Download versi cetak: 1271KebaktianPagi_2026-05-Jul_IR

Anugerah Tuhan atas Kelumpuhan Rohani Manusia

Yohanes 5:1-18

Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Di dalam beberapa minggu ini, kita mengikuti perjalanan Yesus melalui tujuh tanda yang dicatat dalam Injil Yohanes. Yohanes sendiri mengatakan bahwa Yesus melakukan banyak mukjizat, tetapi ia secara khusus memilih tujuh mukjizat ini untuk dicatat dalam Injilnya. Karena mukjizat-mukjizat tersebut bukan sekadar pertunjukan kuasa. Yohanes menyebutnya sebagai tanda, yaitu sesuatu yang menunjuk kepada sesuatu yang jauh lebih besar, yang akan mengungkapkan siapa Yesus sesungguhnya dan apa yang Ia akan lakukan bagi dunia. Kita akan membahas tanda yang ketiga dari Yohanes 5:1-18.

Kisah ini sekilas tampak seperti sebuah kisah penyembuhan biasa. Seorang yang lumpuh disembuhkan oleh Yesus. Namun, jika kita membaca bagian ini dengan teliti, kita akan menemukan bahwa fokus utama cerita ini bukanlah orang lumpuh tersebut, melainkan Yesus. Kalau kita hanya sekadar mengatakan bahwa Yesus sanggup menyembuhkan penyakit, maka kita akan kelewatan pesan yang lebih dalam. Karena Yesus hendak menunjukkan bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kelumpuhan fisik, melainkan kelumpuhan rohani. Itulah yang ingin disingkapkan Yesus melalui tanda yang ketiga ini. Penyembuhan fisik yang terjadi di sini sesungguhnya menunjuk kepada kebutuhan yang lebih mendasar, yaitu kebutuhan manusia akan pemulihan rohani.

Kejadian ini dicatat di suatu tempat yang disebut sebagai kolam Betesda, yang berarti House of Mercy. Hal ini menarik untuk diperhatikan, karena beberapa abad yang lalu, sejumlah orang liberal menggunakan bagian ini untuk menuduh bahwa Alkitab itu tidak bisa dipercaya. Mereka berpendapat bahwa tidak mungkin ada sebuah kolam dengan lima serambi dan menurut mereka penulis Injil Yohanes tidak mengerti arkeologi pada zaman Yesus. Karena untuk sebuah kolam untuk memiliki lima serambi, maka kolam itu harus berbentuk pentagon.Orang liberal mengatakan bahwa zaman itu tidak ada kolam yang bentuknya pentagon. Kolam pada zaman itu bentuknya persegi. Maka tidak mungkin ada lima sisi atau lima serambi. Namun, di abad ke-19, arkeolog menemukan bahwa kolam Betesda ternyata berbentuk persegi, tetapi dengan lima serambi. Yaitu ternyata ada kolam yang kembar. Ada dua kolam yang disekat oleh satu serambi di bagian tengah.

Ini menjadi salah satu contoh bagaimana sering kali orang liberal menyatakan bahwa Alkitab tidak akurat, tetapi ini justru membuktikan bahwa Injil Yohanes memang ditulis oleh orang yang hidup pada jaman itu. Karena setelah jaman Tuhan Yesus, Yerusalem diserang, dihancurkan, dan kolam ini tidak ada lagi. Hal ini bukan saja menarik untuk kita bahwa kita bisa membuktikan akurasi Alkitab, tetapi ini menunjukkan bahwa iman Kristen, keselamatan yang kita miliki bukanlah sesuatu yang berdasarkan dongeng. Bukan sesuatu yang sekadar berdasarkan ajaran moral. Namun keselamatan orang Kristen terletak di atas apa yang Yesus lakukan di dalam sejarah.

Alkitab mengatakan bahwa di kolam Betesda itu berkumpul banyak orang sakit: orang buta, orang timpang, dan orang lumpuh. Ini menjadi gambaran manusia yang benar-benar tidak berdaya. Bayangkan suasana di Kolam Betesda dengan lima serambinya. Tempat itu dipenuhi orang yang menderita, masing-masing membawa beban dan penderitaannya sendiri. mereka semua memiliki satu pengharapan yang sama. Mereka menantikan saat air kolam itu berguncang, ada kepercayaan bahwa siapa pun yang pertama kali masuk ke dalam kolam setelah air itu berguncang akan memperoleh kesembuhan.

Di tepi kolam ini kita melihat kondisi manusia yang begitu tidak berdaya. Tapi bukan hanya itu, kita melihat bagaimana cara pikir mereka itu sangat salah. Mereka tidak mengerti melihat fenomena alam yang terjadi di kolam itu. Mungkin memang ada kejadian orang yang turun ke dalam kolam itu, lalu menjadi sembuh. Namun, orang-orang berpikir pasti ada sesuatu yang supernatural terjadi. Sehingga dikatakan bahwa ada malaikat Tuhan yang lagi datang. Di satu sisi, kolam ini menjadi tempat yang penuh harapan, tetapi juga mungkin tempat yang menipu cara pikir manusia. Akhirnya juga menjadi tempat yang penuh dengan keputusasaan. Karena di katakan ada sejumlah besar orang sakit, tetapi setiap kali air itu bergolak, hanya satu orang yang kemungkinan disembuhkan.

Menarik kemudian ketika Yesus datang, Yesus datang menyembuhkan satu orang saja, bukan semua orang. Kenapa demikian? Karena Yohanes tidak sedang menceritakan program KKR kesembuhan masal. Dia sedang memperkenalkan siapa juru selamat dunia. Dan orang lumpuh ini adalah gambaran tentang kita semua. Di hadapan Allah, kita adalah orang-orang yang tidak berdaya. Mungkin baik secara fisik, tetapi secara rohani kita sama seperti orang lumpuh ini, orang-orang yang tidak berdaya. Di bagian ini kita juga melihat sebuah kontras dengan tanda kedua yang telah kita bahas minggu lalu. Pada tanda kedua, pegawai istana itu yang terlebih dahulu mencari Yesus. Yesus kemudian hanya memberikan sebuah janji, “Pergilah, anakmu hidup.” Pegawai istana itu percaya kepada perkataan Yesus bahkan sebelum ia melihat sendiri bahwa anaknya benar-benar telah sembuh. Namun, dalam tanda ketiga ini, Yesus yang terlebih dahulu datang kepada orang lumpuh ini. Orang lumpuh itu tidak mencari Yesus, dia bahkan tidak tahu siapa itu Yesus. Kita akan memperhatikan tiga perkataan yang Yesus sampaikan kepada orang lumpuh ini dan melihat bagaimana Yesus menyelamatkan orang berdosa melalui tiga perkataan ini.

Yang pertama, dalam ayat 5–7 kita melihat perkataan Yesus, “Maukah engkau sembuh?” Sepertinya Tuhan sedang bertanya sesuatu yang sangat obvious. Orang ini sudah lumpuh selama 38 tahun. Kita tidak tahu berapa lama dia sudah menunggu di kolam Betesda, mungkin sudah bertahun-tahun. Menantikan setiap hari, setiap jam, kapan kolam itu akan bergelombang dan kapan dia bisa jadi yang pertama masuk ke dalam kolam itu.  Kita mungkin merasa bahwa pertanyaan Yesus ini bukan saja terlalu obvious, tetapi bahkan tidak peka. Namun, yang bertanya kepada orang lumpuh itu adalah Tuhan pencipta langit dan bumi. Maka kita harus percaya pasti ada sesuatu yang lebih dalam, yang Yesus mengajak orang itu untuk berpikir dan melihat isi hatinya sendiri. Pertanyaan Yesus selalu lebih dalam dari apa yang terlihat dari permukaan.

Orang lumpuh ini kemudian menjawab dengan keluh kesahnya. “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Di dalam jawaban ini, kita bisa melihat ada beberapa masalah. Pertama, kita melihat orang ini seperti ada mentalitas victim yang selalu menyalahkan orang lain dan situasi. Fokus orang ini sekarang berpindah dari mau sembuh menjadi yang pertama masuk ke dalam kolam ketika airnya berguncang. Dia berpikir kalau dia bisa mengalami itu, maka barulah dia mendapatkan hidup yang terberkati. Orang ini melihat kolam itu menjadi sesuatu yang paling penting. Ketika dia tidak bisa perform well enough untuk mendapatkan hal itu, hidupnya menjadi sangat miserable. Jadi sepertinya orang lumpuh ini tidak lagi fokus tentang kesembuhan, tetapi dia berfokus hanya ingin jadi yang pertama. Bahkan yang menjadi masalah yang lebih parah bagi orang ini adalah dia tidak melihat siapa yang di hadapannya. Dia tidak melihat Yesus sebagai yang bisa memberikan kesembuhan sejati.

Dia berharap supaya Yesus mungkin membantu dia untuk menjadi yang pertama masuk ke dalam kolam itu. Orang ini fokusnya hanya ke kolam itu. Terkadang kita juga seperti orang ini. Kita berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menolong kita. Namun, yang kita inginkan bukan Tuhan itu sendiri. Kita minta Tuhan tolong kita supaya mendapatkan ini dan itu. Kita hanya menjadikan Yesus sebagai alat. Kita mencari, kita fokus kepada kolam Betesda kita masing-masing. Kolam yang kita pikir kalau kita dapatkan, maka hidup kita bahagia dan Yesus hanyalah alat yang kita pakai untuk mendapatkan hal itu. Inilah tragedi manusia. Orang lumpuh ini tidak melihat Yesus sebagai keselamatannya. Dia hanya ingin Yesus membantunya memperoleh apa yang dia pikir adalah keselamatan baginya. Padahal Yesus ingin berkata bahwa Dia bukanlah sekedar penolong menuju keselamatan. Dialah keselamatan itu. Di dalam peristiwa ini, orang lumpuh ini salah berharap dan dia juga tidak berdaya.

Ini juga adalah gambaran kondisi kerohanian kita. Sering kali kita menganggap diri kita itu sekedar kurang baik. Namun, Alkitab mengatakan kita bukanlah orang yang kurang baik, kita bukan sekadar orang yang sakit. Kita adalah orang-orang yang mati di dalam dosa. Orang yang sudah mati tidak bisa menghidupkan dirinya sendiri. Orang lumpuh tidak bisa mengangkat dirinya sendiri. Orang berdosa tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Sering kali sebagai orang modern, kita mendengarkan perkataan yang mungkin membuat kita merasa inspired. Perkataan yang mengatakan, “Believe in Yourself”, “Maksimalkan potensimu. Jangan menyerah!”, dan seterusnya. Kalimat-kalimat itu mungkin berguna dan baik dalam konteks tertentu. Namun sama sekali tidak berlaku untuk keselamatan. Di hadapan Allah, usaha sebesar apa pun tidak akan pernah cukup. Sebaik apa pun moral kita, sesaleh apa pun agama kita, serajin apa pun pelayanan kita, tidak akan cukup. Karena problem kita bukan kita kurang bisa, tetapi kita sama sekali memang tidak bisa.

Dalam keadaan seperti ini, ada satu hal yang indah yang tercatat di dalam kisah ini. Orang lumpuh ini tidak memanggil Yesus sama sekali, dia tidak mencari Yesus, dan dia bahkan tidak tahu siapa Yesus. Justru Yesus yang datang menghampiri dia. Inilah salah satu inti dari Injil. Anugerah itu sesuatu yang selalu dimulai dari sisi Allah. Bukan kita yang mencari Allah, tetapi Allah yang mencari kita. Tanpa Kristus yang terlebih dahulu datang mencari kita, kita tidak mungkin mencari Yesus. Kita akan terus mencari kolam Betesda kita. Bahkan sekarang di antara kita yang sudah mengenal Kristus pun, mungkin terkadang kita masih berfokus kepada kolam Betesda kita masing-masing. Apa yang selama ini kita pikir, kalau kita bisa mendapatkan hal itu, kita pasti bahagia? Itu semua bisa jadi berkat dari Tuhan, tetapi berkat Tuhan terkadang bisa menjadi kolam Betesda kita. Yesus sekedar seseorang yang bisa menolong kita mendapatkan hal itu. Namun, hari ini kita harus belajar untuk menjadikan Yesus yang paling penting dalam hidup kita dan kita tidak mungkin bisa melakukan hal ini, kalau Tuhan tidak beranugerah. Maka mari kita minta Tuhan tolong nyatakan diri-Nya kepada kita, supaya kita betul-betul menjadi sembuh.

Kalimat kedua Yesus kepada orang lumpuh ini tercatat di dalam ayat ke-8 sampai ayat ke-13. “Bangunlah, angkatlah tilammu, dan berjalanlah.” Yesus bukan lagi bertanya, Yesus mem-proclaim sesuatu. Yesus sama sekali tidak menggubris permintaan orang lumpuh itu. Di sini letak keindahan Injil. Yesus tidak membiarkan orang itu mendapatkan apa yang dia pikir bisa menyelamatkan, tetapi Dia menunjukkan bahwa Dialah keselamatan itu sendiri. Yesus sama sekali tidak menyentuh air kolam itu. Yesus hanya mengatakan bangun dan pada saat itu juga, orang lumpuh itu bangun. Kaki yang selama 38 tahun itu tidak berfungsi, tiba-tiba menjadi kuat. Karena firman dan perkataan Kristus itu mempunyai kuasa menciptakan kehidupan. Ini bukanlah sekadar mukjizat. Ini adalah tanda. Tanda bahwa hanya Yesus yang memiliki kuasa untuk memberikan hidup kepada kita yang tidak berdaya. Kata “bangunlah” di ayat ke-8 ini bahasa Yunaninya ituγειρε (egeire).” Itu nanti akan dipakai di ayat ke-21 yang mengatakan, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya.” Kata “membangkitkan” memakai kata yang sama seperti “bangunlah”. Mukjizat ini hanyalah gambaran kecil dari kehidupan rohani baru yang Yesus berikan kepada orang berdosa.

Kalau kita membaca kisah ini dengan jujur, orang yang lumpuh yang Yesus pilih ini, adalah orang yang sebetulnya agak menyebalkan. Kalau kita bandingkan dengan banyak kisah penyembuhan lain, orang-orang yang disembuhkan Yesus biasanya adalah orang yang datang dengan iman. Orang ini berbeda, dia sama sekali tidak minta disembuhkan. Sesudah Yesus sembuhkan dia pun, orang ini juga tidak mencari Yesus atau berterima kasih kepada Yesus. Justru orang ini melaporkan Yesus kepada para pemimpin Yahudi. Sekali lagi di sinilah letak Injil. Yesus tidak memilih berdasarkan kelayakan, tetapi betul-betul anugerah-Nya. Orang ini, bukan saja tidak mampu untuk mendapatkan keselamatan, bahkan kita bisa mengatakan orang ini tidak layak untuk diselamatkan. Namun, Yesus memilih dia, Yesus mengasihi dia, dan Yesus memberikan kepada dia kuasa hidup.

Demikian juga halnya dengan kita. Kalau Tuhan menunggu sampai kita layak, tidak ada dari kita yang akan diselamatkan. Kalau Tuhan menunggu sampai kita cukup baik, tidak ada satu pun dari kita yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah. Keselamatan bukan hadiah bagi orang baik. Keselamatan adalah anugerah bagi orang berdosa dan orang yang tidak layak. Maka kita harus belajar untuk rendah hati. Kita diselamatkan betul-betul karena anugerah Tuhan dan bukan karena kita cukup baik. Maka kita seharusnya tidak membandingkan diri dengan orang lain, karena kalau bukan karena Kristus, kita sama-sama lumpuh. Di satu sisi ini seharusnya memberikan kita penghiburan, karena mungkin di antara kita banyak yang merasa hidupnya terlalu rusak sudah beyond salvation. Namun, di sisi yang lain, kisah ini juga harus menjadi cermin bagi kita yang sudah lama jadi orang Kristen. Masih ingatkah bahwa kalau kita bisa menjadi orang Kristen yang cukup baik sekarang, itu semata-mata hanya anugerah? Karena kecenderungan kita sebagai manusia berdosa, setelah sudah cukup lama hidup dalam anugerah Tuhan dan mengalami banyak hal yang baik, kita bisa menjadi seperti para pemimpin Yahudi. Ketika mereka melihat ada orang yang lumpuh selama 38 tahun disembuhkan, fokusnya adalah kepada tilam yang diangkat pada hari Sabat. Orang-orang yang juga sebetulnya tidak jauh berbeda sama orang lumpuh ini beberapa momen yang lalu. Orang lumpuh ini pikir kalau aku bisa yang nomor satu masuk ke kolam itu, maka aku akan diselamatkan. Orang Farisi ini berpikir, kalau aku menjalankan hukum paling saleh, paling benar, aku akan diselamatkan. Maka kesalahan ini bukan hanya untuk orang yang percaya pada hal-hal takhayul. Namun, juga bisa menjadi bahaya bagi setiap kita yang sudah lama menjadi orang Kristen. Kita somehow berpikir bahwa kita adalah orang yang pantas dicintai Tuhan dan kita diselamatkan Tuhan karena kita cukup baik. Sedemikian rupa kita percaya hal itu sampai ketika ada orang berdosa baru diselamatkan, kita berfokus bahwa orang itu tidak cukup baik. Kita lupa untuk merayakan anugerah Tuhan. Salah satu ciri dari orang yang lupa bahwa dia hidup karena anugerah Tuhan adalah ketika orang itu tidak lagi bisa mengagumi kuasa Yesus yang membangkitkan orang lumpuh, tetapi berfokus kepada hal-hal yang legalistik.

Kalau tujuan Yesus hanya membuat orang lumpuh itu berjalan, cerita ini seharusnya selesai di ayat ke-9. Namun, cerita ini masih berlanjut. Yesus sengaja mencari orang ini sekali lagi. Karena bagi Yesus, kaki yang sembuh itu bukanlah tujuan utama dari keselamatan. Yang Yesus inginkan adalah hati yang dikuduskan. Maka kita melihat perkataan Yesus yang ketiga, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Kalimat ini yang membawa kita kepada tujuan akhir dari anugerah keselamatan. Bukan sekedar hidup yang dipulihkan, tetapi hidup yang diubahkan. Yesus seperti menyatakan dengan tidak langsung, bagaimana orang ini mungkin dulu hidupnya penuh dengan dosa sehingga dia mengalami kelumpuhan. Ada sesuatu yang lebih parah daripada kaki lumpuh. Ada sesuatu yang lebih mengerikan daripada lumpuh selama 38 tahun, yaitu hidup dengan badan yang sehat, tetapi hidup dalam dosa. Orang ini telah menerima anugerah hidup yang begitu besar. Yesus memanggil dia untuk sekarang memakai hidupnya sebagai sesuatu yang lebih baik dan lebih indah. Kesembuhan jasmani bukanlah tujuan akhir. Karena kalau sembuh secara jasmani, tetapi tidak bertobat itu justru lebih parah daripada sakit. Yang lebih penting bagi Yesus adalah hati yang bertobat.

Sayangnya, respons dari orang ini cukup menyedihkan. Setelah Yesus mengatakan demikian, dikatakan orang itu pergi memberitahukan kepada orang Yahudi bahwa Yesus yang menyembuhkan dia. Kita sama sekali tidak melihat ucapan syukur, tidak ada bentuk iman, kepercayaan, kasih, apalagi penyembahan kepada Yesus. Seolah-olah dia menyalahkan Yesus yang menyuruh dia mengangkat tilamnya pada hari Sabat. Orang ini kasihan sekali, di dalam keadaan sakit, dia menyalahkan orang lain. Di dalam keadaan sembuh, dia tetap menyalahkan orang lain. Apalagi setelah dia menerima mukjizat dari Allah pencipta langit dan bumi. Dia merasakan pemberian Tuhan itu, tetapi dia sama sekali tidak mengenali dan mengasihi pemberi anugerah itu.

Inilah yang akan terjadi kalau kita terlalu fokus kepada kolam Betesda kita. Doa kita isinya hanya minta ini dan minta itu. Setelah kita dapatkan hal yang kita minta, kita akan melupakan Tuhan. Kita bahkan mungkin salahkan Tuhan untuk hal-hal yang lain. Inilah yang terjadi kalau kita sekedar mencari tangan Tuhan yang memberikan berkat, tetapi tidak mencari wajah Tuhan. Tuhan memberikan anugerah-Nya bahkan kepada orang seperti ini. Terkadang kita berdoa dengan keegoisan yang begitu besar, Tuhan juga kasih. Namun biarlah kisah ini menjadi peringatan bagi kita. Berbagai anugerah yang Tuhan telah berikan bagi kita, jangan sampai itu membuat kita jatuh dalam kondisi yang lebih parah. Mari kita syukuri anugerah Allah dan kita hidupkan anugerah semua itu dengan takut dan gentar di hadapan Tuhan.

Kita telah melihat tiga perkataan Yesus kepada orang lumpuh ini. Pertama Dia mengatakan, “Maukah engkau sembuh?” Di sini Yesus membongkar cara pikir kita yang salah dan ke tidak berdayakan kita. Kita bersyukur Tuhan tidak membiarkan kita dalam keadaan seperti itu. Kemudian Yesus mengatakan, “Bangun, angkat tilammu dan berjalan.” Dengan firman-Nya Dia memberikan anugerah kepada kita. Namun biarlah kita tidak berhenti di situ dan mendengarkan perkataan yang ketiga, “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi.” Kasih karunia tidak berhenti pada pengampunan saja. Anugerah Tuhan harus mengubah hidup kita, membuat kita meninggalkan dosa, dan membentuk kita makin serupa dengan Kristus. Kiranya setiap kita tidak menjadi seperti orang lumpuh ini yang menerima berkat Tuhan yang begitu banyak, tetapi tidak mengenali sang pemberi berkat. Mari kita mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita lumpuh secara rohani. Mari kita menerima anugerah yang Dia berikan itu. Dan biarlah oleh kuasa yang sama yang membangkitkan orang lumpuh itu, kita berjalan setiap hari dalam hidup yang kudus bagi kemuliaan Tuhan.

Ketika kita membaca kisah ini, sekali lagi jangan berhenti kepada mukjizat. Lihatlah ke mana kisah ini membawa kita. Dalam pasal kelima Injil Yohanes, ada satu pergeseran yang terjadi. Kalau di dalam pasal 1 sampai 4 dinyatakan bahwa Yesus diterima dengan baik, tetapi mulai dari pasal kelima ini, Yesus diperlakukan dengan tidak baik. Sesudah orang lumpuh itu disembuhkan, dikatakan orang Yahudi itu mulai menganiaya Yesus bahkan berusaha membunuh dia. Kenapa demikian? Simply karena Yesus memilih untuk mengasihi orang yang tidak pantas ini. Karena Yesus memilih untuk memberikan hidup dan keselamatan bagi orang ini. Karena Yesus memilih untuk menyatakan diri sebagai Anak Allah. Artinya sejak pasal ini, bayang-bayang salib mulai terlihat. Kisah ini sangat ironis, orang lumpuh yang menyebalkan ini, dia pulang dengan memikul tilamnya. Sedangkan Yesus berjalan menuju Golgota untuk memikul salib-Nya. Orang lumpuh ini mendapatkan hidup yang baru, hidup yang secara fisik sembuh. Sedangkan Yesus sedang berjalan menuju kematian-Nya. Kenapa demikian? Karena pada akhirnya kelumpuhan terbesar manusia bukanlah kelumpuhan fisik, tetapi kelumpuhan hati. Masalah terbesar manusia bukanlah penderitaan, tetapi dosa. Dosa tidak bisa diselesaikan sekadar dengan mukjizat seperti ini. Dosa hanya bisa diselesaikan dengan salib Kristus. Di kayu salib Yesus menanggung sesuatu yang lebih buruk yang seharusnya menimpa kita yang terus hidup dalam dosa Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk. Yang lebih buruk itu terjadi kepada Yesus. Dia menanggung murka Tuhan supaya setiap kita yang percaya kepada-Nya betul-betul mendapatkan hidup yang baru. Inilah mengapa mukjizat yang dicatat oleh Injil Yohanes disebut sebagai tanda. Karena ini menunjukkan bahwa kesembuhan orang lumpuh ini menunjukkan keselamatan yang Kristus kerjakan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Tiga perkataan Yesus kepada orang lumpuh itu, hari ini juga diberikan kepada kita. Dan tiga perkataan itu hanya mungkin kita hidupkan karena ada satu perkataan terakhir dari Yesus di atas kayu salib. Yesus mengatakan, “sudah selesai.” Karena karya keselamatan-Nya sudah selesai, kita tidak lagi menaati Tuhan untuk mendapatkan keselamatan, tetapi sebaliknya kita yang telah diselamatkan oleh anugerah, maka mari kita hidup di dalam kekudusan. Amin.

Close
Close Search Window