada banyak orang yang setiap minggu ikut perjamuan kudus, tapi tidak mendapatkan hidup yang kekal, karena dia tidak beriman kepada Kristus. Jadi jangan melihat bagian ini seolah-olah Yesus bicara tentang perjamuan kudus. Sekalipun bahasa Yesus memang mengejutkan, Dia tidak mengajarkan kita memakan tubuh-Nya secara literal. Dan juga bukan sekedar bicara tentang perjamuan kudus. Tetapi kalau kita lihat di dalam ayat-ayat yang tersebar di dalam seluruh bagian ini, misalnya ayat 29 dikatakan, “Hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Lalu ayat 35, “Akulah Roti hidup. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi. Dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Ayat 40, “Setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Ayat 47, “Barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.” Memakan Roti hidup, meminum darah akan mendapatkan hidup yang kekal. Tapi juga, percaya kepada Yesus mendapatkan hidup yang kekal. Artinya, ketika kita diundang untuk mengkonsumsi Yesus sebagai Roti hidup, itu undangan untuk kita percaya atau beriman di dalam Yesus. Undangan untuk kita datang kepada Dia dan berkomitmen hidup bagi Dia. Menjadikan Dia betul-betul bagian paling penting, paling mendasar dari hidup kita. Sehingga akhirnya kita menjalani hidup di mana Dia ada di dalam kita dan kita di dalam Dia. Inilah undangan Yesus kepada kita.
Sayangnya banyak dari orang yang mengatakan dirinya Kristen, tetapi belum melakukannya. Karena apa sebetulnya arti beriman kepada Yesus? Sampai-sampai disini Dia menggunakan gambaran memakan. Beriman kepada Kristus itu ibarat memakan Kristus sebagai Roti hidup. Kalau kita bicara soal makan roti, ini sesuatu yang kita kerjakan untuk menjadikan makanan itu bagian dari diri kita. Kita makan, telan dan digest. Roti itu masuk ke dalam diri kita dan menjadi bagian dari hidup kita. Beriman kepada Kristus bukan sekedar tahu tentang Kristus. Saudara percaya kepada Kristus bukan sekedar tahu banyak doktrin Kristus. Karena ada beda antara sekedar mengetahui suatu makanan dan memakan makanan itu. Kita tahu resep makanan dan pernah melihat review makanan tersebut di youtube, bahkan bisa menjelaskan nutrisi terkandung di dalamnya, tetapi belum pernah mencicipi, hanya sekedar tahu. Masih lebih baik saya yang tidak bisa sebut croissant, tapi sering makan croissant misalnya. Jadi mungkin untuk kita bisa mengetahui segala hal tentang satu topik, tapi tidak pernah bersinggungan langsung secara pribadi dengan hal itu. Demikian juga dengan kekristenan. Kita bisa tahu banyak ayat dalam Alkitab, baca banyak buku teologi, dengar banyak khotbah dan podcast, bahkan aktif pelayanan. Tapi itu semua tidak otomatis berarti kita sedang hidup di dalam Kristus, karena pengetahuan saja tidak cukup. Bisa saja kita mengerti berbagai macam doktrin, bisa mengkritik teolog ini dan teolog itu. Tapi tidak pernah mengalami pengalaman berjalan dan hidup bersama dengan Yesus. Maka pertanyaan Yesus hari ini kepada kita bukanlah sekedar apakah kamu tahu siapa Aku? Apakah kamu sudah membaca doktrin teologi sistematika dari ini dan itu? Tapi pertanyaan Kristus adalah apakah engkau mau datang kepada-Ku? Apakah engkau mau percaya kepada-Ku dan hidup bersandar hanya kepada-Ku saja? Iman itu sesuatu yang sifatnya harusnya personal dari diri kita sendiri. Itu harus kita sendiri yang mengalami dan merasakan kenikmatannya, tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. Sama seperti saudara kalau perlu nutrisi dari makanan, saudara tidak bisa diwakili oleh orang lain. Harus kita yang ambil roti itu, memasukkannya ke mulut kita, mengunyah dan menelannya. Demikian juga tentang iman, kita tidak bisa sekedar mengatakan, “Dari dulu saya lahir dalam keluarga Kristen.” Kita tidak bisa mengatakan, “Suami saya seorang aktivis di gereja atau istri saya seorang aktivis di gereja.” Kita juga tidak bisa mengatakan, “Saya ini anggota GRII, sudah pasti doktrinnya baik dan benar.” Pertanyaannya adalah apakah engkau sudah memakan, memiliki Kristus di dalam dirimu? Saudara bisa saja tahu tentang Kristus bahkan menyetujui segala yang dikatakanNya. Karena setanpun juga tahu banyak hal tentang Yesus. Setan juga setuju kalau dibilang Yesus Anak Allah. Tapi setan tidak mempercayakan dirinya kepada Kristus. Setan tidak menyerahkan totalitas hidupnya kepada Kristus. Maka janganlah kita menjadi orang yang sekedar tahu dan setuju tentang segala macam kebenaran Alkitab. Biarlah kita jadi orang yang secara personal mempercayakan diri kita kepada Kristus. Dan ini sesuatu yang muncul dari kesadaran bahwa memakan Kristus sebagai Roti hidup itu bukanlah option, tetapi satu keharusan, satu necessity.
Kristus dikatakan sebagai Roti hidup, makanan pokok, staple food, bukan snack. Tuhan Yesus bukanlah makanan cemilan yang kita makan kalau kita lagi kepingin saja. Kita bisa hidup tanpa cemilan-cemilan. Tapi kita tidak bisa hidup tanpa makanan pokok. Yesus adalah makanan yang harus dimiliki seseorang kalau orang itu memiliki hidup. Ironinya adalah seringkali kita menjadikan Yesus sekedar sebagai makanan cemilan ketimbang makanan pokok. Sesekali kita ingin dekat Tuhan Yesus, berdoa padaNya. Tapi Dia bukan jadi makanan yang paling penting dalam hidup kita. Jangan-jangan kita baru merasa feel alive kalau kita mendapatkan hal-hal baik dari hidup ini. Dan kita hanya datang mencari Yesus sekedar ketika sakit, perlu pertolongan Tuhan karena ada masalah. Kita berdoa supaya pekerjaan kita lancar. Kita rajin mencari ayat-ayat Alkitab dari Firman Tuhan ketika kita takut. Tapi ketika hidup kita baik-baik saja, apakah kita masih sadar kita perlu Kristus? Kadang masalah kita bukanlah disiplin rohani, mungkin juga kita cukup rajin dalam berdoa membaca Alkitab. Tapi apakah kita masih punya kesadaran bahwa tanpa Kristus setiap hari maka kita akan lacking sesuatu yang luar biasa penting? Apakah kita sadar kita itu betul-betul perlu Kristus? Atau kita datang mencari Kristus, memakan Dia atau beriman kepada Dia sebagai respons karena kebutuhan yang muncul dari diri kita. Kita sadar bahwa ada perasaan saya harus di-nourish dari Roti hidup.
Satu hal penting dari ayat 51 adalah ketika dikatakan, “Roti yang Ku-berikan itu ialah daging-Ku yang akan Ku-berikan untuk hidup dunia.” Mengapa ini menjadi kalimat yang penting? Seorang pernah bertanya kepada Karl Barth, “Menurut engkau kata apa yang paling penting di dalam Alkitab?” Bagi Karl Barth, kata paling penting adalah huper (dalam bahasa Yunani). Huper itu adalah kata ketiga dari belakang dari ayat 51, yaitu kata “untuk” atau “for”. Mengapa demikian? Karena dia mengatakan inilah kata yang menunjukkan apa yang Kristus kerjakan bagi dunia. Dalam bagian ini banyak penerjemah juga melihat bagian ini merujuk kepada pengorbanan Kristus di kayu salib. Kristus datang sebagai Roti hidup, Dia turun dari surga. Ada yang melihat ini sebagai inkarnasi. Roti yang diberikan itu adalah daging dari Kristus, yang diberikan huper hidup dunia. Ini adalah bagian penting dalam artinya kita beriman kepada Yesus Kristus. Kita percaya bahwa Kristus diberikan untuk menanggung dosa kita sehingga kita hidup. Bagian ini berbicara tentang pengorbanan Kristus bagi dunia. Kita mengingat bahwa segala percakapan ini termasuk ketika Yesus memberikan mukjizat roti kepada 5000 orang. Ini semua terjadi menjelang masa-masa Paskah, yang adalah perayaan orang Israel mengingat keselamatan yang Tuhan berikan. Ketika anak sulung orang Mesir satu persatu dibinasakan, orang Israel aman diam di dalam rumah mereka masing-masing. Karena mereka telah menyembelih anak domba Paskah, mengoleskan darahnya di ambang pintu dan memakan daging anak domba Paskah. Banyak penafsir melihat bahwa ketika Yesus mengatakan bagian ini, ini bicara tentang pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Ketika kita beriman kepada Kristus, tidak cukup untuk sekedar kita mengagumi segala ajaran Tuhan Yesus yang begitu indah, teladan hidupnya yang luar biasa. Karena kalau Yesus hanyalah seorang guru dan teladan, kehidupannya yang sempurna itu justru akan menghakimi kita. Karena semakin kita melihat cinta kasih-Nya, keadilan-Nya, kesucian-Nya, semakin kita diajak melihat bahwa kita tidak mungkin hidup seperti Dia. Kalau saya harus sempurna seperti Dia sempurna baru diselamatkan, apa yang jadi harapan saya? Tapi bersyukur, bahwa Kristus datang itu bukan sekedar untuk diteladani, tetapi sebagai Roti yang akhirnya dipecah-pecahkan untuk kita makan dan memberikan hidup dalam diri kita. Roti ketika dikonsumsi harus dipecahkan. Di sinilah gambaran ini bersinggungan dengan perjamuan kudus. Tubuh yang dipecah-pecahkan yang Ku-berikan bagi kamu. Sekalipun bagian ini tidak bicara tentang perjamuan kudus, tapi baik bagian ini maupun perjamuan kudus bicara tentang bagaimana Kristus datang untuk memberikan hidup bagi dunia, yaitu dengan cara dia mengorbankan diri-Nya. Mungkin ada dari saudara yang hari ini datang ke gereja dengan membawa perasaan bersalah atau dosa yang terus engkau ingat dalam hatimu. Mungkin perasaan kegagalan sebagai seorang suami atau istri, sebagai orang tua atau anak. Mungkin ada dosa yang orang lain tidak tahu tetapi menggerogoti hatimu. Dengarkanlah apa yang Yesus katakan, “Daging-Ku Ku-berikan untuk hidup dunia.” Kristus tidak datang sebagai dessert atau makanan penutup setelah kita berhasil membereskan hidup kita. Dia datang sebagai Roti supaya kita yang lapar, memperoleh kehidupan. Inilah anugerah.
Setelah kita beriman kepada Yesus sebagai Roti hidup, secara personal kita betul-betul menyerahkan diri kita kepada-Nya. Kesadaran kita butuh Kristus dan iman yang juga berpusat kepada salib Kristus. Pertanyaannya, kalau saya sudah melakukan ini semua, apa yang akan saya dapatkan? Yesus tidak menyuruh kita makan tanpa janji yang diberikan. Ayat 54-57 mencatat janji-janji yang Yesus berikan. Ayat 54, “Barangsiapa makan daging-Ku, minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” Hidup kekal, hidup yang tidak mungkin bisa dihentikan oleh kematian. Yesus mengatakan, “Barangsiapa diberikan Bapa kepadaku, ia akan datang kepada-Ku dan dia tidak mungkin hilang. Tapi Aku akan membangkitkannya pada akhir zaman nanti.” Segala hal-hal fisik atau ilmu kedokteran sangat bisa memperpanjang umur manusia. Kemajuan bidang kedokteran misalnya stem cell yang sedang dikembangkan, diharapkan bisa memperpanjang hidup manusia. Tentu kita tahu hidup kita di tangan Tuhan. Meski rata-rata usia manusia makin panjang, tetapi tidak ada satu ilmu pengetahuan apapun yang bisa menghentikan kematian. Apa yang Yesus janjikan kepada kita di sini adalah kehidupan yang tidak bisa direnggut oleh kematian yang merupakan perpisahan sementara saja. Bayangkan sebentar hidup sebagai seorang ateis? Mereka melihat kematian sebagai bagian circle of life. Ada lahir, dewasa, tua, akhirnya mati. Kalau dulu kita itu dari debu-debu bintang, maka kitapun akan mati kembali menjadi stardust. Berarti orang itu sama sekali tidak ada bayangan apa yang akan terjadi dalam dirinya setelah kematian. Setelah segala perjuangan hidupnya, segala air mata peluh keringat yang dia curahkan selama beberapa puluh tahun hidupnya itu, tidak lagi ada artinya setelah dia masuk ke dalam liang kubur. Betapa kasihannya hidup dengan cara pikir seperti demikian.
Kristus menjanjikan sesuatu yang melampaui kematian. Bahkan setelah kematian pun ada sesuatu yang looking forward, karena Kristus mengatakan nanti dia akan Aku bangkitkan. Tapi hidup yang kekal yang Yesus berikan bukanlah kehidupan kekal yang nanti setelah kematian. Ayat 54 dikatakan ia mempunyai hidup yang kekal. Artinya sekarang ini juga dia punya hidup yang kekal. Ayat 56, “Barangsiapa makan daging dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Dalam teologi ini disebut sebagai union with Christ atau persatuan dengan Kristus. Ini sesuatu yang kita miliki sekarang ini ketika kita beriman kepada Kristus. Sebagai orang Kristen kita bukan sekedar mendapatkan pengampunan dan pengharapan bahwa nanti setelah kematian akan mendapatkan hidup kekal. Tapi siapa yang sudah memakan Sang Roti Hidup itu dikatakan kita mendapatkan Kristus itu sendiri. Dimana Dia tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia. Ini berarti keselamatan bukan sekedar dosa saya dihapus. Tapi berarti saya mendapatkan Kristus dalam hidup ini. Apa yang bisa kita dapatkan yang lebih besar daripada Allah Pencipta dan Penebus itu sendiri? Sadarkah saudara memiliki Kristus dan dimiliki oleh Kristus? Tidak ada satu orang Kristen yang sendirian dalam hidupnya, karena Kristus ada di dalam engkau. Ketika kita beriman kepada Kristus, hidup kita sepenuhnya berubah. Ibarat kita tadinya single kemudian menikah. Yang sudah menikah pasti mengalami perubahan hidup. Setidaknya perubahan status, dari dipanggil saudara dan saudari, sekarang dipanggil jadi bapak dan ibu. Demikian juga ketika kita percaya kepada Kristus, kita menjadi mempelai Kristus. Kita tidak lagi seorang diri, tetapi kita milik Kristus. Status ini juga mengubah seluruh cara hidup kita. Kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, apa yang kita lakukan kiranya berkenan dengan pasangan kita. Seorang yang betul-betul telah memakan Kristus, beriman kepada Kristus, dia tidak pernah sendirian. Ayat 57, “Barangsiapa yang memakan Aku akan hidup oleh Aku.” Ini gambaran bagaimana sekarang kita menjalani setiap detik kehidupan kita, bukan sekedar karena kita kuat, tetapi karena Kristus yang ada di dalam kita. Galatia 2:20 mengatakan, “Namun sekarang bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Hidup yang kekal yang dijanjikan oleh Kristus itu bukan sekedar nanti setelah kita mati, tetapi sekarangpun kita menjalani hidup kita bersama Allah. Setiap hari kita mendapatkan kekuatan dariNya. Jika kita mengalami kelelahan, menghadapi konflik atau lelah berusaha menjadi orang baik, marilah hari ini kita belajar untuk berhenti mengandalkan kekuatan kita sendiri. Karena ada Kristus yang bisa menjadi sumber kekuatan hidup kita. Kita beriman kepada Kristus, memakan Kristus, kita lakukan sekali untuk selamanya. Tapi bukan berarti kita berhenti bersandar kepada Dia dan belajar datang kepada Dia setiap hari. Kita belajar lewat firman Tuhan dan doa atau juga lewat ketaatan dalam hidup ini. Karena Yesus sendiri berkata, “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Sekalipun taat itu terasa susah, justru lewat kita belajar taat, kita mendapatkan kekuatan. Dan biarlah kita juga terus menikmati Kristus sebagai Roti hidup itu lewat komunitas di mana kita akan terus melakukan perjamuan kudus. Kita terus dan terus diingatkan akan tubuh yang dipecahkan dan darah yang dicurahkan huper atau untuk kita.